Kabarmasjid.id, Surabaya – Suasana khidmat menyelimuti ruang utama Masjid Imam Syafi’i, Surabaya, saat ratusan jemaah berkumpul selepas menunaikan ibadah salat Magrib pada Rabu, 1 Juli 2026, untuk menyimak Kajian Spesial bertajuk “Detik-Detik Menjelang Wafatnya Rasulullah”,. Kajian ilmiah yang menyentuh hati ini disampaikan secara langsung oleh Ustadz Bachtiar Abu Zakian, Lc., seorang pakar sirah nabawiyah yang mengupas tuntas lembaran-lembaran akhir kehidupan manusia paling mulia di muka bumi,. Dalam pemaparannya, sang ustadz mengajak kaum muslimin untuk menyelami kembali tanda-tanda kekuasaan Allah yang termaktub di dalam ayat-ayat Al-Qur’an serta sabda-sabda perpisahan dari lisan suci Nabi Muhammad ﷺ.
Meningkat kembali lembaran sejarah akhir hayat Rasulullah ﷺ bukanlah sekadar mengenang sebuah peristiwa duka, melainkan sebuah sarana krusial untuk memperkokoh fondasi keimanan dan istiqamah seorang muslim. Setiap mukmin dituntut untuk memahami bahwa syariat Islam telah disempurnakan dengan paripurna sebelum beliau berpulang ke haribaan Ilahi. Melalui kajian yang terbagi dalam dua sesi ini, Ustadz Bachtiar memfokuskan pembahasan pertama pada untaian ayat serta hadis shahih yang secara implisit maupun eksplisit menjadi nubuwat dan isyarat bahwa masa tugas sang nabi di dunia fana ini segera berakhir.
Isyarat pertama dari Al-Qur’an yang dikupas dalam kajian tersebut adalah Surah Ali ‘Imran ayat 144, sebuah ayat yang diturunkan oleh Allah SWT di saat berkecamuknya fase-fase akhir Perang Uhud yang sangat berat bagi kaum muslimin. Kala itu, kondisi fisik Rasulullah ﷺ mengalami luka parah akibat serangan bertubi-tubi dari kaum musyrikin, hingga iblis memanfaatkan momentum tersebut dengan menyebarkan berita bohong bahwa Muhammad ﷺ telah terbunuh. Teriakan dusta tersebut sempat meruntuhkan mental sebagian sahabat, sebelum akhirnya ayat ini turun untuk menegaskan status beliau sebagai seorang utusan yang tidak kekal, sekaligus mengingatkan umat agar tetap teguh memeluk Islam meski tanpa kehadiran fisik sang nabi.
Selanjutnya, Ustadz Bachtiar menjelaskan isyarat kedua yang terekam di dalam Surah Az-Zumar ayat 30, yang berbunyi Innakum mayyitun wa innahum lamayyitun. Ayat ini diturunkan sebagai jawaban telak dari Allah SWT atas angan-angan kosong dan doa-doa buruk kaum Quraisy di Makkah yang selalu menanti-nantikan kematian Rasulullah ﷺ agar dakwah tauhid terhenti. Melalui ayat ini, Allah SWT menegaskan kepastian hukum alam bahwa setiap makhluk yang bernyawa, baik Rasulullah ﷺ maupun musuh-musuh beliau yang menaruh kebencian, pada akhirnya akan sama-sama menemui ajal dan kelak akan disidang di hadapan mahkamah keadilan Ilahi pada hari kiamat.
Tak kalah penting, Surah Al-Anbiya ayat 34 menjadi pijakan ketiga yang menegaskan bahwa keabadian di dunia ini tidak pernah diberikan kepada manusia mana pun sebelum Nabi Muhammad ﷺ. Menariknya, dalam sesi tafsir ayat ini, Ustadz Bachtiar mengutip pandangan mendalam dari Al-Imam Ibnu Katsir yang menggunakan ayat tersebut sebagai dalil mutlak atas wafatnya Nabi Khidr ‘alaihis salam. Penjelasan ini sekaligus meluruskan pemahaman sebagian kalangan masyarakat yang keliru dan masih meyakini bahwa Nabi Khidr masih hidup secara fisik hingga zaman sekarang, sebab sebagai seorang manusia, beliau pun terikat pada ketetapan wafat yang digariskan oleh Allah SWT.
Isyarat dari kitab suci Al-Qur’an ditutup dengan pembahasan Surah An-Nasr, sebuah surat pendek yang dihafal luas oleh umat Islam namun menyimpan makna perpisahan yang sangat mendalam. Surat yang menceritakan tentang datangnya pertolongan Allah dan kemenangan mutlak Islam ini diturunkan hanya berkisar tiga bulan sebelum wafatnya Rasulullah ﷺ, tepatnya saat momen historis Haji Wada’. Sahabat senior seperti Umar bin Khattab dan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma langsung menangis dan menyadari makna terdalam dari surat ini, yaitu pertanda bahwa misi dakwah sang nabi telah paripurna dan ajal beliau sudah berada di ambang pintu.
Memasuki pembahasan dari jalur hadis, Ustadz Bachtiar memaparkan momentum mengharukan saat Rasulullah ﷺ menyampaikan khutbah di Padang Arafah dan Mina di hadapan lebih dari seratus ribu jemaah yang menghadiri Haji Wada’. Di bawah terik matahari, setelah beliau memastikan bahwa seluruh amanah risalah telah tersampaikan dan dipersaksikan oleh para sahabat, beliau melontarkan kalimat yang menggetarkan hati. Beliau bersabda agar kaum muslimin benar-benar mempelajari tata cara manasik haji dari beliau, seraya berpesan bahwa bisa jadi tahun depan beliau tidak akan lagi dapat berkumpul dan menunaikan ibadah haji bersama umatnya.
Isyarat perpisahan berikutnya terjadi dalam rangkaian perjalanan pulang dari Makkah menuju Madinah, tepatnya pada tanggal 18 Dzulhijjah di sebuah tempat pemberhentian dekat mata air bernama Ghadir Khum. Di tempat yang sunyi itu, Rasulullah ﷺ dengan sengaja mengumpulkan para sahabat untuk berdiri memberikan wasiat penting dan deklarasi akhir mengenai perjalanan hidupnya. Beliau dengan penuh keterbukaan menyatakan diri sebagai manusia biasa yang sewaktu-waktu akan didatangi oleh utusan Allah (malaikat maut) untuk menjemput ruhnya, dan beliau menegaskan kesiapannya untuk menjawab serta memenuhi panggilan suci tersebut.
Dalam khutbah di Ghadir Khum tersebut, Rasulullah ﷺ juga meninggalkan dua perkara berat dan berharga sebagai pedoman hidup agar umat Islam tidak tersesat setelah kepergian beliau, di mana perkara yang paling utama adalah Kitabullah (Al-Qur’an). Beliau menekankan dengan sangat kuat agar kaum muslimin berpegang teguh pada petunjuk dan cahaya yang ada di dalam Al-Qur’an serta senantiasa mencintainya. Nasihat ini menjadi benteng terakhir yang diwariskan oleh nabi demi menjaga kemurnian akidah umat dari badai fitnah yang diprediksi akan muncul pasca-berakhirnya era kenabian secara fisik di dunia.
Puncak keharuan kajian ini membuncah ketika Ustadz Bachtiar menceritakan kisah dialog perpisahan antara Rasulullah ﷺ dengan sahabat mudanya yang sangat cerdas, Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu. Peristiwa monumental ini terjadi sekitar satu bulan menjelang wafatnya nabi, ketika beliau memutuskan untuk mengutus Mu’adz pergi ke negeri Yaman guna bertindak sebagai qadhi (hakim), mufti, dan dai yang mengajarkan syariat Islam. Sebelum melepas keberangkatan sang sahabat, Rasulullah ﷺ menyempatkan diri berjalan kaki di samping kendaraan Mu’adz demi memberikan untaian wasiat terakhirnya.
Saat momen pelepasan itulah, Rasulullah ﷺ memegang tangan Mu’adz seraya melontarkan sabda yang memorak-porandakan perasaan, “Wahai Mu’adz, sesungguhnya bisa jadi engkau tidak akan bisa bertemu lagi denganku setelah tahun ini, dan bisa jadi engkau hanya akan melewati masjidku dan kuburanku ini.” Mendengar kalimat yang begitu personal dan sarat akan isyarat kematian tersebut, Mu’adz bin Jabal tidak mampu lagi membendung air matanya dan menangis tersedu-sedu di atas kendaraannya karena menyadari bahwa tugas suci ke Yaman ini sekaligus menjadi penanda perpisahan abadi dirinya dengan sang kekasih tercinta.

Melihat kesedihan mendalam yang dialami oleh Mu’adz, Rasulullah ﷺ kemudian menenangkan sahabatnya dengan memberikan sebuah kabar gembira yang juga menjadi oase penyejuk bagi seluruh umat Islam hingga akhir zaman. Beliau menegaskan bahwa orang yang paling dekat kedudukannya dengan beliau di dalam surga kelak bukanlah diukur dari kedekatan geografis semata, melainkan mereka yang bertakwa kepada Allah SWT di mana pun dan kapan pun mereka berada. Kajian sesi pertama ini pun diakhiri dengan doa bersama sebelum kumandang azan Isya, menyisakan kerinduan yang mendalam di hati para jemaah untuk terus meneladani jejak takwa Rasulullah ﷺ hingga maut memisahkan.
Rangkaian isyarat langit melalui ayat-ayat Al-Qur’an serta lambaian perpisahan lewat hadis-hadis shahih ini memberikan kesimpulan besar bagi umat Islam. Wafatnya Rasulullah ﷺ bukanlah akhir dari segalanya, melainkan sebuah gerbang ujian bagi generasi setelahnya untuk membuktikan loyalitas iman yang sejati. Kehadiran fisik beliau boleh saja telah tiada dan terkubur di Madinah, namun warisan agung berupa Al-Qur’an dan Sunnah yang telah disempurnakan akan terus hidup menjadi pelita penuntun yang abadi. Tugas sejarah kini beralih ke pundak setiap muslim untuk menjaga konsistensi ibadah, merawat nilai-nilai takwa, dan menghidupkan syariat Islam secara utuh sebagai bentuk cinta sejati kepada sang uswatun hasanah.
Sumber: Kajian Spesial dengan tajuk “Detik-Detik Menjelang Wafatnya Rasulullah” yang disampaikan oleh Al Ustadz Bachtiar Abu Zakian, Lc. di Masjid Imam Syafi’i, Surabaya, pada Rabu 1 Juli 2026