Pakaian Terakhir Kita: Pelajaran Mendalam dari Kafan Putih dan Kehidupan Bersahaja

ajian rutin Ba'da Maghrib oleh Habib Muchsin bin Ali Al bin Hamid
ajian rutin Ba'da Maghrib oleh Habib Muchsin bin Ali Al bin Hamid

Bagikan postingan :

KabarMasjid.id, Malang – Dalam suasana khidmat, kajian rutin Ba’da Maghrib pada hari Rabu 22 Oktober 2025 di Masjid Agung Jami Malang kembali digelar, menghadirkan narasumber, Habib Muchsin bin Ali Al bin Hamid. Dalam majelis ilmu tersebut, Habib Muchsin menyampaikan pencerahan mendalam mengenai sunnah Rasulullah SAW terkait pakaian, yang kemudian mengantar jamaah pada topik krusial: persiapan menghadapi kematian, terutama melalui perspektif kain kafan dan kesederhanaan hidup. Kajian ini mengingatkan setiap Muslim bahwa kehidupan di dunia adalah sementara, dan kesiapan rohani serta fisik untuk kembali kepada Allah adalah hal yang paling utama.

Habib Muchsin memulai kajiannya dengan menjelaskan keutamaan warna pakaian dalam Islam. Menurut beliau, berdasarkan keterangan ulama, warna putih adalah yang paling utama (afdal), diikuti oleh warna hijau (al-akhdar), lalu warna kuning (al-asfar). Sementara dari segi model, pakaian yang paling disukai oleh Nabi Muhammad SAW adalah al-qamis atau gamis, menjadikannya sunnah yang patut kita amalkan.

Keterangan mengenai warna putih ini memiliki korelasi erat dengan amalan sunnah terkait jenazah. Disunahkan untuk mengafani mayit dengan kain berwarna putih. Hal ini dikatakan para ulama karena kain kafan putih yang dikenakan adalah persiapan terbaik untuk menghadap malaikat di alam kubur. Disebutkan bahwa para malaikat, termasuk Malaikat Mungkar dan Nakir, menyukai dan menyambut baik jenazah yang dibalut kafan putih.

Dalam konteks kesederhanaan, Habib Muchsin mengisahkan cerita mendalam tentang seorang sahabat Nabi yang wafat dengan kain kafan yang sangat minim, bahkan tidak mencukupi untuk menutupi seluruh tubuhnya. Ketika sahabat lain meminta solusi kepada Rasulullah SAW, beliau memerintahkan agar wajahnya ditutup dengan kain dan kakinya yang terbuka ditutupi dengan ilalang. Kisah ini menjadi pelajaran spiritual tentang betapa bersahajanya kehidupan para sahabat di zaman Nabi.

Berbicara tentang pakaian, beliau juga mengingatkan umat Islam bahwa semua nikmat, termasuk pakaian yang kita miliki, akan dipertanyakan oleh Allah SWT. Rasulullah SAW mengajarkan keteladanan dengan tidak pernah menumpuk pakaian. Setiap kali beliau mendapatkan baju baru, baju yang lama akan segera diberikan kepada orang yang membutuhkan. Ini adalah anjuran bagi umat Islam untuk bersedekah dan menghindari sifat menimbun harta benda, termasuk pakaian yang sudah tidak terpakai.

Persiapan menghadapi kematian juga ditekankan, salah satunya adalah dengan menyiapkan kain kafan jauh sebelum ajal menjemput. Dicontohkan bahwa banyak ulama terdahulu yang sudah menyimpan kain kafan di lemari mereka sebagai pengingat akan hari akhir (isti’dad liyaumil ma’ad). Bahkan, terdapat kisah ulama yang saking siapnya, mereka membawa kain kafan ke mana pun mereka bepergian, menjadikannya simbol keberanian karena tidak takut mati saat menyampaikan kebenaran.

Pentingnya mengingat kematian (zikrul maut) juga dibahas, namun diingatkan bahwa hal ini bukan sekadar mengucapkan lafadz, melainkan dengan mempersiapkan diri. Sayyidatina Aisyah RA pernah bertanya kepada Nabi, “Adakah seseorang yang meninggal biasa namun bisa dikumpulkan bersama para syuhada?” Nabi menjawab, “Bisa, bagi orang yang minimal mengingat kematian sebanyak 20 kali dalam sehari”.

Habib Muchsin juga mengingatkan bahwa kematian adalah misteri ilahi yang tidak melihat usia maupun kondisi kesehatan. Banyak anak muda yang sehat meninggal mendadak, sementara orang tua yang sakit-sakitan justru diberikan umur panjang. Demikian pula, tempat kematian tidak bisa direkayasa. Seseorang akan meninggal di tanah tempat ia diciptakan, meskipun ia tinggal di tempat lain, karena semua telah menjadi ketetapan Allah.

Bagi umat Islam, meninggal dan dimakamkan di Tanah Suci Makkah atau Madinah menjadi harapan istimewa, karena jenazah akan disalatkan di Masjidil Haram dan dimakamkan bersama para ulama dan orang saleh. Rasulullah SAW mempersilakan bagi yang memiliki keinginan ini, dengan harapan amalannya dapat mengantar pada kemuliaan tersebut. Namun, beliau menekankan bahwa tempat kematian sejatinya adalah ketentuan mutlak dari Allah SWT.

Terakhir, beliau menutup dengan kisah keistimewaan jasad Nabi Muhammad SAW. Ketika jenazah beliau akan dimandikan, karena kemuliaannya, terdengar suara ghaib yang melarang para sahabat melepaskan pakaian Nabi, sehingga beliau dimandikan dengan pakaiannya. Bahkan, diceritakan bahwa air bekas memandikan jasad Nabi tidak jatuh ke tanah, dan tanah berebut untuk mendapatkan apa pun yang keluar dari tubuh beliau. Semoga ilmu yang disampaikan Habib Muchsin ini menambah kecintaan (mahabbah) kita kepada Rasulullah SAW dan menjadi ilmu yang bermanfaat.

Sumber: Kajian rutin Ba’da Maghrib oleh Habib Muchsin bin Ali Al bin Hamid di Channel Youtube Masjid Jami’ Malang

E-Buletin