Rahasia Usia Panjang Berlimpah Dzikir: Kunci Keberkahan Sejati

Kajian Kitab Al Hikam oleh Dr. KH. M. Luqman Hakim di Masjid Al Akbar Surabaya.
Kajian Kitab Al Hikam oleh Dr. KH. M. Luqman Hakim di Masjid Al Akbar Surabaya.

Bagikan postingan :

KabarMajid.id, Surabaya – Sebuah perenungan mendalam mengenai hakikat waktu, anugerah ilahi, dan keberkahan hidup telah disampaikan oleh Dr. KH. M. Luqman Hakim dari Sufi Center Jakarta dalam gelaran “Kajian Kitab Al Hikam” di Masjid Al Akbar Surabaya pada Sabtu 6 Desember 2025. Dengan tema “Usia Panjang Berlimpah Dzikir,” kajian ini memaparkan paradoks kehidupan modern, di mana manusia diberi usia yang panjang, namun anugerah yang diperoleh terasa sangat sedikit. Kita diundang untuk mengukur kembali sejauh mana kualitas spiritual mengisi waktu yang terus berjalan.

Mengapa banyak orang yang memiliki umur panjang, namun merasa hidupnya hampa dan miskin anugerah? Jawaban atas pertanyaan ini terdapat pada pemahaman kita terhadap nilai-nilai transenden. Kajian ini menegaskan bahwa kuantitas usia tidak secara otomatis menjamin kualitas hidup di hadapan Sang Pencipta.

Dr. Luqman Hakim mengutip poin krusial dari Kitab Al Hikam karya Ibnu Athaillah As-Sakandari: “Rubba umurin itasaat amaduhu waqolat amdaduhu, wa rubba umurin qolilatun amdaduhu katsiratun”. Artinya, betapa banyak usia yang tampak panjang, namun anugerah Tuhannya sedikit. Sebaliknya, ada usia yang pendek, namun limpahan anugerahnya melimpah. Fokus kajian adalah bagaimana kita mengkonversi usia panjang menjadi anugerah yang berlimpah.

Sebagai refleksi, beliau merujuk pada perhitungan Imam Ghazali di kitab Bidayatul Hidayah, yang menunjukkan bahwa rata-rata manusia hanya menghabiskan sekitar 75 menit dalam 24 jam untuk salat dan dzikir. Ini berarti ada 22 jam setengah waktu hidup yang seringkali dihabiskan untuk mengejar hal-hal yang fana, bahkan hampa dan sia-sia (ilif).

Keterbatasan waktu hidup di dunia kemudian dihubungkan dengan Surah Al-Asr. Menurut beliau, Wal Asri dapat dimaknai sebagai “Demi waktu Asar,” yang merupakan waktu terpendek. Hal ini melambangkan usia manusia yang sesungguhnya pendek di dunia. Dalam waktu yang singkat ini, “Innal insana lafi khusrin,” sungguh manusia berada dalam kerugian, kecuali mereka yang beriman dan melakukan amaliah saleh.

Salah satu poin penting dalam kajian ini adalah pembedaan hak waktu (hukuqul auqat). Kewajiban seperti salat dan puasa yang terlewat dapat di-qada (diganti). Namun, ada hak waktu yang sama sekali tidak bisa di-qada, yaitu kewajiban untuk dzikrullah di setiap detik, di mana pun dan kapan pun. Detak jantung dan napas yang keluar masuk tak pernah berulang, sehingga setiap momen kebersamaan dengan Allah yang hilang tidak bisa diganti di waktu mendatang.

Untuk menanggulangi usia yang pendek, Allah telah menganugerahkan Lailatul Qadar, yang keutamaannya melebihi ibadah 1000 bulan (sekitar 82 tahun). Namun, bagi para sufi, konsepnya lebih mendalam. Sebagaimana yang dikatakan Syekh Abul Abbas Al-Mursi, “Auqatuna kulluha lailatul qadar”—waktu para sufi, setiap detiknya adalah Lailatul Qadar. Kualitas ini dicapai melalui kesadaran penuh billah lillah, yakni segala sesuatu yang dilakukan adalah karena kesertaan Allah dan hanya untuk-Nya.

Dalam konteks ini, makna barakah (keberkahan) pun harus diluruskan. Keberkahan sejati bukanlah bertambahnya harta atau larisnya bisnis, melainkan semakin hari semakin berlimpahnya kebajikan di dalam diri. Indikator keberkahan adalah bertambahnya kesabaran, rasa syukur, tawakal, rida, dan kecintaan kepada Allah dalam setiap aktivitas.

Bagaimana menjadikan pekerjaan sehari-hari berkah? Kuncinya adalah niat yang tertuju kepada Allah. Ketika seseorang berangkat kerja dengan kesadaran “Ya Allah, aku bekerja karena Engkau menghendaki aku bekerja,” maka segala daya upaya dan langkah kakinya akan dipenuhi anugerah dan menjauhkan dari tuntutan duniawi yang tak berkesudahan. Bekerja pun menjadi jalan menuju Allah, sejalan dengan adagium “Ilahi anta maqsudi” (Tuhanku, Engkaulah tujuanku).

Untuk meraih berkah dan anugerah ini, kita harus membersihkan penghalang (asyawaib) dalam hati. Penghalang utama yang menjauhkan hamba dari Allah adalah takabur (kesombongan), yang akarnya berasal dari kata “aku” (ana), serta riya (pamer) yang membuat motivasi ibadah menjadi bergeser dari Allah kepada kepentingan selain-Nya.

Lebih lanjut, kajian ini menekankan pentingnya tafakkur (perenungan). Tafakkur disebut sebagai “perjalanan hati” (sirul qolbi) di medan alam ciptaan (mayadinil aghyar). Melalui perenungan, seseorang akan mencapai puncak kesadaran bahwa di balik langit dan bumi, isinya adalah asma-asma Allah. Kesadaran ini menumbuhkan husnudan billah (berprasangka baik kepada Allah) dan menghilangkan rasa cemas, karena ia melihat Allah di balik setiap peristiwa.

Oleh karena itu, Dr. Luqman Hakim mengajak hadirin untuk melatih diri dalam dzikir dan tafakkur. Sisakanlah waktu, setidaknya satu jam setiap hari, untuk merenung dan menyadari kembali bahwa hidup ini hanya untuk-Nya, serta setiap langkah, kekuatan, dan anugerah berasal dari-Nya. Dengan demikian, kita dapat memastikan bahwa hidup ini “menginjak tanah,” tidak melayang dalam khayalan, dan meraih usia panjang yang benar-benar berlimpah anugerah dan dzikir.

Sumber: Kajian Kitab Al Hikam oleh Dr. KH. M. Luqman Hakim di Masjid Al Akbar Surabaya.

E-Buletin