Kabarmasjid.id, Surabaya – Di tengah dinamika dan riuk pikuk kehidupan modern yang serba cepat, rasa tenang serta kedamaian pikiran menjadi barang mahal yang senantiasa dicari oleh setiap manusia. Banyak orang terjebak dalam rasa cemas dan tekanan emosional karena terlalu bergantung pada ekspektasi duniawi yang acap kali tidak berjalan sesuai rencana. Untuk menjawab dahaga spiritual tersebut, kajian subuh pada Minggu, 19 Juli 2026 di Masjid Nurul Iman, Komplek Margorejo Indah, Surabaya, menghadirkan Dr. KH. Syukron Djazilan Badri, M.Ag. yang mengupas tuntas resep Islam dalam mewujudkan kehidupan yang adem, tentram, dan penuh keberkahan.
Mengawali tausiyahnya, Kiai Syukron menegaskan bahwa nikmat sehat dan kesempatan untuk melangkahkan kaki berilmu serta beribadah Subuh berjamaah adalah karunia besar yang wajib disyukuri. Beliau mengingatkan jamaah bahwa untuk meraih kehidupan yang tenteram, Al-Qur’an telah memberikan petunjuk konkret melalui Surah Ali ‘Imran ayat 134. Dalam ayat tersebut, Allah SWT merumuskan tiga konsep utama yang harus dipraktikkan oleh setiap muslim agar hatinya senantiasa diliputi kedamaian dan terhindar dari rasa gelisah.
Konsep pertama yang dijabarkan adalah kebiasaan untuk senantiasa menebar manfaat dan kebaikan kepada sesama dalam segala kondisi, baik di saat lapang maupun sempit. Kiai Syukron mengimbau jamaah agar memiliki jiwa memberi serta berbagi, bukan justru membiasakan diri menjadi pihak yang selalu meminta atau menggantungkan nasib kepada orang lain. Kebergantungan pada makhluk hanya akan melahirkan kekecewaan, sementara mentalitas memberi akan mendatangkan kelapangan jiwa yang sejati.
Sebagai gambaran nyata, beliau mencontohkan peran luhur orang tua yang selama puluhan tahun tak lelah menjadi pemberi utama bagi anak-anaknya. Mulai dari mengasuh, merawat saat sakit, membiayai pendidikan, hingga mengantarkan mereka ke jenjang pernikahan, orang tua melakoni peran tersebut dengan keikhlasan. Sifat suka memberi inilah yang menjadi kunci utama mengapa memberi senantiasa mendatangkan kebahagiaan dan ketenangan batin yang tiada tara.
Kendati demikian, Kiai Syukron juga memberikan catatan penting terkait godaan rasa kecewa ketika kebaikan yang diberikan tidak mendapat balasan setimpal. Beliau mengingatkan agar jiwa memberi tersebut tidak dicemari oleh harapan mendapat balasan dari manusia, termasuk dari anak sendiri. Jika niat awal memberi sudah ditancapkan semata-mata karena Allah SWT, maka ketika balasan manusia tidak kunjung datang, hati tidak akan pernah merasa bersedih ataupun terganggu.
Memasuki konsep kedua, Kiai Syukron menekankan pentingnya kemampuan menahan amarah dan mengendalikan emosi dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Marah merupakan letupan emosi yang bersumber dari dorongan setan, sehingga orang yang mengumbar amarah hanya akan merusak keindahan diri dan mengikis kedamaian jiwanya. Sebaliknya, orang yang mampu menahan amarah akan dianugerahi sifat sabar yang menjadi benteng terkuat dalam menghadapi berbagai ujian hidup.
Lebih lanjut, beliau menyampaikan pesan mendalam mengenai keutamaan orang-orang yang bersabar saat menghadapi ketidakadilan atau kezaliman. Beliau mengutip petuah ulama yang menyatakan bahwa orang sabar yang dizalimi sesungguhnya sangat luar biasa, sebab Allah SWT dan Rasulullah SAW sendiri yang tidak rida atas kezaliman yang menimpanya. Oleh karena itu, melatih kesabaran melalui majelis ilmu dan bimbingan para kiai menjadi langkah penting agar diri kita senantiasa mendapatkan perlindungan Allah SWT.
Penerapan rasa sabar dan syukur ini juga menjadi landasan utama dalam menyikapi pergeseran serta dinamika roda kehidupan duniawi. Kiai Syukron mengajak jamaah untuk tidak terlalu panik atau risau menghadapi lonjakan harga kebutuhan pokok maupun perubahan zaman yang makin kompleks. Karena sejatinya tidak ada kekuatan manusia yang mampu menandingi takdir Allah SWT, maka berserah diri dengan landasan sabar dan syukur adalah jalan terbaik agar hidup tidak diliputi kegelisahan.
Selanjutnya, pilar ketiga yang tidak kalah krusial dalam menciptakan kedamaian hidup adalah kemampuan untuk saling memaafkan antar sesama manusia. Sebagai makhluk sosial yang berinteraksi dalam lingkup keluarga, tetangga, hingga organisasi, pergesekan dan perbedaan pendapat adalah hal yang niscaya terjadi. Namun, ujung dari setiap interaksi sosial tersebut hendaknya selalu ditutup dengan keikhlasan untuk memaafkan serta membuang jauh-jauh rasa dendam.
Guna memperluas sudut pandang jamaah mengenai pentingnya kelapangan dada, Kiai Syukron membagikan kisah teladan dan kenangan beliau bersama KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Beliau menceritakan bagaimana kebesaran jiwa Gus Dur dalam merawat persaudaraan kebangsaan dan berinteraksi secara bijak dengan berbagai kelompok masyarakat tanpa memandang perbedaan latar belakang. Sikap lapang dada dan keterbukaan pikiran inilah yang menjadikan hati seseorang senantiasa tenteram dan dicintai oleh banyak pihak.
Beliau memungkas nasihatnya dengan menegaskan bahwa keberagaman dalam kehidupan—baik latar belakang, pandangan, maupun tingkat sosial—merupakan sunatullah yang diciptakan Allah SWT. Keharmonisan tidak akan pernah tercipta jika manusia mengedepankan kebencian dan ego pribadi. Sebaliknya, keharmonisan akan terwujud apabila setiap pribadi mampu membangun sikap saling memahami, melapangkan dada, dan senantiasa membuka pintu maaf bagi sesamanya.

Rangkaian majelis subuh yang penuh keberkahan tersebut kemudian ditutup dengan doa bersama yang dipimpin langsung oleh Dr. KH. Syukron Djazilan Badri, M.Ag. Beliau memohonkan ampunan bagi seluruh jamaah dan orang tua, kedamaian serta keamanan bagi bangsa Indonesia khususnya Jawa Timur, hingga kelapangan rezeki dan keberkahan keluarga. Harapan besar tercurah agar seluruh jamaah senantiasa dianugerahi kesehatan, kebahagiaan, serta kemampuan untuk mengamalkan ketiga resep Qur’ani tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Sumber: Ceramah Dr. KH. Syukron Djazilan Badri, M.Ag. dalam program Kajian Subuh yang diselenggarakan di Masjid Nurul Iman Surabaya pada Minggu, 19 Juli 2026.