KabarMasjid.id, Surabaya – Keimanan kepada hari akhir merupakan rukun iman yang fundamental, namun sering kali manusia merasa ragu akan konsep kebangkitan setelah kematian. Padahal, jika kita bersedia mengamati alam semesta dan proses penciptaan diri sendiri, tanda-tanda kekuasaan Tuhan begitu nyata dan logis untuk diterima akal sehat. Memahami kembali kepastian janji Allah melalui ayat-ayat Al-Qur’an menjadi sangat krusial di tengah hiruk-pikuk dunia yang sering kali melalaikan tujuan akhir hidup manusia.
Kajian mendalam mengenai hal ini disampaikan oleh Ustadz Marsono Adnan dalam pembahasan Tafsir Muyassar untuk Surat Luqman ayat 28-34. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Majelis Ta’lim As Sakiinah Surabaya ini berlangsung pada hari Selasa, 6 Januari 2026, bertempat di Masjid Diponegoro Surabaya. Dalam pemaparannya, narasumber menekankan bahwa seluruh fenomena alam adalah bukti otentik atas kekuasaan absolut sang Pencipta.
Pada awal pembahasan, Ustadz Marsono merujuk pada Surat Luqman ayat 28 yang menegaskan bahwa menciptakan seluruh manusia dan membangkitkan mereka kembali pada hari kiamat adalah perkara ringan bagi Allah. Ustadz Marsono menjelaskan bahwa bagi Allah, mengurus miliaran manusia sama mudahnya dengan mengurus satu jiwa saja. Tidak ada kesulitan teknis bagi Sang Maha Pencipta untuk menghidupkan kembali apa yang telah mati, karena Dia adalah pemilik kehidupan yang sesungguhnya.
Untuk memperkuat argumen tersebut, kajian ini mengajak jamaah menoleh pada proses biologis manusia yang dijelaskan dalam Al-Qur’an. Kita diingatkan bahwa asal muasal manusia adalah dari tanah yang kemudian melalui proses panjang menjadi nutfah, segumpal darah, hingga akhirnya menjadi janin yang sempurna di dalam rahim. Proses yang sangat detail dan terukur ini seharusnya menghapus segala keraguan manusia akan adanya kekuatan besar yang mengatur kehidupan.
Lebih lanjut, Ustadz Marsono menjelaskan keterkaitan antara nutrisi yang kita konsumsi dengan siklus tanah. Apa pun yang dimakan manusia berasal dari tumbuh-tumbuhan yang tumbuh dari tanah yang disirami air hujan. Zat-zat dari tanah inilah yang kemudian diolah tubuh menjadi sperma sebagai cikal bakal kehidupan baru. Dengan demikian, manusia secara fisik tidak pernah lepas dari unsur bumi yang merupakan ciptaan Allah.
Fenomena alam lain yang diangkat dalam kajian ini adalah pergantian siang dan malam. Ustadz Marsono mengajak kita berpikir bagaimana kegelapan malam bisa menyelinap masuk ke dalam terang siang, dan sebaliknya, dengan begitu halus tanpa ada tabrakan. Keteraturan rotasi bumi, matahari, dan bulan bukanlah sebuah kebetulan, melainkan sistematisasi dari Tuhan yang mengatur waktu bagi setiap makhluk.
Pelajaran penting lainnya adalah mengenai keragaman manusia. Meski berasal dari proses biologis yang serupa, Allah membentuk setiap individu dengan rupa, warna kulit, dan jenis kelamin yang berbeda-beda sesuai kehendak-Nya. Perbedaan ini merupakan tanda-tanda bagi orang yang mau berpikir bahwa ada “Desainer Agung” di balik setiap detail penciptaan yang unik pada tiap manusia.
Kajian ini juga menyentuh aspek takdir dan usia manusia. Ada yang diberikan umur pendek, namun ada pula yang mencapai usia sangat lanjut hingga kembali ke kondisi lemah atau pikun. Fenomena penuaan ini adalah pengingat bahwa kekuatan manusia sangatlah terbatas dan pada akhirnya semua akan kembali kepada titik nol sebelum menghadapi hari kebangkitan.
Ustadz Marsono kemudian memberikan perumpamaan tentang tanah yang kering kerontang. Ketika Allah menurunkan hujan, tanah yang tadinya mati seolah-olah “hidup” kembali dengan menumbuhkan berbagai tanaman yang indah. Jika tanah yang mati saja bisa dihidupkan kembali di depan mata kita setiap hari, maka membangkitkan manusia dari kubur adalah hal yang sangat masuk akal bagi Allah.
Memasuki bagian akhir kajian, ditekankan bahwa janji Allah tentang hari kiamat adalah sebuah kepastian yang mutlak. Manusia diperingatkan agar tidak terperdaya oleh gemerlap kehidupan dunia yang bersifat sementara. Kesibukan mengejar materi atau status sering kali membuat seseorang lupa bahwa setiap ucapan dan perbuatan sedang diawasi oleh Sang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.
Dalam sesi tanya jawab, sempat dibahas mengenai pentingnya menjaga keteguhan akidah di tengah toleransi sosial. Ustadz menekankan bahwa seorang muslim harus memiliki prinsip yang kuat terhadap keyakinannya, terutama menyangkut pengakuan terhadap keesaan Allah. Sabar dan syukur menjadi kunci utama agar tidak mudah terombang-ambing oleh pengaruh lingkungan yang bisa mengikis iman.
Sebagai penutup, tulisan ini merangkum bahwa kesadaran akan hari akhir seharusnya melahirkan perilaku yang lebih bertanggung jawab di dunia. Dengan meyakini bahwa kebangkitan itu nyata sepertinya nyatanya penciptaan kita sekarang, manusia akan lebih berhati-hati dalam melangkah. Semoga kajian di Masjid Diponegoro ini menjadi lentera bagi masyarakat untuk terus memperkuat iman dan memperbaiki amal sebelum waktu yang ditentukan itu tiba.
Sumber: Kajian Masjid Diponegoro Tafsir Muyassar: QS Luqman 28-34 oleh Ustadz Marsono Adnan