Pentingnya Deteksi Dini Kelainan Tulang pada Anak dan Penanganan Penuaan Sendi Menurut Pakar Ortopedi

dr. Yunus, Sp.OT (K) spesialis ortopedi dan traumatologi konsultan onkologi ortopedi (tumor tulang).
dr. Yunus, Sp.OT (K) spesialis ortopedi dan traumatologi konsultan onkologi ortopedi (tumor tulang).

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Surabaya – Dunia medis sering kali dipandang sebagai labirin istilah yang rumit bagi masyarakat awam, terutama ketika berbicara mengenai kesehatan tulang dan sendi. Namun, memahami mekanisme tubuh sendiri adalah langkah pertama menuju kualitas hidup yang lebih baik di masa tua. Melalui pemahaman yang tepat, kita dapat melakukan pencegahan dini terhadap berbagai risiko gangguan gerak yang sering kali dianggap sebagai beban penuaan yang tak terelakkan.

Kajian kesehatan yang mendalam ini diselenggarakan pada hari Jumat, 8 Mei 2026, bertempat di Masjid Taqwa Surabaya dengan menghadirkan narasumber ahli, dr. Yunus, Sp.OT (K) spesialis ortopedi dan traumatologi konsultan onkologi ortopedi (tumor tulang). Dalam kesempatan tersebut, dr. Yunus memaparkan bahwa ortopedi bukan sekadar ilmu tentang tulang, melainkan mencakup seluruh sistem lokomotor atau alat gerak manusia. Sistem ini merupakan kolaborasi harmonis antara tulang sebagai alat gerak pasif, otot sebagai alat gerak aktif, serta tendon, ligamen, dan saraf yang berfungsi sebagai pengatur komando gerak.

Dalam paparannya, dr. Yunus meluruskan persepsi umum bahwa tulang adalah satu-satunya komponen utama. Beliau menganalogikan tulang seperti engsel pintu yang tidak akan bisa bergerak tanpa adanya tarikan dari otot melalui perantara tendon. Sementara itu, saraf berperan krusial layaknya kabel listrik yang mengalirkan perintah dari otak ke seluruh anggota gerak, sehingga kerusakan pada jalur saraf di tulang belakang dapat berdampak langsung pada kemampuan motorik seseorang.

Topik menarik lainnya yang dibahas adalah mengenai kelainan bawaan atau kongenital pada bayi, seperti kaki pengkor (CTEV) dan sendi panggul lepas (DDH). dr. Yunus menekankan pentingnya deteksi dini oleh orang tua, misalnya dengan memperhatikan simetris tidaknya lipatan paha atau bokong pada bayi baru lahir. Masa emas pertumbuhan anak adalah waktu terbaik untuk koreksi karena tulang mereka masih sangat lentur dan adaptif terhadap intervensi medis non-bedah seperti metode gips Ponseti.

Lebih lanjut, narasumber menjelaskan fenomena “Kaki O” atau Blount Disease yang sering membuat orang tua khawatir. Secara alami, bentuk kaki anak akan berubah dari O menjadi lurus, lalu sedikit X, hingga akhirnya stabil di usia dewasa. Namun, jika sudut kemiringan kaki O melebihi 15 derajat, tindakan medis disarankan dilakukan sebelum anak berusia 4 tahun guna mencegah kerusakan permanen pada lempeng pertumbuhan yang bisa memicu cacat di masa depan.

Kajian ini juga menyentuh aspek infeksi, khususnya TBC tulang yang masih menjadi tantangan kesehatan di Indonesia. Berbeda dengan infeksi bakteri biasa yang memicu demam tinggi, kuman TBC bersifat “pintar” dan bisa bersembunyi dalam sel tubuh (dorman). Akibatnya, kerusakan tulang sering kali terjadi secara perlahan tanpa rasa sakit yang hebat di awal, hingga akhirnya tulang tersebut keropos atau ambrol dan menyebabkan kelainan bentuk punggung.

Beralih ke masalah tumor tulang, dr. Yunus menjelaskan bahwa penyakit ini paling sering menyerang anak-anak dan remaja karena sel tulang mereka sedang dalam fase pembelahan yang sangat aktif. Beliau mengingatkan masyarakat untuk tidak mudah percaya pada mitos yang menyebut tumor disebabkan oleh benturan fisik saat olahraga. Tumor terjadi karena adanya kegagalan sistem imun dalam mengenali dan mematikan sel-sel “nakal” yang terus membelah secara tidak terkendali.

Salah satu poin krusial dalam kajian ini adalah konsep “investasi tubuh” sebelum menginjak usia 40 tahun. dr. Yunus menjelaskan bahwa hingga usia 35-40 tahun, tubuh kita berada dalam fase menabung kalsium dan massa otot. Setelah melewati usia tersebut, tubuh mulai memasuki fase “makan tabungan” di mana keseimbangan metabolisme menjadi negatif dan proses penuaan mulai menurunkan kualitas jaringan tubuh secara alami.

Masalah penuaan sendi atau pengapuran (osteoartritis) menjadi keluhan paling dominan di kalangan lansia. dr. Yunus memberikan solusi praktis berupa tiga langkah utama: menguatkan otot melalui olahraga rendah benturan seperti sepeda statis atau berenang, mengurangi beban mekanik tubuh, dan menjaga kelenturan sendi. Beliau menegaskan bahwa sendi yang tidak digunakan untuk bergerak justru akan semakin kaku dan cepat rusak.

Menariknya, dr. Yunus juga mengaitkan kesehatan sendi dengan praktik ibadah, seperti salat Duha yang disebut sebagai “sedekah sendi”. Gerakan salat yang dilakukan secara rutin memaksa sendi untuk tetap bergerak aktif dan fleksibel di sela-sela aktivitas harian. Hal ini sangat membantu mencegah kekakuan sendi yang sering dialami oleh mereka yang kurang melakukan aktivitas fisik secara teratur.

Dalam sesi tanya jawab, narasumber meluruskan mitos mengenai trigger finger atau jari yang tersangkut saat ditekuk, yang sering salah didiagnosis sebagai asam urat. Kondisi ini sebenarnya disebabkan oleh pembengkakan tendon yang melewati terowongan sempit di telapak tangan akibat penggunaan berlebih atau faktor usia. Penanganannya pun cukup spesifik, mulai dari latihan peregangan hingga operasi kecil untuk melonggarkan jalur tendon tersebut.

Mengenai keluhan kram yang sering terjadi pada malam hari, dr. Yunus menjelaskan bahwa hal tersebut biasanya berkaitan dengan kelelahan otot, penumpukan asam laktat, atau gangguan aliran darah. Penggunaan kompres hangat sangat disarankan untuk melancarkan sirkulasi darah pada area yang kram. Beliau juga mengingatkan bahwa gangguan elektrolit seperti ketidakseimbangan kalsium juga dapat memicu kontraksi otot yang tidak normal.

Terkait konsumsi suplemen, dr. Yunus menekankan pentingnya Vitamin D3 aktif bagi kesehatan tulang lansia agar penyerapan kalsium dari makanan menjadi optimal. Kalsium yang tidak terserap dengan baik ke tulang justru berisiko terbuang melalui ginjal atau bahkan mengendap di pembuluhan darah yang membahayakan kesehatan. Oleh karena itu, kecukupan vitamin D menjadi kunci agar kalsium tepat sasaran memperkuat struktur tulang.

Sebagai penutup, dr. Yunus mengingatkan bahwa tubuh manusia adalah sebuah sistem yang luar biasa namun memiliki batas usia pakai pada setiap selnya. Kesadaran untuk menjaga pola makan, rutin bergerak, dan melakukan deteksi dini terhadap keluhan gerak adalah bentuk syukur atas nikmat kesehatan. Dengan pengetahuan yang tepat, masa tua yang aktif dan produktif tanpa kendala gerak bukanlah sekadar impian, melainkan hasil dari perawatan tubuh yang konsisten sejak dini.

Sumber: Kajian Samarah bersama dr. Yunus, Sp.OT (K) dengan tajuk “Dialog Terkait Tulang dan Sendi” di Masjid Taqwa Surabaya pada Jum’at 8 Mei 2026

E-Buletin