Merenung Sebagai ‘Touring’ Spiritual: Cara Menghapus Tirai Penghalang Antara Hamba dan Tuhan

Dr. KH. M. Luqman Hakim, MA, Ph.D
Dr. KH. M. Luqman Hakim, MA, Ph.D

Bagikan postingan :

Kabarmajid.id, Surabaya – Di tengah hiruk pikuk moderniti yang sering kali membuatkan manusia kehilangan arah, aktiviti spiritual menjadi oase yang sangat diperlukan. Salah satu usaha untuk menjernihkan batin adalah dengan mendalami kitab-kitab klasik yang sarat dengan makna mendalam bagi perjalanan rohani. Kajian Kitab Al-Hikam yang dilaksanakan pada Sabtu, 9 Mei 2026, bertempat di Masjid Nasional Al Akbar Surabaya, menghadirkan Dr. KH. M. Luqman Hakim, MA, Ph.D, seorang Pakar Tasawuf yang mengupas tuntas mengenai kepentingan merenung sebagai kaedah utama untuk mendekatkan diri kepada Sang Khaliq.

Dalam pemaparannya, Kiai Luqman menekankan bahawa merenung atau tafakur adalah sebuah perjalanan spiritual yang sangat penting bagi setiap Muslim. Beliau membezakan dengan tegas antara melamun dan merenung; jika melamun sering kali hanya membuang waktu dalam imaginasi nafsu, maka merenung adalah bangkitnya semangat perseptif untuk memahami sesuatu di sebalik yang tampak. Inilah yang disebut sebagai perjalanan hati di medan-medan alam selain Allah agar manusia tidak terjebak dalam dunia materialisme.

Narasumber mengingatkan bahawa tanpa kebiasaan merenung, hidup manusia akan terjebak pada realiti fizikal semata-mata. Jika ini terjadi, dunia nyata boleh menjadi “berhala” baru dalam bentuk materi, teknologi, atau kekuasaan. Aliran falsafah materialisme sering kali muncul kerana hilangnya kemampuan manusia untuk melihat nur atau cahaya Tuhan di sebalik segala kemudahan duniawi yang mereka nikmati sehari-hari.

Lebih lanjut, kajian ini menonjolkan fenomena “Ahlul Hijab” atau kelompok orang yang hatinya masih tertutup daripada Allah. Bagi kelompok ini, interaksi dengan Tuhan mungkin hanya terjadi saat melakukan ibadah formal seperti solat lima waktu, sementara sisa waktunya habis untuk mengejar dunia dan mengikuti imaginasi nafsunya. Padahal, Allah Maha Hadir dan lebih dekat kepada manusia daripada urat lehernya sendiri, namun dinding penghalang berupa keterpautan pada dunia sering kali menyulitkan hubungan tersebut.

Merenung menjadi kunci untuk membongkar dan menyibak tirai-tirai penghalang tersebut. Dr. Luqman Hakim menyampaikan kebimbangannya terhadap masyarakat moden yang sudah jarang melakukan tafakur. Manusia saat ini cenderung terseret oleh potret-potret duniawi, persaingan, dan bayang-bayang wajah alam, hingga akhirnya mereka benar-benar terputus daripada Sang Pencipta. Hal yang paling mengerikan adalah jika nyawa dicabut dalam kondisi hati yang tidak “hadir” di depan Allah.

Bagi mereka yang masih berada di tingkatan dasar, merenung bermula daripada melihat ciptaan-ciptaan Allah (af’almu). Dengan memperhatikan bagaimana mata berkedip atau bagaimana alam semesta bergerak, seseorang akan menyedari bahawa tidak ada satu pun gerakan di dunia ini yang lepas daripada kinerja Allah. Daripada pemahaman akan perbuatan Allah inilah, manusia kemudian akan mengenal Asma-Asma Allah yang menjadi sumber segala ilmu pengetahuan.

Sains tanpa nur atau cahaya ketuhanan disebut akan membawa peradaban menuju kegelapan. Beliau mencontohkan bagaimana seseorang yang melihat keramaian kota Surabaya dari ketinggian mungkin hanya melihat “robot” yang bergerak tanpa nyawa jika tidak disertai renungan. Namun, bagi mereka yang merenung, di sebalik hiruk-pikuk tersebut terdapat kebesaran Allah yang seharusnya memicu lisan untuk terus berzikir “Lailahaillallah”.

Berbeza dengan Ahlul Hijab, terdapat golongan “Ahlul Syuhud” atau orang-orang arif yang sudah menemui Allah. Kelompok ini merenung bukan untuk mencari Allah lewat makhluk, melainkan melihat makhluk melalui kacamata Allah. Mereka merasakan bahawa di sebalik setiap fenomena alam terdapat sifat, asma, dan af’al Tuhan. Ini adalah tingkatan di mana setiap kebenaran ditemui langsung melalui kedekatan dengan Sang Pencipta.

Kajian ini juga menekankan bahawa renungan adalah lampu atau siraj bagi hati. Jika aktiviti merenung hilang, maka cahaya hati akan padam. Hati yang padam dalam waktu lama akan menjadi “konslet” dan menyebabkan seseorang mudah mengalami stres berat, kekacauan fikiran, hingga keputusasaan. Oleh itu, membiasakan diri merenung minimal setengah jam sehari sangat dianjurkan untuk menjaga kesihatan spiritual.

Salah satu puncak daripada hasil renungan yang benar adalah perubahan rasa saat melakukan ibadah, seperti saat membaca Rabbana Lakal Hamd. Tanpa merenung, kalimat tersebut hanya akan menjadi rutin lisan. Namun bagi orang yang bertafakur, pujian tersebut adalah pengakuan tulus bahawa Allah Maha Sempurna dan tidak ada satu pun takdir-Nya yang cacat, baik di alam nyata mahupun di alam malakut.

Mengutip Imam Junaid Al-Baghdadi, Kiai Luqman menyebutkan bahawa majelis yang paling utama adalah saat seseorang boleh “duduk” beserta Allah dalam medan renungan. Dalam bahasa yang lebih sederhana, ini disebut sebagai “jagongan” dengan Gusti Allah, di mana hati berinteraksi secara aktif dengan kehadiran Tuhan. Inilah esensi tauhid yang sebenarnya, yakni merasakan Allah sebagai satu-satunya dalam segala hal.

Secara praktis, Kiai Luqman mengajak jamaah untuk mulai melatih sensitivitas hati terhadap hal-hal kecil yang sering luput dari perhatian. Misalnya, menyadari kehadiran Allah dalam setiap tarikan napas dan gerakan tubuh yang kita anggap otomatis. Dengan kesadaran ini, setiap aktivitas sehari-hari—baik bekerja di kantor maupun mengurus rumah tangga—dapat bertransformasi menjadi ibadah yang mendalam dan penuh makna jika dilakukan dengan hati yang hudur atau hadir.

Ketajaman batin yang didapat dari merenung juga akan melahirkan sifat sabar yang hakiki dalam menghadapi ujian hidup. Orang yang terbiasa bertafakur tidak akan mudah mengeluh atau menyalahkan keadaan, karena ia mampu melihat hikmah yang tersembunyi di balik setiap peristiwa. Renungan membantunya memahami bahwa segala sesuatu berjalan sesuai skenario Allah yang Maha Bijaksana, sehingga kedamaian batin tetap terjaga meski badai kehidupan menerpa.

Sebagai penutup, Kiai Luqman merangkum empat karakter utama para kekasih Allah (Aulia), iaitu zikir yang berterusan, renungan yang mendalam, rasa butuh yang besar kepada Allah (alfakru), dan cinta (al-hub) yang disertai ilmu. Dengan menjaga empat hal ini, manusia diharapkan tidak hanya menjadi peribadi yang soleh secara ritual, tetapi juga memiliki kedalaman spiritual yang kukuh dalam menghadapi segala dinamika kehidupan.

Sumber: Kajian Kitab Al-Hikam Bersama Dr. KH. M. Luqman Hakim, MA, Ph.D dengan tajuk “Renungan Mencerahkan Jiwa” Sabtu, 9 Mei 2026 di Masjid Nasional Al Akbar Surabaya

E-Buletin