Kabarmasjid.id, Surabaya – Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern yang menuntut manusia untuk terus mengejar materi, kebutuhan spiritual sering kali terabaikan. Manusia kerap terjebak dalam rutinitas tanpa memahami hakikat sejati dari keberadaan mereka di dunia. Untuk menyegarkan kembali rohani dan mempertegas kembali komitmen menghamba kepada Sang Pencipta, majelis ilmu hadir sebagai oase yang menyejukkan hati. Salah satu ruang kontemplasi yang mendalam ini tersaji dalam kajian keagamaan yang mengupas tuntas urgensi ilmu dan amal demi meraih keselamatan di akhirat.
Kajian kitab yang mendalam ini disampaikan langsung oleh Habib Ahmad Yunus Al-Muhdhor dalam acara Pengajian Rutin yang berlangsung pada hari Rabu, 3 Juni 2026. Bertempat di Masjid Nur Syamsiah, kajian ini dihadiri oleh para jemaah yang antusias mendengarkan untaian nasihat spiritual. Dalam ceramahnya, beliau menekankan bahwa esensi utama dari penciptaan alam semesta, manusia, bahkan diturunkannya kitab-kitab suci sejak zaman para nabi terdahulu, tidak lain adalah untuk menegakkan dua pilar utama dalam kehidupan, yaitu ilmu dan ibadah.
Mengawali kajiannya, Habib Ahmad Yunus Al-Muhdhor mengingatkan jemaah tentang betapa besarnya keutamaan melangkah ke majelis ilmu. Beliau menyitir sebuah hadis Rasulullah SAW yang menegaskan bahwa barang siapa yang mendatangi masjid tanpa ada niatan lain kecuali untuk mempelajari satu bab ilmu agama, maka Allah SWT akan mencatatkan baginya pahala yang setara dengan ibadah haji dan umrah secara sempurna. Di masa-masa ketika umat Islam tengah menyambut kepulangan jemaah haji, menghadiri majelis ilmu menjadi jalan alternatif yang luar biasa bagi siapa saja yang merindukan limpahan pahala serupa di tanah air.
Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa ilmu bertindak sebagai benteng kokoh yang menjaga seorang hamba dari melakukan perbuatan yang tidak diridai oleh Allah SWT. Tanpa ilmu, manusia akan berjalan di dalam kegelapan dan rentan tergelincir ke dalam kemaksiatan. Oleh karena itu, perintah untuk menjaga diri dan keluarga dari siksa api neraka, sebagaimana yang termaktub dalam Al-Qur’an, ditafsirkan oleh para ulama terdahulu—termasuk Sayidina Ali bin Abi Thalib—sebagai perintah untuk mengajarkan ilmu (taklim) sekaligus mendidik (takdib) mereka agar mengetahui batas-batas syariat.
Untuk memberikan gambaran yang mudah dipahami, narasumber memberikan sebuah analogi fikih yang sangat menarik mengenai hewan buruan. Dalam hukum Islam, anjing secara asal merupakan hewan yang memiliki aturan ketat terkait kenajisannya, namun status hukumnya dapat berubah secara drastis apabila hewan tersebut dididik dan dilatih (alkalbul muallam) untuk berburu atau menjaga keamanan. Hewan yang telah dilatih dengan metode yang benar, jika dilepaskan untuk berburu dan berhasil melumpuhkan mangsanya tanpa memakannya, maka hasil buruannya menjadi sah dan halal untuk dikonsumsi oleh manusia.
Melalui analogi tersebut, Habib Ahmad Yunus Al-Muhdhor mengajak jemaah untuk merenungkan hakikat pendidikan. Jika seekor hewan yang tidak memiliki akal budi saja dapat berubah status hukumnya dan mendatangkan kemaslahatan berkat sebuah pengajaran serta latihan yang disiplin, maka logikanya manusia tentu memiliki potensi yang jauh lebih besar. Manusia dewasa, istri, anak-anak, dan kerabat yang dididik dengan syariat Islam pasti akan menghasilkan perbuatan yang mulia, mampu menempatkan diri dengan benar, dan terjaga dari langkah-langkah yang menyeret mereka ke dalam api neraka.
Namun, beliau juga memberikan catatan kritis bahwa ilmu dan ibadah adalah dua hal yang tidak boleh dipisahkan. Menyitir pandangan Al-Imam Al-Ghazali, beliau menegaskan bahwa ilmu dan ibadah merupakan dua permata yang saling berkesinambungan. Ilmu diibaratkan sebagai sebuah pohon, sedangkan ibadah atau amal shaleh adalah buahnya. Seseorang tidak akan mungkin bisa memetik buah tanpa adanya pohon yang tumbuh dengan baik, dan sebaliknya, menanam pohon tanpa merawatnya hingga berbuah tentu akan menjadi sebuah kesia-siaan yang tidak memberikan manfaat nyata.
Beliau menerangkan secara tegas bahwa ilmu berkedudukan sebagai pemimpin (imam) dari sebuah amalan, sedangkan amalan itu sendiri bertindak sebagai pengikutnya (makmum). Segala bentuk ibadah yang dilakukan tanpa didasari oleh fondasi ilmu yang benar akan menjadi rapuh dan mudah goyah. Sebagai contoh, seseorang yang rajin beribadah namun tidak memahami fikihnya, mungkin saja ibadahnya akan runtuh sekadar karena perubahan cuaca atau suasana hati yang sedang tidak nyaman, karena mereka tidak mengembalikan amalan tersebut pada asas hukum yang kuat.
Sebaliknya, ilmu yang luas tanpa diiringi dengan implementasi ibadah juga tidak akan membawa keberkahan, bahkan bisa menjauhkan diri dari Allah SWT. Habib Ahmad Yunus Al-Muhdhor memberikan ilustrasi nyata mengenai orang yang tahu betul tentang ilmu sedekah, namun mengabaikan kerabat terdekatnya yang sedang kesulitan hanya karena adanya konflik personal di masa lalu, lalu justru memilih bersedekah kepada orang asing yang jauh demi kesenangan pribadi. Hal ini disebut sebagai bentuk ibadah yang mengorbankan ilmu, di mana hawa nafsu dan selera pribadi masih mendominasi di atas aturan agama.
Oleh karena itu, dalam menuntut ilmu, beliau mengingatkan pentingnya sikap selektif dalam memilih guru atau sumber belajar. Mengutip nasihat dari ulama jalur nasab Al-Idrus, beliau menjelaskan bahwa kesalahan dalam mendengarkan sumber ilmu dapat berakibat fatal pada hasil amalan. Jika sumber ilmu yang diambil berasal dari seseorang yang hatinya masih dipenuhi oleh hawa nafsu, maka ilmu yang diserap pun akan digunakan demi memuaskan hawa nafsu semata. Guru yang tepat adalah mereka yang kebersihannya batinnya mampu memancarkan cahaya, yang tatkala dipandang dapat membangkitkan kerinduan hati untuk semakin taat kepada Allah SWT.

Di penghujung kajian spiritual ini, Habib Ahmad Yunus Al-Muhdhor memanfaatkan momen untuk memberikan pembekalan penting bagi para jemaah terkait pergantian tahun baru Hijriah yang akan segera datang. Beliau mengimbau agar momentum transisi waktu tersebut tidak dilewatkan begitu saja secara hampa, melainkan diisi dengan peningkatan kualitas spiritual secara sadar. Waktu berjalan dengan sangat cepat, sehingga setiap Muslim harus bergegas mempersiapkan perisai batin terbaiknya guna menghadapi tahun yang baru dengan penuh keberkahan dan perlindungan dari Sang Khalik.
Secara konkret, beliau menjabarkan beberapa amalan utama yang sangat dianjurkan untuk menyambut bulan Muharram. Jemaah diajak untuk melaksanakan ibadah puasa sunah selama dua hari berturut-turut, yaitu pada hari terakhir bulan Zulhijah sebagai penutup tahun dan hari pertama bulan Muharram sebagai pembuka tahun. Selain puasa, amalan penting lainnya yang ditekankan adalah menghidupkan malam dengan salat berjamaah, membaca doa akhir dan awal tahun, memperbanyak istigfar, bersedekah, menghindari kemaksiatan, serta yang paling utama adalah memperkuat silaturahmi dan berbakti kepada kedua orang tua.
Sumber: Pengajian rutin bersama Habib Ahmad Yunus Al-Muhdhor di Masjid Nur Syamsiah pada, Rabu 3 Juni 2026