Ruqyah Mandiri Holistik: Menemukan Akar Kesembuhan Lewat Perbaikan Takwa

Ustadz Abu Rahma
Ustadz Abu Rahma

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Surabaya – Seringkali kita merasa hidup begitu berat, dihantam berbagai persoalan mulai dari kesehatan yang menurun hingga konflik rumah tangga yang tak kunjung usai. Banyak yang mencari kesembuhan melalui jalur pengobatan alternatif atau ruqyah, namun gangguan tersebut kerap datang kembali. Ternyata, kunci utama kesembuhan bukan hanya pada teknis pengobatan, melainkan pada akar masalah yang ada dalam diri kita sendiri.

Kajian bertajuk “Ruqyah Mandiri Holistik” ini menghadirkan Ustadz Abu Rahma yang diselenggarakan pada hari Minggu, 1 Maret 2026, bertempat di Masjid Al Falah Surabaya. Dalam pemaparannya, beliau menekankan bahwa ruqyah yang menyeluruh bukan sekadar membacakan ayat suci ke dalam air, melainkan sebuah proses transformasi diri untuk memperbaiki hubungan dengan Sang Pencipta.

Ustadz Abu Rahma menjelaskan prinsip dasar ruqyah berdasarkan Surah Asy-Syura ayat 30, yang menegaskan bahwa segala musibah adalah akibat dari perbuatan tangan manusia sendiri. Gangguan jin atau ketidakteraturan hidup dianggap sebagai sebuah “akibat”, sementara “sebab” utamanya adalah dosa. Oleh karena itu, menyelesaikan masalah tanpa membereskan dosa diibaratkan seperti mengobati luka tanpa mencabut durinya.

Beliau menyoroti fenomena masyarakat yang terlalu sibuk dengan teknis ruqyah mandiri, namun tidak fokus menutup pintu masuknya gangguan tersebut. Dosa-dosa, baik yang besar maupun kecil, merupakan pintu masuk bagi setan ke dalam kehidupan manusia. Selama pintu dosa tersebut tetap terbuka melalui kemaksiatan atau kezaliman, maka terapi ruqyah jenis apa pun tidak akan memberikan hasil yang permanen.

Menariknya, Ustadz Abu Rahma menyebutkan bahwa ruqyah mandiri yang paling efektif dan teruji adalah dengan giat belajar ilmu agama yang syar’i. Dengan mengikuti kajian ilmu secara rutin, seseorang secara tidak langsung sedang melakukan terapi pada jiwanya. Ilmu yang benar akan menjadi perisai yang mencegah setan untuk kembali masuk dan mengganggu stabilitas emosi maupun fisik seseorang.

Dalam aspek hubungan manusia, Ustadz Abu Rahma mengingatkan para jamaah, khususnya ibu-ibu, untuk memperbaiki hubungan dengan suami. Beliau menegaskan bahwa zalim kepada pasangan merupakan pintu masuk setan yang sangat lebar. Meminta maaf dan memperbaiki cara berkomunikasi dengan suami adalah bagian dari “ruqyah holistik” yang seringkali terlupakan oleh banyak orang.

Selain hubungan antarmanusia, kebersihan akidah menjadi poin yang sangat krusial dalam kajian ini. Beliau meminta jamaah untuk memeriksa kembali apakah masih ada kesyirikan yang terselip di hati, seperti percaya pada ramalan zodiak atau menggunakan jimat. Kesyirikan adalah penghalang utama pertolongan Allah dan membuat setan merasa “betah” mendiami kehidupan seseorang.

Kajian ini juga menyentuh aspek lingkungan tempat tinggal sebagai bagian dari proses penyembuhan. Rumah harus dibersihkan dari benda-benda yang dilarang agama, seperti patung atau gambar makhluk bernyawa, yang dapat menghalangi masuknya malaikat rahmat. Rumah yang sering digunakan untuk ibadah dan dibacakan Surah Al-Baqarah secara otomatis akan menjadi lingkungan yang panas bagi gangguan jin.

Mengenai ibadah wajib, perbaikan kualitas salat menjadi syarat mutlak dalam ruqyah holistik ini. Salat tidak boleh hanya sekadar menggugurkan kewajiban, tetapi harus diupayakan tepat waktu dan sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad SAW. Dengan salat yang benar, seseorang akan mendapatkan benteng perlindungan yang kuat langsung dari Allah SWT.

Pentingnya menjaga panca indra juga ditekankan sebagai upaya preventif. Mata, telinga, dan lisan adalah alat yang sering digunakan untuk memupuk dosa baru. Dengan membatasi tontonan yang tidak bermanfaat dan menjauhi gibah, energi positif dalam diri akan terjaga, sehingga proses pembersihan jiwa melalui ruqyah dapat berjalan dengan lebih maksimal.

Ustadz Abu Rahma mengajak jamaah untuk memiliki pemahaman yang benar mengenai takdir Allah. Beliau menjelaskan bahwa semua peristiwa dalam hidup, termasuk pertemuan dengan orang-orang yang menyebalkan, adalah alat uji dari Allah. Orang yang berilmu akan menghadapi ujian dengan senyuman karena tahu itu adalah cara Allah menggugurkan dosa, sementara yang tidak berilmu akan terus merasa menderita.

Beliau juga membedah rukun iman keenam, yakni iman kepada qada dan qadar, sebagai landasan mental yang kuat. Yakin bahwa segala sesuatu sudah tertulis di Lauhul Mahfuz sejak 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi akan memberikan ketenangan luar biasa. Ketenangan inilah yang secara medis dan spiritual sangat mendukung kesembuhan dari berbagai macam penyakit fisik maupun gangguan psikis.

Setiap ujian, baik berupa kesenangan maupun kesusahan, pada hakikatnya adalah cobaan untuk melihat sejauh mana kesabaran dan kesyukuran kita. Beliau menegaskan bahwa Allah tidak akan membebani hamba-Nya di luar batas kemampuan. Jika kita merasa berat, itu menandakan kita perlu memperdalam ilmu agama agar memiliki kapasitas yang lebih besar dalam menghadapi skenario hidup.

Sebagai penutup, Ustadz Abu Rahma mengingatkan bahwa kehidupan dunia hanyalah kesenangan sementara, sedangkan akhirat adalah negeri yang kekal. Fokus utama seorang muslim haruslah menyelamatkan diri dan keluarga dari api neraka. Dengan menerapkan prinsip takwa dan rida terhadap takdir, maka ruqyah mandiri akan terjadi secara alami dalam setiap helaan napas seorang hamba.

Sumber: Kajian Muslimah Masjid Al Akbar Surabaya Bersama Ustadz Abu Rahma yang membahas tentang Ruqyah Mandiri Holistik.

E-Buletin