KabarMasjid.id, Surabaya – Bulan Sya’ban sering kali disebut sebagai pintu gerbang menuju bulan suci Ramadhan. Di masa ini, umat Muslim dianjurkan untuk mulai memanaskan mesin ibadah agar tidak kaget saat memasuki ritme Ramadhan yang intens. Melalui persiapan yang matang di bulan Syakban, seorang mukmin dapat meraih kualitas ibadah yang lebih maksimal dan bermakna.
Kajian Rabu Malam bertajuk “Tuntunan Islam di Bulan Sya’ban” ini disampaikan oleh KH. Ma’ruf Khozin pada Rabu, 28 Januari 2026, bertempat di Masjid Nasional Al Akbar, Surabaya. Dalam ceramahnya, beliau menekankan pentingnya memanfaatkan sisa waktu sebelum Ramadhan untuk menyelesaikan kewajiban yang tertunda serta meningkatkan amalan sunah sesuai tuntunan Rasulullah SAW.
Hal pertama yang menjadi prioritas utama adalah mengqada’ atau membayar hutang puasa Ramadhan tahun lalu. KH. Ma’ruf Khozin mengingatkan bahwa bulan Syakban adalah kesempatan terakhir bagi mereka yang memiliki uzur, seperti wanita yang haid atau orang yang sakit, untuk melunasi kewajibannya. Menunda qada’ puasa hingga melewati Ramadhan berikutnya tanpa alasan syar’i merupakan hal yang harus dihindari.
Selain kewajiban qada’, Sya’ban juga merupakan bulan yang sangat dicintai Rasulullah SAW untuk memperbanyak puasa sunah. Beliau menjelaskan bahwa Syaban adalah waktu di mana amal ibadah manusia selama setahun dilaporkan kepada Allah SWT. Rasulullah SAW ingin agar saat catatan amalnya diangkat, beliau sedang berada dalam kondisi berpuasa sebagai bentuk pengabdian terbaik.
Terkait puasa sunnah, muncul pertanyaan mengenai hukum puasa setelah melewati pertengahan bulan atau Nisfu Sya’ban. KH. Ma’ruf Khozin memaparkan adanya hadis yang melarang puasa sunah setelah tanggal 15 Syakban. Namun, larangan ini tidak berlaku bagi mereka yang sudah memiliki rutinitas puasa seperti Senin-Kamis, puasa Daud, atau mereka yang sedang menunaikan puasa nazar dan kafarat.
Malam Nisfu Sya’ban sendiri memiliki kedudukan istimewa dalam tradisi Islam karena dipercaya sebagai malam penetapan takdir tahunan. Di malam tersebut, Allah SWT mencatat urusan ajal, pembagian rezeki, hingga memberikan ampunan luas bagi hamba-Nya yang memohon. Oleh karena itu, umat Muslim dianjurkan memperbanyak doa meminta ketetapan iman dan keberkahan hidup.
Selain ibadah puasa, Sya’ban adalah momentum untuk kembali akrab dengan Al-Qur’an. Beliau mengajak jemaah untuk mulai merutinkan tadarus sejak dini sebagai bentuk pembiasaan. Hal ini penting agar saat memasuki Ramadhan, lisan sudah terbiasa dan ringan dalam melantunkan ayat-ayat suci, sehingga target khatam Al-Qur’an lebih mudah tercapai.
Sisi sosial juga tidak luput dari bahasan kajian ini, terutama mengenai pengeluaran zakat harta (zakat mal). KH. Ma’ruf Khozin mengutip kebiasaan para sahabat Nabi yang gemar mengeluarkan zakat mal di bulan Sya’ban. Tujuannya sangat mulia, yakni untuk membantu kelompok fakir miskin agar mereka memiliki kecukupan pangan saat menghadapi bulan puasa.
Dengan bantuan zakat yang disalurkan lebih awal, saudara-saudara yang kekurangan tidak perlu lagi terbebani pikiran tentang apa yang akan dimakan saat sahur dan berbuka. Hal ini menciptakan ketenangan bagi kaum duafa sehingga mereka bisa fokus beribadah tanpa dihantui rasa lapar. Ini adalah wujud nyata solidaritas sosial dalam Islam yang dimulai sejak Sya’ban.
Dalam sesi tanya jawab, beliau juga menyinggung tentang zakat fitrah sebagai penyuci jiwa. Zakat ini wajib dikeluarkan bagi setiap jiwa Muslim sebelum salat Idulfitri. Fungsinya adalah untuk membersihkan noda-noda kecil selama berpuasa, seperti ucapan yang sia-sia atau perilaku yang kurang berkenan, sekaligus menjadi kegembiraan bagi fakir miskin.
Di Indonesia, takaran zakat fitrah yang aman adalah sekitar 3 kilogram beras per jiwa untuk menghindari perselisihan standar ukuran. Meskipun boleh diuangkan menurut mazhab tertentu, KH. Ma’ruf Khozin secara pribadi lebih menyarankan pemberian dalam bentuk bahan pangan pokok. Hal ini untuk memastikan manfaat zakat benar-benar terserap sebagai nutrisi bagi mereka yang membutuhkan.
Sebagai penutup, KH. Ma’ruf Khozin mengajak seluruh jemaah untuk menghormati perbedaan tradisi di masyarakat, seperti ziarah kubur atau sedekah bumi menjelang Ramadhan, selama tidak melanggar syariat. Inti dari bulan Sya’ban adalah kesiapan hati dan raga. Semoga dengan persiapan yang matang, setiap Muslim dapat dipertemukan dengan Ramadhan dalam kondisi sehat dan penuh keimanan.
Sumber: Kajian Rabu Malam Masjid Al Akbar Surabaya Bersama KH. Ma’ruf Khozin dengan tema “Tuntunan Islam di Bulan Sya’ban”