Meraih Keberkahan Tak Terbatas, Simak Panduan Lengkap Ibadah Ramadhan Beserta Sunah-Sunahnya

Ustadz Agung Cahyadi, Lc, MA.
Ustadz Agung Cahyadi, Lc, MA.

Bagikan postingan :

KabarMasjid.id, Surabaya  – Menjelang datangnya bulan suci, umat Islam diingatkan kembali untuk mempersiapkan diri secara lahir dan batin agar dapat meraih keberkahan maksimal. Puasa bukan sekadar ritual menahan lapar, melainkan sebuah madrasah spiritual untuk menyucikan jiwa. Pemahaman yang mendalam mengenai aturan dan keutamaan ibadah menjadi kunci agar rutinitas tahunan ini tidak sekadar menjadi penggugur kewajiban, melainkan sarana transformasi diri yang hakiki.

Kajian bertajuk “Fiqih Ramadhan” ini diselenggarakan pada sesi kajian Maghrib di Masjid Al Falah Surabaya dengan menghadirkan Ustadz Agung Cahyadi, Lc, MA. Dalam pemaparannya, beliau menekankan bahwa Ramadhan adalah bulan yang sangat istimewa karena Allah memberikan banyak fasilitas penghapus dosa yang tidak ditemukan di bulan-bulan lainnya. Setiap amalan wajib maupun sunah di bulan ini memiliki nilai yang berlipat ganda dan menjadi jaminan keselamatan bagi hamba yang menjalankannya dengan iman.

Persiapan mental dan hati menjadi poin pertama yang ditekankan sebelum memasuki bulan suci. Ustadz Agung mengingatkan jamaah untuk memastikan tidak ada ganjalan hati, baik dosa kepada Allah maupun konflik dengan sesama manusia. Hati yang bersih akan memudahkan seorang mukmin dalam melaksanakan ketaatan dan menjauhi maksiat. Jika hati masih kotor atau dipenuhi rasa benci kepada saudara, dikhawatirkan nilai pahala puasa akan berkurang di sisi Allah.

Selain hati, persiapan ilmu juga dianggap sangat krusial agar ibadah benar secara syariat. Beliau menegaskan bahwa dalam beribadah tidak ada istilah learning by doing atau sekadar ikut-ikutan. Setiap muslim wajib mengetahui syarat sah, pembatal, hingga sunah-sunah puasa agar apa yang dikerjakan membuahkan pahala. Puasa yang benar adalah puasa yang bersifat total, yakni tidak hanya menahan makan dan minum, tetapi juga menutup rapat semua celah maksiat dari lisan, mata, hingga telinga.

Dalam aspek teknis puasa, niat memegang peranan vital yang membedakan puasa wajib dan sunah. Untuk puasa Ramadhan, niat harus sudah tertanam di dalam hati sebelum fajar tiba. Ustadz Agung menjelaskan bahwa niat adalah ketetapan hati untuk menjalankan perintah Allah, sehingga aktivitas seperti makan sahur sebenarnya sudah secara otomatis menunjukkan adanya niat tersebut. Kesalahan umum sering terjadi di hari pertama puasa, sehingga pemahaman mengenai waktu niat ini menjadi sangat penting untuk diperhatikan.

Makan sahur bukan sekadar pengganjal perut, melainkan amalan yang penuh keberkahan jika dilakukan di waktu yang tepat. Disunahkan untuk mengakhirkan sahur hingga mendekati waktu subuh, bukan dilakukan saat tengah malam atau setelah tarawih. Sebaliknya, saat waktu magrib tiba, umat Islam dianjurkan untuk menyegerakan berbuka. Konsistensi dalam menjaga sunah-sunah kecil ini merupakan tanda bahwa seorang hamba senantiasa berada dalam kebaikan selama menjalankan ibadahnya.

Kajian ini juga mengupas tentang amalan salat tarawih yang menjadi ciri khas malam-malam Ramadhan. Ustadz Agung menyarankan agar jamaah mengikuti salat berjamaah bersama imam hingga selesai, termasuk salat witir. Hal ini didasarkan pada hadis Nabi bahwa siapa pun yang salat bersama imam hingga tuntas, maka dicatat baginya pahala salat semalam suntuk. Pemilihan masjid atau jumlah rakaat silakan disesuaikan, namun kuncinya adalah konsistensi dan kesempurnaan dalam mengikuti imam.

Interaksi dengan Al-Qur’an harus ditingkatkan secara signifikan, mengingat bulan ini adalah waktu turunnya wahyu tersebut. Ada lima proses interaksi yang dianjurkan: belajar bacanya, rutin membacanya, menambah hafalan, mengkaji tafsirnya, dan yang terpenting adalah mentadaburi serta mengamalkannya. Beliau mencontohkan bagaimana para ulama terdahulu, seperti Imam Syafi’i, bahkan menghentikan aktivitas mengajar lainnya demi fokus sepenuhnya berinteraksi dengan ayat-ayat suci Al-Qur’an selama Ramadhan.

Kedermawanan menjadi napas utama lainnya yang harus tampak dalam diri seorang mukmin. Memberi makanan berbuka kepada orang yang berpuasa, meskipun hanya seteguk air atau sebutir kurma, menjanjikan pahala yang sama dengan orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahalanya sedikit pun. Ustaz Agung mengajak jamaah untuk merencanakan sedekah sejak dini, misalnya dengan menyumbangkan air minum ke masjid, agar setiap hari kita mendapatkan limpahan pahala dari orang-orang yang berbuka.

Memasuki sepuluh hari terakhir, semangat ibadah seharusnya semakin meningkat, bukan justru menurun karena kesibukan duniawi atau persiapan lebaran. Nabi Muhammad SAW memberikan teladan dengan melakukan iktikaf di masjid secara menetap untuk memburu Lailatul Qadar. Iktikaf merupakan ibadah personal di mana seseorang fokus menyeru Allah melalui berbagai variasi ibadah seperti zikir, doa, dan salat sunah secara bergantian agar tidak timbul rasa jenuh dan tetap terjaga kekhusyukannya.

Sebagai penutup rangkaian ibadah, Zakat Fitri atau Zakat Fitrah wajib ditunaikan sebelum salat Id dilaksanakan. Zakat ini berfungsi sebagai pembersih dari kekhilafan dan perbuatan sia-sia yang mungkin dilakukan selama berpuasa, sekaligus memberikan bantuan pangan bagi fakir miskin agar mereka tidak perlu meminta-minta di hari raya. Waktu terbaik penyalurannya adalah menjelang hari raya agar manfaatnya benar-benar dirasakan oleh penerima untuk kebutuhan makan di hari kemenangan.

Setelah Ramadhan berlalu, konsistensi ibadah diuji melalui puasa sunah enam hari di bulan Syawal. Ustadz Agung menjelaskan bahwa menyambung puasa Ramadhan dengan enam hari di bulan Syawal memberikan pahala yang setara dengan berpuasa selama satu tahun penuh. Puasa ini bisa dilakukan secara berurutan maupun terpisah. Dengan memahami seluruh rangkaian fiqih ini, diharapkan setiap muslim dapat menjalani Ramadhan dengan kualitas terbaik dan meraih derajat takwa yang dijanjikan.

Sumber: Kajian Maghrib Masjid Al Falah Surabaya Bersama Ustadz Agung Cahyadi, Lc, MA mengenai  Fiqih Ramadhan

E-Buletin