Kabarmasjid.id, Surabaya – Memasuki fase pertengahan bulan suci, semangat beribadah umat Muslim biasanya mulai diuji oleh rasa lelah dan rutinitas. Namun, Ramadhan sejatinya bukan sekadar menahan haus dan lapar, melainkan momentum emas untuk mentransformasi diri menjadi pribadi yang lebih bertakwa. Sebuah kajian mendalam baru saja diselenggarakan di Masjid Raudhatul Musyawarah (Kemayoran) Surabaya pada Jumat, 27 Februari 2026, yang menghadirkan KH Abdul Hari dengan tema utama mengenai strategi menjaga kualitas puasa di tahun ini.
Pada Awal Penyampaiannya, KH Abdul Hari menekankan pentingnya rasa syukur karena masih diberikan kesehatan dan kesempatan untuk menemui Ramadhan kembali. Beliau mengingatkan bahwa tidak semua orang mendapatkan anugerah yang sama, di mana ada banyak orang yang ingin beribadah namun terhalang oleh kondisi fisik maupun kesempatan. Kehadiran jamaah di masjid, terutama di tengah guyuran hujan yang disebut sebagai rahmat Allah, merupakan bukti kelembutan hati yang harus dijaga hingga akhir hayat demi mencapai husnul khatimah.
KH Abdul Hari kemudian memaparkan sebuah kisah inspiratif dari zaman Rasulullah SAW tentang dua orang yang masuk Islam bersamaan. Salah satunya meninggal syahid dalam peperangan, sementara yang lainnya meninggal karena sakit satu tahun kemudian. Menariknya, dalam mimpi sahabat Thalha bin Ubaidillah, orang yang meninggal karena sakit justru dipanggil masuk surga lebih dulu. Hal ini disebabkan karena ia sempat menemui satu bulan Ramadhan tambahan dan mengisinya dengan ibadah yang kualitasnya mampu melampaui derajat mati syahid.
Namun, sebuah peringatan keras juga disampaikan melalui hadis Nabi bahwa banyak orang yang berpuasa tetapi tidak mendapatkan apa-apa selain lapar dan dahaga. Fenomena ini sering terjadi ketika puasa hanya dijalankan sebagai ritual fisik tanpa menyentuh aspek spiritual dan akhlak. Oleh karena itu, KH Abdul Hari membagikan tiga kunci utama agar puasa kita tahun ini memiliki kualitas yang jauh lebih baik dan tidak menjadi sia-sia di mata Allah SWT.
Langkah pertama untuk menjaga kualitas puasa adalah dengan menjaga lisan atau tidak banyak bicara yang sia-sia. Di era digital saat ini, “bicara” tidak hanya melalui mulut, tetapi juga melalui jempol di layar ponsel. Terlalu banyak berinteraksi dengan konten yang tidak bermanfaat, seperti ghibah atau menggunjing orang lain di media sosial, dapat mengeraskan hati. Jika hati sudah sekeras batu, maka cahaya Ramadhan dan keberkahan Lailatul Qadar akan sulit untuk meresap ke dalamnya.
Sebagai solusi dari kebiasaan banyak bicara, jamaah dianjurkan untuk memperbanyak interaksi dengan Al-Qur’an. Jika lisan disibukkan dengan zikir dan tilawah, maka tidak akan ada waktu luang untuk membicarakan keburukan orang lain. KH Abdul Hari mendorong jamaah untuk memiliki target khatam Al-Qur’an, misalnya dengan membaca satu hingga dua juz per hari. Dengan cara ini, waktu yang dimiliki akan terisi oleh percakapan spiritual dengan sang Pencipta.
Kunci kedua yang ditekankan dalam kajian tersebut adalah mengendalikan nafsu makan saat berbuka. Sering kali umat Muslim terjebak dalam perilaku “dendam” saat waktu magrib tiba, dengan mengonsumsi berbagai jenis makanan secara berlebihan. Padahal, makan berlebihan bukan hanya menjadi investasi penyakit bagi tubuh, tetapi juga secara spiritual dapat mematikan ketajaman batin dan membuat seseorang menjadi malas untuk melaksanakan ibadah malam seperti salat Tarawih dan Tahajud.
KH Abdul Hari mengutip pemikiran Imam Ghazali yang mengajarkan agar kita makan secukupnya berdasarkan kebutuhan, bukan keinginan nafsu. Puasa seharusnya melatih kita untuk merasakan keprihatinan mereka yang kekurangan, bukan justru menjadi ajang pemuasan lidah yang tidak terkendali. Dengan perut yang tidak terlalu kenyang, hati akan lebih jernih dan pikiran akan lebih fokus dalam merenungi ayat-ayat Allah serta melakukan muhasabah diri.
Langkah ketiga yang tidak kalah penting adalah meningkatkan rasa kasih sayang dan kepedulian kepada sesama. KH Abdul Hari menjelaskan bahwa Allah sangat mencintai hamba-Nya yang peduli pada penduduk bumi. Momentum Ramadhan adalah waktu terbaik untuk mempraktikkan kedermawanan, sebagaimana dicontohkan oleh kegiatan di Masjid Kemayoran yang rutin membagikan ratusan porsi makanan berbuka setiap harinya bagi masyarakat dan jamaah.
Kisah tentang seseorang yang bersedekah pada malam hari juga diangkat untuk menunjukkan keajaiban niat baik. Dalam kisah tersebut, sedekah yang diberikan tanpa sengaja kepada seorang pencuri, pelacur, dan orang kaya yang kikir, ternyata justru menjadi jalan hidayah bagi mereka untuk bertaubat. Hal ini mengajarkan bahwa setiap perbuatan baik yang didasari ketulusan akan selalu membawa dampak positif bagi lingkungan dan kembali kepada pelakunya dalam bentuk keberkahan hidup.
Melalui tiga pilar tersebut—menjaga lisan, mengontrol makan, dan peduli sesama—puasa diharapkan tidak lagi menjadi rutinitas tahunan yang monoton. KH Abdul Hari mengajak jamaah untuk melakukan evaluasi diri secara konsisten. Jika tahun ini kualitas puasa kita masih sama atau bahkan lebih buruk dari tahun lalu, maka kita termasuk orang-orang yang merugi. Sebaliknya, peningkatan kualitas akhlak dan ibadah adalah indikator keberhasilan puasa yang sesungguhnya.

Kajian ini ditutup dengan untaian doa yang syahdu, memohon agar seluruh keluarga dan keturunan dijaga oleh Allah SWT dan dikumpulkan kembali di surga-Nya. Harapannya, sisa hari di bulan Ramadhan ini dapat dioptimalkan dengan penuh kesadaran untuk menjemput ampunan dan keberkahan. Dengan menjaga kualitas puasa, kita tidak hanya menahan lapar, tetapi juga sedang membentuk karakter insan kamil yang dicintai oleh Sang Khalik.
Sumber: Kajian Menjelang Berbuka Masjid Raudhatul Musyawarah (Kemayoran) Surabaya Bersama KH Abdul Hari yang membahas bagaimana Menjaga Kualitas Puasa Ramadhan