Kabarmasjid.id, Surabaya – Menuntut ilmu sering kali dipandang hanya sebagai jalan untuk meraih gelar akademik, status sosial, atau kesuksesan finansial. Banyak orang berlomba-lomba mengumpulkan pengetahuan demi terlihat hebat dan dihormati di mata masyarakat. Padahal, dalam tradisi Islam yang luhur, esensi mencari ilmu jauh lebih mendalam daripada sekadar pencapaian duniawi yang fana. Menjawab fenomena tersebut, Masjid Roudlotul Musyawarah (Kemayoran) Surabaya menggelar kajian rutin yang mengupas tuntas kitab monumental Bidayatul Hidayah karya Hujjatul Islam Al-Imam Al-Ghazali bersama KH. Ahmad Mujab Muthohar atau yang lebih dikenal dengan Gus Mujab pada hari Selasa, 7 Juli 2026.
Dalam pemaparannya yang sejuk dan sarat makna, Gus Mujab membuka kajian dengan menjelaskan struktur mendasar dari kitab Bidayatul Hidayah. Kitab klasik ini secara garis besar dibagi menjadi dua pembahasan utama, yakni bagian pertama yang mengulas tentang ketaatan atau kepatuhan kepada Allah SWT, serta bagian kedua yang membahas secara mendalam mengenai kemaksiatan yang harus dihindari oleh seorang hamba. Tidak hanya itu, sebagai penutup, kitab ini juga dilengkapi dengan pembahasan penting mengenai adab dan etika dalam berinteraksi sesama manusia maupun makhluk ciptaan Allah lainnya.
Gus Mujab kemudian mengajak para jemaah untuk mengenal lebih dekat sosok sang pengarang kitab, yaitu Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali At-Tusi. Lahir pada tahun 450 Hijriah dan wafat pada tahun 505 Hijriah dalam usia yang relatif muda sekitar 55 tahun, Imam Al-Ghazali merupakan ulama yang sangat cemerlang di masanya. Kejeniusan akademiknya terbukti saat beliau dipercaya menjabat sebagai rektor di Madrasah Nidhamiyah. Namun, di puncak popularitas dan kemegahan jabatannya, beliau memilih untuk melepaskan seluruh kemewahan tersebut demi melakukan perenungan spiritual spiritual yang mendalam.
Lebih lanjut, Gus Mujab mengulas tentang asal-usul nama “Al-Ghazali” yang melekat pada ulama besar asal Persia (Iran) tersebut. Beliau menjelaskan terdapat dua pendapat ulama mengenai penyerapan bahasanya; pendapat pertama menyatakan bahwa nama tersebut dinisbatkan pada daerah asalnya, yaitu sebuah desa bernama Ghazalah di wilayah Tusi. Sementara itu, pendapat kedua yang membaca dengan penekanan tasydid (Al-Ghazzali) mengaitkannya dengan profesi mulia orang tua beliau yang bekerja sebagai pemintal kapas demi menyambung hidup keluarga.
Masuk ke dalam inti sari mukadimah kitab, Gus Mujab memberikan peringatan keras dari Imam Al-Ghazali kepada siapa saja yang tengah bersemangat menuntut ilmu. Seorang penuntut ilmu harus senantiasa waspada dan memeriksa kembali apa yang menjadi motivasi utama di dalam hatinya. Beliau menekankan bahwa jika seseorang mencari ilmu dengan niat yang keliru—seperti untuk bermegah-megahan, pamer kepintaran, atau sekadar ingin terlihat lebih unggul daripada orang lain—maka ilmu tersebut justru akan menjadi bumerang yang membahayakan dirinya sendiri.
Menurut Gus Mujab, menuntut ilmu dengan tujuan mencari pujian, meraih simpati manusia, atau sekadar menjadikannya alat untuk menumpuk harta duniawi merupakan bentuk kerugian yang sangat besar. Imam Al-Ghazali mengibaratkan orang yang belajar dengan niat buruk ini seperti seseorang yang sedang berjalan menuju titik kehancuran agamanya sendiri dan merobohkan keselamatan jiwanya di akhirat. Akad atau perniagaan spiritual orang tersebut dipastikan akan mengalami kebangkrutan total karena ia telah menukar kebahagiaan akhirat yang abadi demi kesenangan duniawi yang sementara.
Tanggung jawab moral ini ternyata tidak hanya dibebankan kepada para murid atau santri yang belajar, melainkan juga kepada para guru yang mengajar. Gus Mujab mengutip analogi tajam dari Imam Al-Ghazali yang mengibaratkan seorang guru yang membiarkan atau mendukung murid berniat buruk seperti seorang pedagang yang menjual pedang kepada pembegal atau perampok. Guru yang mengetahui niat keliru muridnya namun tidak berusaha meluruskan dan menatanya, dinilai telah ikut andil atau bersekutu dalam memfasilitasi terjadinya kemaksiatan serta kerusakan moral.
Oleh karena itu, Gus Mujab mengajak seluruh jemaah untuk meluruskan niat sejak awal, yaitu menuntut ilmu demi mencari hidayah Allah SWT (tholabul hidayah), bukan sekadar mengoleksi riwayat, gelar, atau sanad keilmuan semata. Mengutip penjelasan tambahan dari Imam Nawawi Al-Bantani, niat mencari hidayah ini hendaknya diturunkan secara konkret ke dalam beberapa poin penting. Poin-poin tersebut meliputi niat untuk menghilangkan kebodohan dari dalam diri, menghidupkan syiar agama, serta sebagai bentuk rasa syukur yang mendalam atas nikmat akal pikiran dan kesehatan fisik yang telah dianugerahkan Allah SWT.
Keberkahan luar biasa menanti bagi siapa saja yang menuntut ilmu dengan ketulusan hati dan niat yang lurus demi menggapai rida-Nya. Gus Mujab menjelaskan bahwa para malaikat akan membentangkan sayap-sayap mereka sebagai bentuk penghormatan dan rida terhadap langkah kaki sang penuntut ilmu selama mereka berjalan di jalan kebaikan. Tidak hanya itu, makhluk-makhluk lain di alam semesta, bahkan termasuk ikan-ikan yang berenang di lautan luas, turut memohonkan ampunan kepada Allah SWT bagi orang-orang yang ikhlas melangkahkan kaki demi mencari ilmu bermanfaat.
Dalam kajian tersebut, Gus Mujab juga memaparkan konsep hubungan yang erat antara Syariat, Tarekat, dan Hakikat yang sering kali disalahpahami oleh sebagian kalangan. Beliau menggunakan perumpamaan indah dari para ulama klasik, di mana syariat diibaratkan sebagai sebuah perahu atau kapal, tarekat adalah lautan tempat berlayar, sedangkan hakikat merupakan mutiara berharga yang tersembunyi di dasar laut. Melalui analogi ini, ditegaskan bahwa seseorang mustahil bisa mendapatkan mutiara hakikat yang indah jika ia enggan mendatangi lautan tarekat dan naik ke atas kapal syariat.
Menjelang akhir kajian, suasana menjadi lebih interaktif ketika salah seorang jemaah mengajukan pertanyaan mengenai bagaimana cara melatih diri agar bisa melaksanakan ibadah salat dengan khusyuk, mengingat hal tersebut dirasa sangat sulit di tengah kesibukan dunia. Menanggapi kegelisahan tersebut, Gus Mujab membesarkan hati jemaah dengan menyatakan bahwa kekhusyukan memang diakui sulit oleh semua orang. Namun, merujuk pada tuntunan Imam Al-Ghazali, kekhusyukan itu sebenarnya tidak datang secara tiba-tiba saat kita takbiratulihram, melainkan harus dipersiapkan sejak sebelum salat dimulai.

Gus Mujab kemudian memberikan kiat praktis, yaitu dengan memulai persiapan matang sejak berwudu, di mana setiap basuhan air disertai kesadaran batin dan doa untuk menyucikan anggota tubuh dari dosa maksiat. Selain itu, jemaah diimbau untuk datang ke masjid dengan tenang dan tidak terburu-buru hingga terengah-engah mengejar rakaat, sebab datang dengan tergesa-gesa justru dapat merusak kualitas kekhusyukan ibadah. Kajian mendalam mengenai mukadimah kitab Bidayatul Hidayah ini pun diakhiri dengan pembacaan surat Al-Fatihah bersama seluruh jemaah yang hadir.
Sumber: Pengajian Mukadimah Kitab Bidayatul Hidayah bersama KH. Ahmad Mujab Muthohar (Gus Mujab) yang diselenggarakan di Masjid Roudlotul Musyawarah (Kemayoran) Surabaya pada Selasa 7 Juli 2026.