Pesan Gus Kikin dari Masjid Kemayoran: Menjemput Malam yang Lebih Baik dari Seribu Bulan

KH. Abdul Hakim Mahfudz, Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Timur
KH. Abdul Hakim Mahfudz, Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Timur

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Surabaya – Mencari keberkahan di penghujung bulan suci merupakan dambaan setiap Muslim. Salah satu momen yang paling dinantikan adalah kehadiran malam Lailatul Qadar, sebuah malam yang kesuciannya telah diabadikan dalam Al-Qur’an sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan. Melalui sebuah kajian mendalam, kita diajak untuk memahami kembali esensi malam tersebut serta bagaimana mempersiapkan diri agar tidak melewatkan anugerah besar yang hanya datang setahun sekali ini.

Kajian rohani yang inspiratif ini dilaksanakan di Masjid Roudhotul Musyawarah (Kemayoran Surabaya) pada hari Jumat, 13 Maret 2026. Narasumber yang hadir memberikan materi adalah KH. Abdul Hakim Mahfudz, yang merupakan Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Timur. Beliau yang akrab disapa Gus Kikin ini juga merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang. Dalam ceramahnya, Gus Kikin mengupas tuntas kemuliaan malam Lailatul Qadar di hadapan para jamaah yang antusias menyimak.

Dalam awal peyampaiannya, Gus Kikin menekankan bahwa kemuliaan bulan Ramadan tidak dapat dipisahkan dari peristiwa turunnya kitab suci Al-Qur’an. Berbeda dengan kitab-kitab Samawi terdahulu seperti Taurat, Zabur, dan Injil yang juga diturunkan di bulan Ramadan secara sekaligus kepada para nabi, Al-Qur’an memiliki keunikan tersendiri. Al-Qur’an diturunkan dari Lauhul Mahfudz ke Baitul Izzah di langit dunia pada malam yang sangat istimewa, yakni malam Qadar.

Lebih lanjut, Gus Kikin menggambarkan betapa berat dan luasnya kandungan yang ada di dalam Al-Qur’an. Berdasarkan ayat suci, diibaratkan bahwa seandainya Al-Qur’an diturunkan kepada sebuah gunung, niscaya gunung tersebut akan tertunduk lesu dan hancur berkeping-keping karena rasa takutnya kepada Allah SWT. Perumpamaan ini diberikan agar manusia mau berpikir tentang betapa agungnya wahyu yang kini ada di tangan mereka sebagai petunjuk hidup dan pembeda antara yang hak dan yang batil.

Memasuki pembahasan inti mengenai Lailatul Qadar, Gus Kikin menceritakan latar belakang turunnya keutamaan malam tersebut. Suatu ketika, Rasulullah SAW bercerita tentang seorang pria dari Bani Israil yang berjuang di jalan Allah selama 83 tahun atau seribu bulan tanpa henti. Mendengar hal itu, para sahabat merasa cemas karena usia umat Nabi Muhammad SAW cenderung lebih pendek, yakni berkisar antara 60 hingga 70 tahun saja, sehingga sulit untuk menandingi pahala ibadah sepanjang seribu bulan.

Sebagai jawaban atas kegelisahan tersebut, Allah SWT menurunkan surah Al-Qadr yang menegaskan bahwa ibadah pada satu malam Lailatul Qadar lebih baik daripada seribu bulan. Ini merupakan bentuk kasih sayang dan “bonus” besar dari Allah bagi umat Nabi Muhammad SAW. Dengan satu malam yang penuh berkah, seorang mukmin bisa meraih pahala yang setara atau bahkan melampaui ibadah yang dilakukan oleh orang-orang terdahulu selama puluhan tahun lamanya.

Gus Kikin juga memberikan panduan praktis mengenai kapan waktu yang tepat untuk mencari malam istimewa tersebut. Berdasarkan tuntunan sunah, Lailatul Qadar sangat kuat kemungkinannya terjadi pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir bulan Ramadan, yakni malam ke-21, 23, 25, 27, dan 29. Beliau mengajak para jamaah untuk tidak menjadi “pelit” dalam beribadah dan sebaiknya memperjuangkan seluruh malam di akhir Ramadan agar tidak kehilangan kesempatan emas ini.

Agar sukses meraih Lailatul Qadar, persiapan yang matang ternyata harus dilakukan jauh hari sebelum Ramadan tiba. Beliau menjelaskan bahwa momen Isra Mikraj di bulan Rajab merupakan titik awal bagi setiap Muslim untuk memperbaiki kualitas sholatnya. Sholat adalah sarana komunikasi utama antara hamba dengan Sang Pencipta. Jika sholat seseorang sudah baik dan khusyuk sejak bulan Rajab, maka ia akan memiliki modal mental yang kuat untuk menjalani ibadah intensif di bulan Ramadan.

Selain sholat, konsep Ihsan dalam beribadah turut ditekankan dalam kajian ini. Ihsan berarti beribadah seolah-olah kita melihat Allah, atau jika tidak mampu, kita harus yakin sepenuhnya bahwa Allah selalu mengawasi kita. Dengan menanamkan rasa diawasi oleh Allah, kualitas ibadah seseorang akan meningkat dan ia akan terhindar dari perbuatan keji serta mungkar dalam kehidupan sehari-hari, yang pada akhirnya menciptakan ketenangan di lingkungan sekitarnya.

Menjelang akhir Ramadan, Gus Kikin mengingatkan bahwa Allah memberikan berbagai lapisan ampunan, mulai dari curahan rahmat di sepuluh hari pertama, ampunan (magfirah) di sepuluh hari kedua, hingga pembebasan dari api neraka di sepuluh hari terakhir. Momentum ini harus dimanfaatkan dengan memperbanyak bacaan Al-Qur’an dan merenungkan maknanya, terlebih di zaman sekarang di mana akses terhadap tafsir Al-Qur’an sudah sangat mudah melalui perangkat digital.

Meskipun dosa kepada Allah dapat terhapus melalui ibadah di bulan Ramadan, Gus Kikin menegaskan bahwa dosa kepada sesama manusia atau Haqqul Adami tidak akan hilang begitu saja. Oleh karena itu, momen Idul Fitri harus dijadikan ajang untuk saling memaafkan secara tulus. Membersihkan hati dari rasa dengki, benci, dan permusuhan adalah bagian dari proses kembali ke fitrah, sehingga setiap Muslim benar-benar memulai lembaran baru yang suci.

Sebagai penutup, Gus Kikin mengajak jamaah untuk bersyukur tinggal di Indonesia yang memiliki suasana aman untuk beribadah. Beliau berharap agar segala rangkaian ibadah Ramadan, mulai dari puasa, sholat malam, hingga pencarian Lailatul Qadar, diterima oleh Allah SWT. Dengan hati yang bersih dan jiwa yang tenang setelah Ramadan, setiap Muslim diharapkan siap menghadapi sebelas bulan berikutnya dengan semangat ketakwaan yang tetap terjaga.

Sumber: Kajian Menjelang Berbuka Masjid Roudhotul Musyawarah (Kemayoran Surabaya) pada hari Jumat, 13 Maret 2026 Bersama KH. Abdul Hakim Mahfudz yang membahas Lailatul Qadar

E-Buletin