Peringatan Rasulullah SAW tentang 5 Perkara yang Dicintai Sekaligus Dilupakan Manusia di Akhir Zaman

Ustadz H. Ahmad Muzakki Alhafidz
Ustadz H. Ahmad Muzakki Alhafidz

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Surabaya – Dunia hari ini sering kali menjebak manusia dalam perlombaan yang tidak pernah usai. Modernitas menawarkan gemerlap materi, kemewahan visual, dan pengakuan sosial yang membuat banyak orang berlari tanpa henti demi mengejar standar kenyamanan yang diciptakan manusia. Namun, di tengah kepungan gaya hidup konsumtif tersebut, esensi kebahagiaan sejati justru kerap menguap, meninggalkan jiwa-jiwa yang merasa hampa dan lelah.

Menjawab keresahan spiritual masyarakat modern tersebut, Ustadz H. Ahmad Muzakki Alhafidz menyampaikan sebuah refleksi mendalam dalam kajian Kitab Nashoihul Ibad edisi Senin, 29 Juni 2026. Berlangsung di Ruang Utama Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya pada waktu setelah magrib, kajian yang disiarkan secara luas ini mengupas tuntas realitas sosial-keagamaan yang sangat relevan dengan dinamika kehidupan masyarakat urban saat ini.

Dalam pemaparannya, Ustadz Ahmad Muzakki membuka kajian dengan mengutip pelajaran ke-26 dari kitab legendaris tersebut, yakni sebuah hadis Nabi Muhammad SAW yang meramalkan potret mentalitas umat di akhir zaman. Rasulullah SAW memperingatkan bahwa akan datang suatu masa di mana manusia terjangkit lima penyakit psikologis dan spiritual yang akut. Penyakit tersebut bersumber dari satu muara: mencintai lima perkara duniawi secara berlebihan, hingga tega melupakan lima perkara ukhrawi yang bersifat abadi.

Penyakit pertama dan kedua yang disorot adalah kecenderungan manusia yang begitu mencintai gemerlap dunia dan kehidupan fana, namun di saat yang sama melupakan akhirat serta kematian. Fenomena ini menciptakan ilusi seolah-olah waktu yang dimiliki di dunia tidak akan pernah habis. Manusia menjadi sangat sibuk menata karier, mengumpulkan aset, dan mempercantik performa lahiriah, tetapi melupakan investasi batiniah yang menjadi bekal utama saat menghadap Sang Pencipta.

Melanjutkan poin ketiga, kajian ini menyoroti fenomena manusia yang sangat gemar membangun istana atau rumah-rumah yang besar dan mewah (kusur), tetapi abai terhadap kondisi masa depan mereka di alam kubur. Ustadz Ahmad Muzakki kemudian membagikan sebuah catatan refleksi yang sangat menarik mengenai apa yang beliau sebut sebagai “mental memiliki tetapi tidak merasakan.” Sebuah sindiran halus yang menampar realitas kehidupan kaum borjuis hari ini.

Beliau menceritakan pengalaman pribadinya saat diundang ke beberapa rumah mewah milik koleganya di Jakarta dan Batam untuk mengisi acara keagamaan. Beliau menyaksikan sendiri bagaimana sebuah rumah dibangun begitu megah hingga membuat tamu tersesat di dalamnya. Namun ironisnya, rumah tersebut justru kosong dan tidak pernah ditinggali oleh pemilik aslinya selama bertahun-tahun karena kesibukan bisnis yang padat di luar kota.

Fasilitas super mewah seperti kolam renang pribadi, kulkas yang selalu penuh dengan makanan mahal, hingga ruang karaoke yang canggih pada akhirnya justru dinikmati sepenuhnya oleh asisten rumah tangga yang menjaga tempat tersebut. Di sinilah letak ironinya: sang pemilik bekerja keras hingga mengorbankan waktu demi status kepemilikan aset, sementara orang lain yang tidak mengeluarkan modal justru mendapatkan esensi dari kemanfaatan dan rasa nyaman aset tersebut.

Penyakit keempat yang tidak kalah berbahaya adalah kecintaan yang buta terhadap harta benda yang berujung pada melupakan beratnya proses hisab di akhirat kelak. Banyak orang terjebak dalam seminar-seminar instan yang mendoktrin bahwa seorang muslim diwajibkan untuk kaya raya tanpa memahami batasannya. Ustadz Ahmad Muzakki meluruskan bahwa dalam Islam, menjadi kaya hukumnya adalah mubah (boleh) dan bukan sebuah kewajiban, sebab yang menjadi kewajiban utama seorang hamba adalah menanamkan sifat qanaah atau merasa cukup atas ketetapan Allah.

Beliau menambahkan bahwa keberkahan hidup tidak diukur dari nominal angka, melainkan dari bagaimana harta yang halal mampu mencukupi kebutuhan dan mendatangkan ketenangan jiwa. Berkah itu nyata, di mana rezeki yang dijaga kesuciannya dari jalur yang haram akan selalu menemukan jalannya sendiri untuk mencukupi kebutuhan hamba-Nya secara tak terduga. Sebaliknya, harta yang melimpah tanpa keberkahan hanya akan melahirkan kecemasan dan ketakutan akan kehilangan.

Lebih lanjut, poin kelima dari penyakit akhir zaman ini adalah ketika manusia lebih mencintai makhluk dan sibuk mencari rida sesama, hingga tega melupakan Allah selaku Sang Pencipta. Demi mendapatkan pengakuan, pujian, atau posisi sosial di mata manusia, seseorang sering kali rela mengorbankan prinsip-prinsip agamanya. Padahal, menggantungkan harapan dan kebahagiaan kepada penilaian manusia adalah awal dari kekecewaan yang mendalam.

Untuk menggambarkan betapa fana dan melelahkannya mencari kepuasan di mata manusia, Ustadz Ahmad Muzakki menceritakan kisah klasik yang sarat makna tentang Luqman al-Hakim dan putranya saat melakukan perjalanan bersama seekor keledai. Apa pun pilihan posisi yang mereka ambil saat melewati perkampungan—apakah naik berdua, hanya anaknya yang naik, hanya ayahnya yang naik, atau bahkan keledai itu dituntun bersama—mereka tetap tidak luput dari celaan dan komentar miring orang sekampung. Kisah ini menjadi penegas bahwa menutup telinga dari nyinyiran manusia dan berfokus pada rida Allah adalah satu-satunya jalan menuju ketenangan hidup.

Sebagai penutup kajian sebelum azan Isya berkumandang, beliau mengajak jamaah untuk membentengi diri dengan senantiasa menjaga keseimbangan batin melalui zikir, menjaga makanan agar tetap halal, dan merutinkan doa perlindungan agar diwafatkan dalam kondisi khusnul khotimah. Kajian Kitab Nashoihul Ibad malam itu sukses meninggalkan pesan mendalam bagi masyarakat Surabaya: bahwa hidup yang indah bukanlah tentang seberapa banyak aset yang kita kuasai, melainkan seberapa berkah dan bermanfaatnya apa yang kita rasakan.

Sumber: Kajian Kitab Nashoihul Ibad yang disampaikan oleh Ustadz H. Ahmad Muzakki Alhafidz di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya pada Senin, 29 Juni 2026

E-Buletin