KabarMasjid.id, Surabaya – Seringkali kita merasa sudah bekerja sangat keras, memeras keringat hingga membanting tulang, namun rezeki terasa tetap seret dan tidak kunjung lancar. Kita mungkin mencari solusi ke berbagai arah, namun lupa menengok ke dalam rumah sendiri, khususnya pada hubungan kita dengan orang tua. Kajian rutin Kitab Al-Hikam yang diselenggarakan pada Senin, 26 Januari 2026, di Masjid Roudlotul Musyawarah, Kemayoran Surabaya, membedah secara mendalam bagaimana adab dan ketulusan hati menjadi kunci pembuka pintu langit. Dalam kesempatan tersebut, Drs. KH. Abdullah Bahreisy menekankan bahwa spiritualitas bukan sekadar ritual, melainkan manifestasi akhlak kepada sesama manusia, terutama orang tua.
Dalam ulasan hikmah ke-252, Kyai Bahreisy menjelaskan bahwa salah satu penyebab utama terhambatnya rezeki bukanlah kurangnya usaha lahiriah, melainkan sikap yang salah kepada orang tua. Hal ini merujuk pada pesan Sayyidina Ali bin Abi Thalib yang selalu menanyakan bagaimana adab seseorang saat berjalan atau berbicara dengan orang tuanya sebelum menanyakan hal lain terkait keluhan ekonomi. Adab kecil seperti tidak mendahului langkah orang tua saat berjalan adalah simbol penghormatan yang dampaknya sangat besar bagi keberkahan hidup seseorang.
Menariknya, kajian ini juga menyoroti bahwa memuliakan orang tua adalah bentuk kemanusiaan yang universal. Dikisahkan bagaimana Sayyidina Ali pernah rela datang terlambat ke masjid demi berjalan pelan di belakang seorang tua yang ternyata adalah seorang non-muslim. Allah SWT sangat menghargai penghormatan terhadap kemanusiaan ini, hingga dikisahkan Malaikat Jibril menahan rukuk Rasulullah agar Sayyidina Ali tidak kehilangan keutamaan jamaah. Ini menjadi pelajaran penting bahwa adab kepada yang lebih tua harus tetap dijaga tanpa memandang latar belakang keyakinan mereka.
Lebih lanjut, Kyai Bahreisy membedah tentang hakikat tawadhu atau rendah hati yang dibahas oleh Ibnu Atha’illah dalam Al-Hikam. Tawadhu yang hakiki bukanlah sikap yang dibuat-buat agar terlihat sopan, melainkan lahir dari kesadaran penuh akan keagungan Allah. Ketika seseorang benar-benar menyaksikan kekuasaan Tuhan, maka sifat sombong dalam dirinya akan luntur dengan sendirinya. Ia akan menyadari bahwa segala ilmu, harta, dan jabatan yang dimiliki hanyalah titipan yang bisa diambil kapan saja.
Salah satu contoh nyata ketawadhuan dan bakti yang luar biasa ditunjukkan melalui kisah Imam Abu Hanifah. Meskipun beliau adalah seorang alim besar dengan ribuan murid, beliau tidak pernah merasa lebih tinggi di hadapan ibunya. Pernah suatu ketika saat sedang mengajar, ibunya memanggil hanya untuk meminta memberi makan ayam di rumah. Tanpa mengeluh atau merasa terganggu, Imam Abu Hanifah langsung menutup kitabnya dan menuruti perintah sang ibu, sebuah teladan yang menunjukkan bahwa bakti lebih utama daripada reputasi intelektual.
Bakti tersebut jugalah yang menurut Imam Abu Hanifah menjadi rahasia di balik kemuliaan derajatnya. Beliau menegaskan bahwa kedudukan tinggi yang ia capai bukan semata karena kecerdasannya dalam menghafal atau berijtihad, melainkan karena doa dan keridaan ibunya. Di era modern ini, pesan tersebut sangat relevan sebagai pengingat bagi para profesional atau akademisi agar tidak melupakan akar keberhasilan mereka yang seringkali berasal dari doa-doa sunyi orang tua di rumah.
Kajian ini juga menyentuh sisi kasih sayang terhadap anak-anak sebagai pelebur dosa yang efektif. Drs. KH. Abdullah Bahreisy menceritakan dalam sebuah riwayat bahwa Rasulullah pernah ditegur Malaikat Jibril karena berkata keras pada seseorang yang merasa dosanya terlalu besar. Ternyata, orang tersebut memiliki amalan sederhana namun mulia, yakni selalu membawa kebahagiaan bagi anak kecilnya setiap kali pulang ke rumah. Senyum seorang anak yang lahir dari kasih sayang ayahnya bisa menjadi wasilah turunnya ampunan Tuhan yang luar biasa.
Beliau juga mengingatkan bahwa prinsip “Man la yarham, la yurham” atau barangsiapa yang tidak menyayangi maka tidak akan disayangi, berlaku secara luas. Kasih sayang kepada yang kecil dan hormat kepada yang tua adalah satu paket akhlak yang menentukan apakah seseorang layak menerima rahmat Allah atau tidak. Tanpa rasa kasih, ibadah yang dilakukan secara formalitas hanya akan menjadi beban tanpa ruh, yang justru bisa memicu sifat sombong jika merasa diri paling suci.
Tanda bahwa ilmu seseorang itu bermanfaat adalah ketika ia semakin merasa rendah di hadapan Allah dan sesama. Jika semakin berilmu namun semakin hobi menghina orang lain atau merasa paling benar, maka itu adalah alamat bahwa ilmunya tidak mendatangkan berkah. Ilmu yang sejati seharusnya membawa seseorang pada kondisi husnudzon atau berprasangka baik terhadap segala ketentuan Allah, termasuk saat menghadapi ujian hidup yang tidak menyenangkan sekalipun.
Berprasangka baik kepada Allah adalah fondasi dari ketenangan jiwa. Allah bertindak sesuai dengan persangkaan hamba-Nya; jika kita yakin bahwa setiap pemberian-Nya adalah baik, maka kebaikan jugalah yang akan kita temui. Seringkali manusia membenci sesuatu yang sebenarnya baik bagi mereka, atau mencintai sesuatu yang justru mencelakakan. Dengan sikap tawadhu, kita menyerahkan segala pengaturan hidup kepada Zat yang Maha Mengetahui, tanpa perlu banyak memprotes keadaan.
Sebagai penutup, Kyai Bahreisy mengajak jamaah untuk mengevaluasi kembali hubungan mereka dengan orang tua dan keluarga. Jika rezeki terasa macet atau hati terasa gersang, mungkin inilah saatnya untuk pulang dan bersimpuh memohon maaf serta doa kepada orang tua. Sebab, di balik rida mereka, terletak rida Allah yang menjadi kunci segala kemudahan dan kebahagiaan di dunia maupun di akhirat.
Sumber: Kajian Kitab Al-Hikam di Masjid Roudlotul Musyawarah Kemayoran Surabaya oleh Drs. KH. Abdullah Bahreisy yang membahas tentang adab kepada orang tua dan hakikat tawadhu