KabarMasjid.id, Solo – Peristiwa Isra Mi’raj bukan sekadar perjalanan sejarah biasa, melainkan sebuah proklamasi atas kemahaberadaan Allah dan kemuliaan Nabi Muhammad SAW sebagai hamba pilihan. Memahami makna terdalam dari peristiwa ini membawa kita pada perenungan tentang batas nalar manusia di hadapan kuasa Sang Pencipta. Melalui tafsir Surah Al-Isra, kita diajak untuk menyelami bagaimana mukjizat ini menjadi titik balik penting dalam dakwah Islam di periode Makkiyah.
Kajian tafsir Kitab Sofwatuttafasir karya Imam Ash-Shabuni ini dilaksanakan pada Sabtu, 7 Februari 2026, bertempat di Masjid Riyadh, Solo. Dalam majelis Rouhah Siang tersebut, Ustadz Ali bin Hasan Al-Habsyi membedah secara mendalam ayat-ayat awal Surah Al-Isra yang menitikberatkan pada keajaiban perjalanan malam Rasulullah. Kajian ini menjadi momen penting bagi jamaah untuk memperkuat akidah di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks.
Surah Al-Isra sendiri merupakan golongan surah Makkiyah, yang berarti diturunkan sebelum peristiwa hijrahnya Rasulullah ke Madinah. Pada periode ini, fokus utama dakwah Islam adalah pemurnian akidah, penguatan iman, dan penjelasan mengenai hari kebangkitan. Hal ini dikarenakan masyarakat yang dihadapi saat itu adalah kaum musyrikin yang tidak percaya pada adanya kehidupan setelah kematian maupun konsep ketuhanan yang esa.
Ustadz Ali bin Hasan Al-Habsyi menjelaskan bahwa surah ini juga memiliki nama lain, yakni Surah Bani Israil. Penamaan ini merujuk pada banyaknya narasi di dalam surah yang menceritakan sejarah dan perilaku kaum Bani Israil. Allah mengabadikan kisah mereka, terutama mengenai kefasikan dan ketidakpatuhan terhadap perintah nabi-nabi mereka, sebagai pelajaran bagi umat Muslim agar tidak terjerumus dalam kesalahan yang sama.
Poin sentral dalam kajian ini adalah pembahasan ayat pertama yang dimulai dengan lafaz Subhanalladzi asra. Penggunaan kata “Subhana” (Maha Suci) menandakan bahwa apa yang akan diceritakan setelahnya adalah sesuatu yang sangat besar dan hanya bisa terjadi atas kuasa Allah yang melampaui segala keterbatasan makhluk. Ini adalah sebuah bentuk penegasan bahwa peristiwa Isra bukanlah kejadian alamiah biasa.
Salah satu detail menarik yang dibahas adalah pemilihan kata asra yang berarti “memperjalankan”. Hal ini menegaskan bahwa Rasulullah tidak berjalan atas kehendak atau kekuatannya sendiri, melainkan Allah-lah yang menjadi subjek yang memperjalankan beliau. Dengan demikian, kecepatan dan dimensi waktu yang ditempuh tidak bisa diukur dengan logika transportasi manusia, melainkan dengan standar kuasa Ilahi.
Status penghambaan Rasulullah juga menjadi sorotan utama dalam lafaz bi’abdihi (kepada hamba-Nya). Gelar “hamba” di sini justru merupakan kedudukan paling mulia yang diberikan Allah kepada Nabi Muhammad SAW. Dengan menyebut beliau sebagai hamba, Allah menunjukkan bahwa meskipun beliau diberikan mukjizat yang luar biasa hingga menembus langit, beliau tetaplah makhluk yang memiliki ketundukan mutlak kepada Sang Pencipta.
Lebih lanjut, kajian ini mengupas penggunaan kata lailan (pada malam hari) yang ditulis dalam bentuk nakirah. Dalam kaidah bahasa Arab, ini mengisyaratkan bahwa perjalanan tersebut hanya memakan waktu yang sangat sebentar atau hanya sebagian kecil dari malam. Bahkan digambarkan dalam riwayat, tempat tidur Rasulullah masih terasa hangat ketika beliau kembali dari perjalanan jauh tersebut, menunjukkan betapa singkatnya waktu yang berlalu secara fisik.
Untuk membuktikan kebenaran peristiwa tersebut kepada kaum musyrikin yang ragu, Allah memberikan mukjizat tambahan. Ketika Rasulullah ditantang untuk mendeskripsikan bangunan Baitul Maqdis, Allah menampakkan miniatur atau gambaran nyata masjid tersebut tepat di hadapan beliau. Hal ini memudahkan Rasulullah menjawab setiap pertanyaan detail mengenai jumlah pintu dan jendela bangunan tersebut dengan akurasi yang sempurna.
Selain itu, Rasulullah juga membawa bukti fisik berupa informasi mengenai kafilah dagang Quraisy yang beliau temui di tengah perjalanan. Beliau mampu menyebutkan posisi kafilah tersebut dan kapan mereka akan tiba di Mekkah. Semua bukti empiris ini sebenarnya sudah cukup untuk membenarkan risalah beliau, meskipun pada akhirnya banyak kaum musyrikin yang tetap memilih untuk menutup mata karena kesombongan.
Kajian ini juga menyentuh sisi moral dan sosial yang terkandung dalam Surah Al-Isra, yakni tentang al-adab al-ijtimaiyah. Surah ini mengatur bagaimana manusia seharusnya berperilaku kepada orang tua, kerabat, dan masyarakat luas. Selain dimensi vertikal (hubungan dengan Tuhan), Al-Isra memberikan panduan komprehensif mengenai dimensi horizontal (hubungan sesama manusia) sebagai cerminan dari iman yang sempurna.
Sebagai penutup, Ustadz Ali menekankan bahwa akhir dari Surah Al-Isra kembali menegaskan keesaan Allah. Allah tidak membutuhkan anak, sekutu, ataupun pembantu dalam mengatur alam semesta. Melalui kajian ini, diharapkan jamaah dapat memetik hikmah bahwa segala kemustahilan di mata manusia adalah hal yang sangat mudah bagi Allah, dan adab yang baik adalah buah dari ketauhidan yang benar.
Sumber: Majelis Salaf Rouhah Siang Kajian Tafsir Kitab Sofwatuttafasir Masjid Riyyadh Solo oleh Ustadz Ali bin Hasan Alhabsyi