Rahasia Menghadapi Musibah: Rahmat Allah yang Terbungkus Ketidakenakan

Ustadz Ir. H. Misbahul Huda, MBA,
Ustadz Ir. H. Misbahul Huda, MBA,

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Surabaya – Bulan Ramadhan bukan sekadar momentum untuk menahan lapar dan dahaga, melainkan fase krusial untuk memperkuat fondasi spiritual dan intelektual. Di tengah dinamika zaman yang penuh tantangan, umat Islam dituntut untuk tidak hanya saleh secara ritual, tetapi juga kuat secara ekonomi dan wawasan. Semangat inilah yang melandasi kegiatan “Healing Ramadan” yang menghadirkan perspektif segar mengenai bagaimana membangun generasi masa depan yang seimbang antara dunia dan akhirat.

Kajian bertajuk “Kiat Membangun Generasi Kuat Iman, Ilmu, dan Amwal” ini diselenggarakan pada Selasa, 3 Maret 2026 (13 Ramadhan 1447 H) bertempat di ruang utama Masjid Nasional Al Akbar Surabaya. Menghadirkan Ustadz Ir. H. Misbahul Huda, MBA, acara ini juga dihadiri oleh perwakilan Bank Jatim Syariah, Bapak Sigit Muharianto, yang memberikan dukungan penuh terhadap penguatan ekosistem dakwah dan ekonomi umat melalui sinergi perbankan syariah.

Dalam pemaparannya, Ustadz Misbah menekankan bahwa iman adalah separuh syukur dan separuh sabar. Beliau mengajak jemaah untuk mengubah cara pandang dalam menghadapi ujian hidup, baik itu krisis ekonomi maupun bencana alam. Menurutnya, musibah sering kali merupakan “rahmat Allah yang terbungkus ketidakenakan,” yang bertujuan agar manusia kembali mendekat dan bergantung sepenuhnya kepada Sang Pencipta.

Lebih lanjut, Ustadz Misbah yang merupakan lulusan Teknik Elektro UGM ini menggarisbawahi pentingnya memiliki “dekengan” atau sandaran kepada Allah yang Maha Sempurna. Orang yang merasa dekat dengan Allah akan memiliki kepercayaan diri (PD) yang luar biasa dalam menghadapi masalah apa pun. Rasa percaya diri inilah yang menjadi modal utama bagi seorang mukmin agar tidak mudah menyerah saat diterjang badai kehidupan.

Aspek kedua yang dibahas adalah pentingnya ilmu yang terus diasah. Ustaz Misbah mengingatkan bahwa kemarahan atau kegelisahan yang berlebihan dalam keluarga sering kali menjadi tanda bahwa pertumbuhan ilmu tidak sepadan dengan beban masalah yang dihadapi. Dengan ilmu, seorang mukmin mampu melihat solusi di tengah kebuntuan, sehingga wajahnya tetap tenang dan hatinya tetap lapang meskipun sedang diuji.

Hal yang cukup menarik dalam kajian ini adalah penekanan pada aspek amwal atau penguatan ekonomi. Ustadz Misbah secara eksplisit mendorong generasi muda, khususnya Gen Z, untuk tidak hanya bercita-cita menjadi pegawai, tetapi berani terjun menjadi pengusaha. Beliau merujuk pada fakta sejarah bahwa Rasulullah SAW dan mayoritas sahabat adalah pedagang sukses yang menggunakan hartanya untuk kejayaan dakwah.

Menurut data yang disampaikan, rasio pengusaha di Indonesia masih berada di angka 3 persen, jauh di bawah negara-negara maju yang mencapai 10 persen. Oleh karena itu, melahirkan pengusaha muda baru adalah kunci untuk mengentaskan kemiskinan dan memperkuat posisi tawar umat Islam. Kewirausahaan dipandang sebagai jalan nyata untuk membuka pintu rezeki bagi lebih banyak orang melalui penciptaan lapangan kerja.

Dalam sesi tanya jawab, seorang mahasiswi bertanya mengenai cara Gen Z mengintegrasikan ketiga aspek tersebut di era media sosial. Ustaz Misbah menjawab bahwa ilmu tidak bisa hanya didapat dari media sosial yang sering kali mencampuradukkan kebenaran dan kebatilan. Dibutuhkan bimbingan dari guru yang memiliki sanad ilmu yang jelas agar pemahaman agama dan dunia tetap berada di jalur yang benar.

Diskusi juga menyentuh persoalan gangguan non-medis atau kiriman ghaib yang sering menghantui tempat usaha atau pendidikan. Ustaz Misbah memberikan resep sederhana namun kuat: ruqyah mandiri. Dengan menghidupkan Al-Qur’an di rumah dan tempat usaha secara konsisten, seorang hamba akan terlindungi dari kekuatan jin yang jahat karena kekuatan Allah jauh melampaui segala bentuk sihir.

Bapak Sigit Muharianto dari Bank Jatim Syariah juga menambahkan bahwa sinergi antara lembaga keagamaan dan dunia usaha sangat penting untuk membangun ekosistem dakwah yang berkelanjutan. Dukungan ekonomi melalui perbankan syariah diharapkan dapat menjadi stimulus bagi para pengusaha muslim untuk mengembangkan usahanya sesuai dengan prinsip-prinsip syariat tanpa harus terjerumus dalam praktik yang dilarang.

Sebagai penutup kajian, Ustadz Misbah memberikan motivasi agar umat Islam menjadi “Great Man” yang selalu berbicara tentang solusi, bahkan menjadi “Genius Man” yang mampu menemukan peluang di balik setiap masalah. Beliau mengingatkan agar kita tidak hanya sibuk mencari “sangu” (bekal) untuk hidup, tetapi lupa pada apa sebenarnya guna dari kehidupan itu sendiri, yakni memberi manfaat bagi sesama.

Sumber: Ngaji Ngabuburit yang berlangsung pada 13 Ramadhan 1447 H (3 Maret 2026) di Masjid Nasional Al Akbar Surabaya. Bersama Ustadz Ir. H. Misbahul Huda, MBA, tema “Tenang Jiwa Kuat Raga”

E-Buletin