Rahasia Mujahadah: Mengubah Pahitnya Ujian Hidup Menjadi Nikmat Manis Dingin

Halaqoh Maghrib Kitab Al Manhajussawiiy Masjid Jami' Assagaf oleh Ustadz Abubakar Fahmi Assegaf
Halaqoh Maghrib Kitab Al Manhajussawiiy Masjid Jami' Assagaf oleh Ustadz Abubakar Fahmi Assegaf

Bagikan postingan :

KabarMajid.id, Solo – Berbicara tentang perjalanan spiritual, sungguh kisah-kisah para pendahulu kita, baik dari kalangan salaf maupun khalaf, menyimpan energi motivasi yang tak terhingga. Dalam sebuah sesi Halaqoh Maghrib di Masjid Jami’ Assagaf  pada Jum’at 5 Desember 2025, Ustadz Abubakar Fahmi Assegaf menyampaikan kajian mendalam dari Kitab Al Manhajussawiiy. Fokus utama kajian ini adalah teladan luar biasa dari para Al-Akabir (orang-orang besar) dalam melakukan Mujahadah—perjuangan melawan hawa nafsu demi meraih keridhaan Allah SWT.

Mujahadah, dalam konteks ini, bukan sekadar usaha, melainkan sebuah pertarungan abadi untuk menundukkan dorongan jiwa yang cenderung pada kemalasan dan kesenangan duniawi. Ustadz Abubakar Fahmi Assegaf mengutip syair-syair dari Al-Habib Abdullah Al Haddad yang menggambarkan kaum tersebut sebagai pribadi yang menolak ajakan istirahat, khususnya ketika waktu petang tiba.

Salah satu bentuk mujahadah yang paling menonjol adalah menghidupkan malam (qiyamul lail). Disebutkan bahwa ketika manusia pada umumnya berada dalam fase lelah dan butuh istirahat, para ulama ini justru menanggalkan rasa capek. Mereka tidak tergoda dengan tempat tidur dan bantal, melainkan menjauhinya.

Kelelahan, sebagaimana dijelaskan dalam kajian, seringkali menjadi momen di mana hawa nafsu dan bisikan setan lebih berkuasa. Namun, engkau akan dapati mereka berdiri tegak laksana tiang-tiang mihrab di masjid (umudal maharibi), sibuk dalam rukuk dan sujud, karena Allah semata. Mereka melawan sifat kemanusiaan yang menuntut tidur atau kelalaian.

Keutamaan ibadah malam mereka dilengkapi dengan tadabbur (perenungan) Al-Qur’an. Mereka membaca ayat demi ayat dengan penuh penghayatan; jika bertemu ayat azab, mereka menangis dan memohon keselamatan; jika bertemu ayat rahmat, mereka berharap mendapatkannya. Mereka tidak seperti orang yang lalai, tetapi memaknai setiap untaian firman Ilahi.

Tingkat mujahadah para ulama ini mencapai maqam tertinggi, di mana mereka mampu mengubah persepsi terhadap kesulitan. Rasa pahit dari musibah, ujian, dan perjuangan melawan nafsu mereka rasakan sebagai kahulwun barid (rasa manis dan dingin)—sebuah puncak kenikmatan. Bagi mereka, segala kesulitan adalah keberuntungan yang dapat menghapus dosa dan menaikkan derajat.

Teladan nyata dari perjuangan ini ditunjukkan oleh Sayyidina Abdullah bin Zubair. Saking tinggi derajat ibadahnya, pernah suatu kali ia melakukan tawaf dengan berenang di Ka’bah saat Makkah dilanda banjir besar. Bahkan, dari saking khusyuknya dan lamanya sujud, pernah ada burung kecil yang hinggap di punggungnya karena mengira ia adalah papan yang tak bergerak.

Kita juga menemukan kisah legendaris Sayyidina Said bin Musayyib. Beliau bersaksi bahwa selama 50 tahun shalat Subuh yang dilakukannya adalah dengan wudu Isya, yang berarti beliau menghabiskan seluruh malam untuk beribadah dan berzikir. Selain itu, beliau juga tak pernah tertinggal shalat berjamaah apalagi Takbiratul Ihram bersama Imam selama puluhan tahun.

Selanjutnya, figur Imam Abu Hanifah yang diceritakan oleh Imam Syafi’i. Beliau menghidupkan seluruh malam selama lebih dari 40 tahun. Dalam rakaat salatnya, tak jarang beliau membaca seluruh Al-Qur’an secara sempurna dalam satu atau dua rakaat. Bahkan, saking nikmatnya, beliau pernah mengulang-ulang satu ayat hingga terbit fajar sambil berlinang air mata.

Tidak kalah luar biasa adalah Imam Ahmad bin Hambal. Beliau tercatat biasa melaksanakan 300 rakaat shalat dalam satu malam. Ketika tubuhnya mulai melemah karena usia, beliau “hanya” mengurangi jumlahnya menjadi 150 rakaat. Selain itu, beliau sering menjalankan puasa hampir setiap hari dan berbuka hanya ketika melakukan hijamah (bekam).

Semua kisah mujahadah ini menyimpulkan satu hal: jalan menuju derajat tinggi di sisi Allah harus ditempuh dengan menelan kepahitan kehidupan dan berjuang melawan diri sendiri. Mereka memaksakan diri (yukallifu nafsuh) untuk beribadah karena menyadari bahwa untuk inilah manusia diciptakan, sesuai firman Allah.

Mengakhiri kajian, Ustadz Abubakar Fahmi Assegaf memberikan tantangan yang layak kita renungkan: sebelum ajal menjemput, mari kita coba sekali seumur hidup untuk melaksanakan 100 rakaat shalat dalam satu malam sebagai “modal” saat menghadap Allah kelak. Semoga Allah SWT memberikan taufik dan meringankan langkah kita untuk meneladani perjuangan suci ini.

Sumber:  Halaqoh Maghrib Kitab Al Manhajussawiiy Masjid Jami’ Assagaf  Ustadz Abubakar Fahmi Assegaf

E-Buletin