Resapi Panggilan Al-Qur’an: Cara Menyambut Seruan Allah dalam Kehidupa

Ustadz H. M. Ikrom Rijal, Lc., MA..
Ustadz H. M. Ikrom Rijal, Lc., MA..

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Surabaya – Membaca Al-Qur’an bukan sekadar melantunkan bait-bait ayat suci, melainkan sebuah dialog spiritual antara seorang hamba dengan Sang Pencipta. Di dalam setiap lembarnya, Allah SWT sering kali menyapa dan memanggil orang-orang yang beriman dengan nada yang penuh kasih sayang serta petunjuk kehidupan. Suasana khusyuk dan penuh keberkahan tersebut mewarnai Majelis Ilmu Ba’da Salat Zuhur yang diselenggarakan pada Rabu, 15 Juli 2026, bertempat di Masjid Al Falah Surabaya, dengan menghadirkan penceramah Ustadz H. M. Ikrom Rijal, Lc., MA..

Dalam ceramahnya yang bertajuk “Motivasi Al-Qur’an: Al-Qur’an Memanggilmu”, Ustadz Ikrom mengawali dengan mengingatkan jamaah akan pentingnya memanfaatkan waktu istirahat siang untuk menuntut ilmu. Beliau menekankan bahwa berkumpul dalam majelis ilmu merupakan salah satu taufik dan nikmat besar dari Allah SWT agar seorang hamba senantiasa berada di jalan yang diridhai-Nya.

Ustadz Ikrom menjelaskan bahwa tema kajian ini diangkat dari pesan mendalam seorang sahabat Nabi Muhammad SAW, yaitu Abdullah Ibnu Mas’ud RA. Ibnu Mas’ud pernah berpesan bahwa apabila seorang mukmin mendengar atau membaca kalimat “Ya ayyuhalladzina amanu” (Wahai orang-orang yang beriman), maka hendaknya ia segera pasang pendengarannya dan membuka hatinya lebar-lebar.

Panggilan tersebut tidak boleh dianggap sebagai seruan biasa, melainkan panggilan khusus dari Allah Rabbul ‘Alamin yang membutuhkan respons seketika dari jiwa yang beriman. Ketika nama atau identitas keimanan kita dipanggil, sudah sepatutnya timbul rasa hormat dan kesegeraan untuk menyambutnya melebihi panggilan dari siapa pun di dunia.

Lebih lanjut, Ustadz Ikrom mengutip penjelasan Ibnu Mas’ud bahwa setelah seruan panggilan tersebut, selalu ada pesan krusial yang disampaikan Allah. Pesan tersebut bisa berupa sebuah kebaikan atau perintah yang harus dilaksanakan, maupun sebuah larangan yang wajib dijauhi demi keselamatan hamba itu sendiri.

Sebagai gambaran nyata dalam kehidupan sehari-hari, penceramah memberikan contoh seruan Allah dalam Surah Al-Jumu’ah ayat 9. Ayat tersebut memanggil orang-orang beriman untuk bersegera menuju zikrullah (khutbah dan salat Jumat) serta meninggalkan segala urusan perniagaan atau kesibukan duniawi.

Ustadz Ikrom turut menyoroti fenomena sosial yang masih sering ditemui di masyarakat, di mana sebagian jamaah baru datang mendekati waktu iqamah atau khutbah kedua. Meski secara hukum fikih kewajiban salatnya gugur, mereka kehilangan keutamaan pahala besar yang dicatat para malaikat sebelum khatib naik ke atas mimbar.

Oleh karena itu, menyambut panggilan Allah membutuhkan kesadaran hati, bukan sekadar pendengaran fisik semata. Orang munafik dan fasik juga mendengar ayat-ayat Al-Qur’an melalui telinga mereka, namun panggilan tersebut berhenti di sana dan tidak sampai menggetarkan atau menggerakkan hati mereka.

Dalam kajiannya, Ustadz Ikrom merincikan empat unsur penting (pilar) dalam sebuah panggilan (Nida’) Al-Qur’an yang perlu dipahami jamaah. Unsur-unsur tersebut meliputi Al-Munada (siapa yang dipanggil), Al-Munada bihi (keimanan sebagai dasar panggilan), Al-Munada ilaihi (perintah atau larangan yang disampaikan), serta Al-Munadin (Allah SWT sebagai Sang Pemanggil).

Kehadiran rasa sadar akan siapa Al-Munadin (Sang Pemanggil) adalah kunci utama yang membuat seorang mukmin senantiasa tergerak dan tidak lalai. Mengingat bahwa yang memanggil adalah Pencipta alam semesta akan melahirkan dorongan untuk selalu berbenah dan memperbaiki diri setiap kali membaca Al-Qur’an.

Ustadz Ikrom juga mengulas keunikan tata bahasa Al-Qur’an, salah satunya dalam Surah An-Nur ayat 31. Dalam ayat tersebut, kalimat panggilan “Ayyuhal Mu’minun” diletakkan di akhir perintah bertobat, yang mengisyaratkan ketegasan dan panggilan dekat agar hamba-Nya tidak menunda-nunda kesempatan untuk kembali kepada Allah.

Selain itu, keterhubungan hati secara aktif saat membaca ayat demi ayat Al-Qur’an juga dapat menjadi sarana untuk merawat serta menjaga kebeningan cahaya iman dalam diri. Sikap responsif ini membiasakan jiwa untuk selalu tergerak dalam ketaatan dan menolak segala bentuk maksiat.

Pada akhirnya, setiap kali untaian ayat Al-Qur’an berdering di telinga, hendaknya kita menyadarinya sebagai panggilan kasih sayang yang dikhususkan bagi keselamatan hamba-Nya. Keberkahan hidup yang sejati akan terpancar apabila setiap petunjuk dan perintah-Nya senantiasa direspon dengan sikap sami’na wa ata’na (kami mendengar dan kami taat).

Sebagai penutup, Ustadz Ikrom mengajak seluruh jamaah untuk terus menyambungkan hati dengan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Keterikatan hati dengan ajaran Allah dan Rasul-Nya merupakan sumber keberkahan terbesar yang akan menyelamatkan seorang hamba, baik di kehidupan dunia, alam barzakh, hingga akhirat kelak.

Sumber: kajian berjudul “Motivasi Al-Qur’an: Al-Qur’an Memanggilmu”, disampaikan oleh Ustadz H. M. Ikrom Rijal, Lc., MA. di saluran YouTube Masjid Al Falah Surabaya pada Selasa 14 Juli 2026

E-Buletin