Kabarmasjid.id, Surabaya – Kehadiran sosok ulama di lingkaran kekuasaan sering kali menjadi perdebatan panjang. Namun, sejarah Islam mencatat satu nama yang mampu menjadi kompas moral bagi para penguasa tanpa sedikit pun kehilangan integritasnya. Beliau adalah Raja’ bin Haiwah Al-Kindi, seorang tokoh yang membuktikan bahwa kedekatan dengan istana bisa menjadi jalan kemaslahatan jika dilandasi keikhlasan dan keberanian menyampaikan kebenaran.
Kajian mendalam mengenai sosok ini disampaikan oleh Ustadz. Isa S. Kuddeh, M.Pd.I. dalam sebuah majelis ilmu yang berlangsung pada waktu subuh, 1 Februari 2026, bertempat di Masjid Al-Irsyad, Surabaya. Melalui siaran Masjid Al-Irsyad TV, beliau membedah bagaimana Raja’ bin Haiwah memainkan peran strategis sebagai menteri sekaligus ulama yang lurus di masa kekhilafahan Bani Umayyah.
Raja’ bin Haiwah Al-Kindi merupakan tokoh dari generasi Tabiin besar yang lahir di Palestina pada akhir masa kekhilafahan Utsman bin Affan. Ia dikenal bukan sekadar sebagai pejabat, melainkan seorang fakih yang mendapatkan ilmu langsung dari para sahabat Nabi seperti Abu Said Al-Khudri dan Abu Darda. Kedalaman ilmunya inilah yang kemudian membuatnya dipercaya menjadi penasihat utama bagi para khalifah.
Dalam kajiannya, Ustadz Isa menjelaskan bahwa di masa salaf terdapat dua sikap ulama terhadap kekuasaan. Sebagian besar memilih menjauh karena takut akan fitnah jabatan, sementara sebagian kecil lainnya, termasuk Raja’ bin Haiwah, memilih masuk ke dalam sistem. Tujuannya sangat spesifik: menjadi kontrol bagi penguasa agar tetap berjalan di atas koridor syariat dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat luas.
Salah satu fragmen penting yang disorot adalah keberanian Raja’ dalam mencegah kezaliman. Suatu ketika, Khalifah Abdul Malik bin Marwan sedang dalam kemarahan besar dan bersumpah akan mengeksekusi seorang lawan politiknya. Raja’ bin Haiwah dengan tenang menasihati bahwa karena Allah telah memberikan kekuasaan yang disukai khalifah, maka hendaknya khalifah membalasnya dengan melakukan apa yang disukai Allah, yaitu memberi maaf.
Interaksi Raja’ dengan penguasa tidak didasari oleh kepentingan materi atau pujian. Ia memegang teguh prinsip bahwa jabatan adalah ujian, bukan anugerah. Ust. Isa menceritakan bagaimana Raja’ pernah mendapatkan nasihat dari sosok misterius untuk menjadikan kedekatannya dengan penguasa sebagai jalan menolong orang-orang lemah, sebuah prinsip yang ia pegang teguh sepanjang pengabdiannya di istana.
Puncak kontribusi terbesar Raja’ bin Haiwah bagi sejarah Islam terjadi pada masa transisi kekuasaan setelah Sulaiman bin Abdul Malik. Saat sang khalifah jatuh sakit di Syiria, ia awalnya berniat menunjuk putranya sendiri yang masih kecil untuk menjadi pengganti. Inilah momen di mana integritas Raja’ sebagai ulama diuji untuk melawan praktik nepotisme yang tidak sehat bagi umat.
Dengan penuh keberanian, Raja’ mengingatkan Khalifah Sulaiman bahwa penunjukan pemimpin yang tidak kompeten atau belum cukup umur akan menjadi beban berat bagi sang khalifah saat menghadapi pengadilan Allah di akhirat nanti. Ia menyarankan agar posisi tersebut diberikan kepada sosok yang paling saleh dan cakap, demi menyelamatkan sang pemimpin dari siksa kubur dan tanggung jawab yang menyengsarakan.
Melalui diplomasi yang cerdas namun jujur, Raja’ berhasil meyakinkan Sulaiman bin Abdul Malik untuk menunjuk Umar bin Abdul Aziz sebagai khalifah berikutnya. Penunjukan ini menjadi titik balik sejarah, di mana Umar bin Abdul Aziz kemudian dikenal sebagai salah satu pemimpin paling adil yang pernah ada, yang sering disebut sebagai “Khalifah kelima” karena kesalehannya.
Raja’ bin Haiwah terus mendampingi Umar bin Abdul Aziz selama masa pemerintahannya yang penuh berkah. Namun, yang menarik adalah sikapnya setelah sang khalifah wafat. Ketika sistem kekuasaan mulai berubah dan nasihat-nasihat ulama tidak lagi menjadi prioritas utama bagi pemimpin selanjutnya, Raja’ tidak memaksakan diri untuk tetap berada di lingkungan istana.
Beliau memilih untuk mundur dan menolak segala tawaran jabatan dari penguasa-penguasa setelahnya. Tindakan ini membuktikan bahwa keberadaannya di istana selama ini murni demi maslahat agama, bukan karena haus akan kekuasaan. Baginya, jika suara kebenaran tidak lagi didengar, maka menjauh dari lingkaran tersebut adalah pilihan terbaik untuk menjaga iman.
Kisah hidup Raja’ bin Haiwah Al-Kindi yang dipaparkan dalam kajian ini memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya integritas. Di tengah kelangkaan sosok ulama yang mampu berdiri tegak di hadapan kekuasaan tanpa menjadi penjilat, Raja’ bin Haiwah hadir sebagai teladan abadi bagi siapa pun yang memiliki peran di lingkungan kepemimpinan untuk tetap tulus dan berani dalam menyampaikan kebenaran.
Sumber: Kajian Tematik Masjid Al Irsyad Surabaya Bersama Ustadz. Isa S. Kuddeh, M.Pd.I. yang membahas Tokoh Tokoh Islam yakni Raja’ bin Haiwah Al-Kindi