Pahala Mendamaikan Orang Bertikai Lebih Besar dari Puasa Sunnah

Habib Ahmad Yunus Al-Muhdhor
Habib Ahmad Yunus Al-Muhdhor

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Surabaya – Perselisihan dan keretakan hubungan antar sesama manusia sering kali terjadi karena kurangnya pemahaman terhadap ajaran Islam yang mulia. Dalam kehidupan bermasyarakat, menjaga silaturahmi serta merajut persatuan merupakan amanah penting yang hendaknya senantiasa dipelihara oleh setiap muslim. Berangkat dari fenomena sosial tersebut, pengajian rutin yang menghadirkan narasumber Habib Ahmad Yunus Al-Muhdhor diselenggarakan pada Jumat, 10 Juli 2026, bertempat di Masjid Nur Syamsiah. Pembahasan dalam kajian tersebut memberikan penekanan mendalam mengenai hakikat kehidupan manusia serta keutamaan besar dalam mendamaikan pihak-pihak yang sedang berselisih.

Mengawali ceramahnya, Habib Ahmad Yunus Al-Muhdhor mengupas tuntas kandungan Surah Al-‘Asr yang sarat akan makna mendalam. Beliau mengutip pandangan Imam Syafi’i yang menyatakan bahwa sekiranya Allah SWT hanya menurunkan Surah Al-‘Asr saja, maka petunjuk dan pesan di dalamnya sudah sangat cukup bagi manusia. Sumpah Allah SWT demi masa memberikan teguran keras agar manusia sadar betapa singkatnya waktu kehidupan di dunia ini. Ibarat jarak waktu antara Asar dan Maghrib, perjalanan usia manusia menuju hari kiamat berlangsung sangat singkat dan tidak boleh disia-siakan.

Dalam penjelasan berikutnya, dipaparkan bahwa seluruh jenis manusia berada dalam kondisi kerugian secara mendasar. Kerugian ini mencakup segala hal yang dipikirkan, diucapkan, serta dilakukan oleh manusia dalam kesehariannya jika tidak berlandaskan iman. Namun, Allah SWT memberikan pengecualian bagi hamba-hamba-Nya yang senantiasa beriman dan beramal saleh. Keimanan tersebut harus terus dipupuk melalui aktivitas ibadah seperti menuntut ilmu, berzikir, membaca Al-Qur’an, serta berkumpul dengan orang-orang saleh di masjid.

Selain memperkuat iman dan amal saleh, Surah Al-‘Asr juga mengajarkan pentingnya saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Habib Ahmad menekankan bahwa mengajak kepada kebaikan harus dilakukan dengan pendekatan yang bijak tanpa adanya unsur pemaksaan. Dalam proses interaksi tersebut, setiap individu dituntut untuk menjaga lisan dan perbuatannya dari segala bentuk kedustaan, kebohongan, maupun praktik korupsi. Kesabaran juga menjadi benteng utama dalam menahan hawa nafsu dan niat buruk terhadap sesama.

Salah satu poin inti yang diangkat dalam pengajian tersebut adalah pentingnya melakukan islah dzatil bain atau mendamaikan pihak yang berselisih. Beliau menyayangkan fenomena masa kini di mana orang alim dan tokoh agama sangat banyak, namun figur yang tergerak mendamaikan masyarakat semakin langka. Keretakan hubungan dapat terjadi dalam berbagai tingkatan, mulai dari lingkup keluarga seperti suami-istri dan hubungan menantu-mertua, hingga perselisihan antar kampung maupun kelembagaan. Oleh karena itu, kehadiran penengah yang mampu merajut persatuan sangat dibutuhkan.

Mengutip Surah An-Nisa ayat 114, Habib Ahmad menjelaskan bahwa tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan atau pembicaraan manusia kecuali tiga hal. Tiga hal tersebut meliputi ajaran untuk bersedekah atau memberi bantuan sosial, memerintahkan perbuatan makruf dengan tutur kata yang baik, serta melakukan islah di antara manusia. Siapa saja yang berupaya mendamaikan perselisihan semata-mata demi meraih keridaan Allah SWT, maka Ia akan menganugerahkan pahala yang sangat besar baik di dunia maupun di akhirat.

Keutamaan mendamaikan orang yang bertikai ternyata memiliki derajat yang sangat tinggi dalam ajaran Islam. Sebagaimana riwayat hadis dari Abu Darda RA, Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa amalan islah memiliki derajat yang lebih utama dibandingkan dengan derajat puasa, salat sunnah, dan sedekah. Hal ini dikarenakan perselisihan dan permusuhan yang dibiarkan berlarut-larut bertindak seperti pemangkas yang dapat merusak dan memusnahkan pahala amal ibadah seseorang.

Bahaya lain dari memelihara kebencian dan permusuhan (syahna) juga dijelaskan secara mendetail melalui riwayat hadis. Setiap hari Senin dan Kamis, seluruh amalan manusia akan dilaporkan kepada Allah SWT dan pengampunan akan diberikan kepada setiap muslim yang tidak menyekutukan-Nya. Namun, pengampunan tersebut akan ditangguhkan bagi dua orang yang sedang berselisih dan saling membenci sampai keduanya memutuskan untuk berdamai kembali. Kondisi memelihara kebencian ini berisiko membuat seseorang kehilangan keberkahan waktu-waktu mulia.

Untuk mencapai tujuan perdamaian yang mulia, ajaran Islam memberikan keringanan khusus terkait penggunaan tutur kata. Habib Ahmad menegaskan bahwa seseorang yang menyampaikan kata-kata baik untuk mendamaikan dua pihak yang berselisih tidak dikategorikan sebagai pembohong. Keringanan berbohong ini diperbolehkan dalam Islam demi menumbuhkan ketenangan dan niat baik di antara kedua belah pihak, serta menghindarkan dampak fitnah yang lebih merusak dari pihak ketiga.

Para ulama dan orang-orang saleh terdahulu memberikan teladan nyata dalam mengutamakan perdamaian serta menjaga perasaan sesama. Habib Ahmad menceritakan kisah teladan Imam Abu Hanifah yang dengan penuh kearifan membantu membebaskan tetangganya yang pemabuk dari penjara. Kebijaksanaan dan kebesaran jiwa sang Imam dalam memaafkan serta mendamaikan keadaan tersebut akhirnya mampu menyentuh hati sang tetangga hingga ia bertobat secara sungguh-sungguh dan menjadi pribadi yang rajin beribadah.

Dalam sesi tanya jawab, pembahasan berlanjut pada persoalan teknis ibadah bagi orang tua yang sudah pikun serta hukum mengqada salatnya. Habib Ahmad menjelaskan bahwa seseorang yang telah mengalami kepikunan berat atau hilang kesadarannya secara permanen telah gugur kewajiban taklifnya, sehingga pihak keluarga tidak diwajibkan untuk mengqada salat orang tua tersebut. Kendati demikian, pihak keluarga tetap dianjurkan untuk terus mengingatkan dan membimbing salat selama yang bersangkutan masih memiliki kesadaran.

Sebagai penutup kajian, dijawab pula pertanyaan mengenai status pahala bagi orang yang telah berjuang mendamaikan perselisihan namun usahanya berakhir gagal di tengah jalan. Beliau menegaskan bahwa setiap perjuangan dalam kebaikan (as-sa’yu fil khair) tetap dinilai di sisi Allah SWT dan pelakunya dipastikan memperoleh pahala serta keridaan-Nya. Hasil akhir bukan menjadi tolok ukur utama, melainkan ketulusan niat dan kesungguhan usaha dalam menciptakan kedamaian di tengah kehidupan bermasyarakat.

Sumber: Kajian rutin yang disampaikan oleh Habib Ahmad Yunus Al-Muhdhor di Masjid Nur Syamsiah pada Jum’at 10 Juli 2026 yang membahas kandungan Surah Al-‘Asr serta pentingnya mendamaikan perselisihan (islah dzatil bain).

E-Buletin