Kabarmasjid.id, Surabaya – Fenomena keberagamaan sering kali terjebak pada rutinitas formalitas yang kehilangan ruhnya. Di tengah hiruk-pikuk persiapan menyambut bulan suci, muncul sebuah refleksi mendalam mengenai akar sejarah dan substansi puasa yang melampaui sekat-sekat dogmatis. Tulisan ini merangkum esensi ibadah menahan diri tersebut melalui kacamata sejarah dan teologi yang mencerahkan.
Kajian menjelang berbuka puasa ini menghadirkan pakar filologi dan sejarah agama, Ustadz Menachem Ali. Acara yang berlangsung khidmat ini diselenggarakan pada Minggu, 1 Maret 2026, bertempat di Masjid Al Falah, Surabaya, dengan dihadiri oleh jemaah umum serta komunitas mualaf dari Mualaf Center Al Falah.
Dalam paparannya, Ustadz Menachem menekankan bahwa puasa adalah sebuah “ibadah rahasia” yang paling personal antara seorang hamba dengan Sang Pencipta. Berbeda dengan ibadah lain yang memiliki takaran pahala yang jelas secara kuantitatif dalam dalil, puasa menjadi satu-satunya ibadah yang nilainya hanya diketahui oleh Allah sendiri. Kerahasiaan ini menuntut kejujuran spiritual yang tinggi dari setiap pelakunya.
Beliau juga mengingatkan agar umat Islam tidak terjebak dalam “puasa gagal” yang hanya membuahkan rasa lapar dan dahaga. Mengutip peringatan Nabi, puasa yang hanya bersifat biologis—yakni sekadar menahan lapar—tidak akan memberikan dampak transformatif bagi jiwa. Puasa semacam ini dianggap kehilangan esensi karena tidak mampu mengubah perilaku sosial dan moral pelakunya.
Substansi puasa yang sebenarnya adalah berhenti dari segala aktivitas yang tidak diridai oleh Allah, baik dalam bentuk pikiran, lisan, maupun tindakan. Ustadz Menachem menegaskan bahwa sangat ironis jika seseorang sanggup menahan lapar selama belasan jam, namun di saat yang sama tetap melakukan kezaliman kepada orang lain. Puasa harusnya menjadi rem bagi ego dan nafsu untuk menyakiti sesama.
Lebih dalam lagi, Ustadz Menachem membedah dimensi sosial dari kesalehan. Beliau menekankan bahwa puasa yang benar seharusnya melahirkan sensitivitas terhadap keadilan. Jika seorang pejabat atau tokoh publik menampakkan kesalehan ritual seperti puasa namun tetap membiarkan kezaliman sistemik terjadi, maka kesalehan tersebut hanyalah topeng yang tidak memiliki nilai di hadapan Tuhan.
Menariknya, kajian ini juga menyasar kegelisahan intelektual Generasi Z yang kerap menuntut bukti data konkret dalam beragama. Ustadz Menachem menjelaskan bahwa pernyataan Al-Qur’an tentang puasa yang juga diwajibkan bagi umat terdahulu bukanlah sekadar klaim teologis. Beliau memaparkan bukti historis dari temuan arkeologis yang memvalidasi kebenaran ayat suci tersebut secara ilmiah.
Salah satu bukti autentik yang dipaparkan adalah keberadaan Naskah Laut Mati (Dead Sea Scrolls) yang berasal dari abad ketiga sebelum Masehi. Dalam manuskrip kuno tersebut, tepatnya pada Kitab Yeremia pasal 36 ayat 9, ditemukan perintah untuk menguduskan bulan kesembilan dengan berpuasa. Fakta ini secara mengejutkan selaras dengan posisi Ramadhan sebagai bulan kesembilan dalam kalender Hijriah.
Keselarasan data sejarah ini membuktikan bahwa puasa adalah tradisi universal yang telah mengakar dalam keluarga agama-agama Ibrahimiyah jauh sebelum Al-Qur’an diturunkan. Allah sengaja menjaga “barang bukti” sejarah ini agar manusia modern dapat memverifikasi kebenaran wahyu melalui nalar dan data yang valid, bukan sekadar doktrin kosong tanpa dasar yang kuat.
Selain data tekstual, Ustadz Menachem mencontohkan bagaimana Allah menjaga bukti fisik melalui jasad Firaun yang berkaitan dengan zaman Nabi Musa. Beliau menjelaskan bahwa keberadaan larutan garam pada jasad tersebut merupakan bukti arkeologis yang mendukung narasi kitab suci. Hal ini memperkuat argumen bahwa agama Islam adalah agama yang sangat menghargai validitas data dan fakta sejarah.
Lebih jauh, kajian ini membedah etimologi kata “puasa” di Nusantara yang berasal dari bahasa Sansekerta, Upavasa. Penggunaan istilah ini menunjukkan kearifan lokal para penyebar Islam terdahulu yang tidak menghapus tradisi lama, melainkan menyempurnakannya dengan nilai-nilai tauhid. Di Jawa, istilah “siam” (dari bahasa Arab) bahkan diserap menjadi bahasa kromo inggil untuk menghormati kemuliaan ibadah tersebut.
Ustadz Menachem juga menyoroti kemiripan tradisi puasa di berbagai agama lain, mulai dari Hindu, Buddha, hingga Kristen Katolik dan Ortodoks. Meskipun tata caranya berbeda, semangat utamanya tetap sama: pengendalian diri. Pemahaman akan universalitas puasa ini diharapkan dapat menumbuhkan rasa persaudaraan antarmanusia yang lebih kuat di tengah keberagaman keyakinan.

Di bagian akhir, beliau memberikan pesan kuat mengenai pentingnya toleransi terhadap perbedaan teknis dalam beribadah, seperti perbedaan penentuan awal Ramadhan. Beliau membandingkan umat Katolik dan Ortodoks yang memiliki selisih waktu puasa hingga dua minggu namun tetap mampu menjaga harmoni. Hal ini menjadi sindiran halus bagi umat yang sering bersitegang hanya karena perbedaan waktu satu hari.
Sebagai penutup, kajian ini menyimpulkan bahwa hakikat puasa adalah menghadirkan Allah dalam setiap helaan napas dan aktivitas kehidupan. Dengan merasakan pengawasan Tuhan secara terus-menerus, seseorang akan mencapai derajat takwa yang sesungguhnya. Semoga puasa tahun ini tidak hanya sekadar ritual menahan haus, melainkan perjalanan mendaki menuju makam spiritual yang lebih tinggi.
Sumber: Kajian Menjelang Berbuka Masjid Al Falah Surabaya Bersama Ustadz Menachem Ali dengan tema “Puasa dalam Tradisi Agama ibrahimiyah”