KabarMasjid.id, Surabaya – Dalam sebuah kajian Subuh yang dilaksanakan di Masjid Al Falah Surabaya, Ustadz M. Junaidi Sahal, M.Ag., mengupas tuntas topik yang sangat relevan dengan dunia pendidikan Islam: “Relasi Murid dan Guru antara Khidmah dan Adab.” Kajian ini, yang diselenggarakan pada Sabtu 22 November 2025, mengajak para jamaah untuk merenungkan kembali hakikat hubungan agung antara pencari ilmu dan pemberi ilmu yang ternyata jauh melampaui batas-batas kegiatan belajar mengajar biasa.
Hubungan guru dan murid seringkali disempitkan hanya pada transfer pengetahuan (ta’lim). Padahal, menurut Ustadz Junaidi, Islam mengajarkan bahwa relasi ini harus dibangun di atas dua pilar utama: khidmah (pelayanan atau pengabdian) dan adab (etika atau tata krama). Pandangan ini sekaligus membantah stigma modern yang menganggap praktik khidmah sebagai bentuk perbudakan atau feodalisme.
Untuk menemukan landasan hukumnya, mari kita telaah Surah Al-Kahfi dalam Al-Qur’an, yang menceritakan perjalanan Nabi Musa. Dalam ayat 60, Nabi Musa ditemani oleh seorang pemuda yang disebut fatahu (pemudanya/pembantunya). Pemuda ini adalah Yusya bin Nun, seorang calon nabi dan cicit Nabi Yusuf.
Ustadz Junaidi menjelaskan bahwa meskipun secara tekstual fatahu berarti pemuda, dalam konteks ayat ini ia memiliki tiga peran sekaligus: pengikut, pelayan, dan murid Nabi Musa. Dari sini disimpulkan bahwa khidmah—tindakan melayani dan membantu guru—sudah menjadi tradisi yang dipraktikkan sejak zaman Nabi Musa, bukan sekadar proses menerima ilmu.
Penekanan pada pelayanan ini diperkuat dalam ayat 66 Surah Al-Kahfi, ketika Nabi Musa meminta izin kepada Nabi Khidir untuk belajar. Nabi Musa tidak berkata, “Bolehkah saya belajar darimu?” melainkan “Hal at-tabi’uka” (Bolehkah aku mengikutimu?). Kalimat mengikuti (ittiba’) ini menyiratkan kesediaan untuk mengawal, melayani, dan bersiap membantu, menunjukkan kerendahan hati seorang pencari ilmu.
Dengan demikian, dari dua ayat ini, Ustadz Junaidi menegaskan bahwa tradisi khidmah merupakan fondasi historis yang kuat dalam Islam. Hubungan santri dan kiai (atau murid dan guru) bukan hanya tentang penguasaan materi, melainkan tentang penempaan karakter melalui pengabdian tulus.
Landasan ini kemudian diteruskan dan disempurnakan pada masa Rasulullah SAW. Contoh paling fenomenal adalah kisah Ummu Sulaim yang menghibahkan putranya, Anas bin Malik, yang saat itu baru berusia 10 tahun, untuk menjadi pelayan pribadi Nabi (yakdumuka) ketika beliau tiba di Madinah.
Berkat khidmahnya, Anas bin Malik mendapatkan doa yang sangat istimewa dari Rasulullah, “Allahumma aksir maalahu wa waladahu” (Ya Allah, perbanyaklah harta dan keturunannya). Doa yang sifatnya material dan futuristik ini terwujud, menjadikan Anas bin Malik sebagai salah satu sahabat terkaya dan memiliki keturunan terbanyak, sekaligus menjadi perawi Hadis nomor empat terbanyak.
Kisah lain datang dari sahabat Rabi’ah bin Ka’ab, yang berkhidmah dengan menyiapkan air wudu untuk Nabi. Saking senangnya Nabi atas pelayanan itu, beliau memintanya untuk mengajukan permintaan. Rabi’ah tidak meminta harta duniawi, melainkan permintaan setinggi-tingginya: agar bisa membersamai Nabi di Surga. Nabi lalu berpesan agar ia membantu terkabulnya permintaan itu dengan “bikasrati sujud” (memperbanyak salat/sujud).
Demikian pula dengan Abdullah bin Abbas, yang juga berkhidmah dengan menyiapkan air untuk Nabi. Sebagai balasan, Nabi Muhammad langsung mendoakannya dengan doa yang termasyhur: “Allahumma faqqihu fiddin wa ‘allimhut ta’wil” (Ya Allah, berilah ia kefakihan dalam agama dan kemampuan memahami tafsir). Doa inilah yang menjadikannya ulama tafsir terkemuka di kalangan sahabat.
Ustadz Junaidi kemudian merangkum esensi ilmu dengan mengutip ulama besar Dr. Muhammad bin Ismail: “Al-‘ilmu bi at-ta’allum, wal barokah bil khidmah, wal manfa’ah bi at-tha’ah.” Artinya, ilmu diperoleh dengan belajar, keberkahan diperoleh dengan khidmah (pelayanan), dan manfaat diperoleh dengan taat kepada guru. Tiga pilar ini harus dipegang teguh oleh setiap pencari ilmu.
Oleh karena itu, khidmah atau pengabdian bukan hanya sebatas tradisi, melainkan jalan spiritual untuk menjemput keberkahan ilmu, sebagaimana dicontohkan oleh para nabi dan sahabat terbaik. Terakhir, Ustadz Junaidi mengingatkan bahwa semua fondasi khidmah ini harus dibungkus dengan adab (etika) dan ketawaduan, sebab ilmu setinggi apa pun tidak akan mendatangkan keberkahan sejati tanpa adab.
Sumber: Kajian Subuh Masjid Al Falah Surabaya oleh Ustadz M. Junaidi Sahal, M.Ag. dengan tema “Relasi Murid dan Guru antara Khidmah dan Adab.”