Menyongsong Tahun Baru dengan Jiwa Tenang dan Raga Prima: Refleksi Sehat Akhir Tahun

Ustadz Dr. H. Agus Ali Fauzi (ahli paliatif)
Ustadz Dr. H. Agus Ali Fauzi (ahli paliatif)

Bagikan postingan :

KabarMasjid.id, Surabaya – Pergantian tahun seringkali menjadi momen yang tepat untuk berhenti sejenak, menengok ke belakang, dan menata kembali tujuan hidup ke depan. Semangat inilah yang melandasi gelaran acara “Ngaji Sehat Episode 21” yang dilaksanakan pada Kamis malam, 25 Desember 2025. Bertempat di ruang utama Masjid Al-Akbar Surabaya, kajian yang merupakan hasil kerja sama antara RSUD Dr. Soetomo dan Masjid Al-Akbar ini menghadirkan pakar paliatif kondang, Ustadz Dr. H. Agus Ali Fauzi, yang membawakan tema mendalam mengenai refleksi akhir tahun.

Dalam pembukaannya, Dr. Agus menekankan bahwa mempertahankan kesehatan di tengah dinamika kehidupan modern bukanlah hal yang mudah. Ia mengingatkan jemaah bahwa sehat itu mahal, namun sakit jauh lebih mahal. Oleh karena itu, kunci utama menyongsong tahun 2026 adalah dengan rasa syukur yang mendalam. Bersyukur bukan hanya di lisan, tetapi diwujudkan dengan menjaga aset kesehatan yang telah Allah titipkan, serta membuang jauh-jauh sifat malas mengeluh yang justru menggerogoti energi positif dalam diri.

Dokter yang dikenal dengan gaya bicaranya yang jenaka ini menjabarkan bahwa definisi sehat mencakup lima dimensi penting yang tidak boleh dipisahkan. Pertama adalah sehat fisik yang diraih dengan tidak malas bergerak. Kedua, sehat psikologis dengan cara tidak memikirkan masalah terlalu berat. Ketiga, sehat sosial dengan gemar bersilaturahmi. Keempat, sehat kultural dengan menekan ego dan meningkatkan toleransi. Terakhir dan yang paling fondasional adalah sehat spiritual, yakni semakin dekat dan merasa dicintai oleh Allah SWT.

Lebih dalam lagi, Dr. Agus menyoroti fenomena gangguan mental yang kian marak, seperti stres, kecemasan (anxiety), hingga depresi. Ia menjelaskan perbedaan mendasar di antara ketiganya; stres biasanya memiliki penyebab yang jelas, sedangkan kecemasan seringkali muncul tanpa sebab pasti yang membuat jantung berdebar dan asam lambung naik. Jika tidak ditangani dengan istighfar dan introspeksi diri, kondisi ini bisa berujung pada depresi yang sangat berbahaya karena dapat meruntuhkan sistem imun tubuh secara total.

Banyaknya penyakit fisik yang bersumber dari pikiran atau psikosomatik juga menjadi perhatian utama dalam kajian ini. Dr. Agus menyebutkan bahwa obat bagi mereka yang sakit jiwanya bukanlah sekadar menelan pil obat kimia atau berganti-ganti dokter, melainkan “mengobati hati”. Hubungan yang renggang dengan Sang Pencipta seringkali menjadi akar masalahnya. Maka, solusi terbaik adalah memperbaiki koneksi spiritual, bertaubat, dan menanamkan ketenangan serta keikhlasan di dalam hati.

Berbicara mengenai penyakit degeneratif yang populer seperti diabetes, jantung, dan hipertensi, Dr. Agus memberikan resep yang unik namun logis. Bagi penderita diabetes dan jantung, kontrol emosi adalah “obat” yang paling manjur. Sifat pemarah, mudah tersinggung, dan pendendam harus segera dikikis. Beliau menegaskan bahwa orang yang terlalu serius dan kaku justru berisiko tinggi terkena stroke atau serangan jantung, sementara mereka yang memiliki selera humor dan santai justru memiliki kadar kolesterol baik (HDL) yang lebih tinggi.

Dari sisi pola makan dan gaya hidup fisik, tips praktis juga dibagikan untuk menjaga organ dalam tetap prima. Dr. Agus menyarankan untuk menghindari air es dan mengurangi porsi nasi guna mencegah obesitas. Beliau juga sangat menganjurkan konsumsi air hangat di pagi hari untuk kesehatan paru-paru, serta rutin mengonsumsi pepaya atau cincau untuk melancarkan pencernaan dan detoksifikasi usus secara alami tanpa perlu obat pencahar.

Khusus bagi para lansia, Dr. Agus memberikan peringatan khusus agar mewaspadai tiga musuh utama: depresi, kesepian (loneliness), dan kesedihan (sadness). Lansia tidak boleh menarik diri dari lingkungan; sebaliknya, mereka harus tetap aktif dan merasa berguna. Kunci kesehatan di usia senja adalah hati yang gembira dan membiarkan mereka menikmati makanan yang disukai dalam batas wajar, daripada terlalu banyak pantangan yang justru membuat stres dan menurunkan imunitas.

Untuk menghadapi tantangan tahun depan, Dr. Agus memperkenalkan rumus “5F” sebagai strategi meningkatkan imunitas tubuh. Rumus tersebut adalah Fit (rajin olahraga), Fresh (pikiran segar dan tidak ruwet), Fun (hati yang gembira), Food (makanan bergizi seperti sayur dan ikan), serta Fasting atau Fulus. Menurutnya, puasa sangat baik untuk detoksifikasi, namun memiliki rezeki yang cukup (fulus) juga secara realistis mampu meningkatkan kebahagiaan dan imun seseorang.

Selain imunitas fisik, bekal spiritual untuk tahun 2026 dirangkum dalam rumus “5I”. Kelima poin tersebut adalah Iman yang diperkuat, Imun yang dijaga, Ilmu yang terus di-update (terutama ilmu agama), Ikhlas dalam menerima ketetapan Allah, dan Istiqomah dalam kebaikan. Dr. Agus menekankan bahwa integritas dan konsistensi dalam kebaikan adalah mata uang yang sangat berharga dalam menjalani kehidupan yang penuh ketidakpastian.

Menjelang akhir tausiahnya, konsep kebahagiaan sejati turut dibedah. Bahagia itu sederhana, yakni ketika seseorang mampu membahagiakan orang lain (sweetness) dan tidak egois. Hidup tidak perlu dipersulit dengan keinginan untuk selalu sempurna atau menuntut orang lain sesuai kemauan kita. Dr. Agus mengajak jemaah untuk menjadi pribadi yang adaptif, kolaboratif, dan tidak sungkan untuk meminta maaf serta memberi maaf demi ketenangan batin.

Sebagai penutup kajian, pesan kuat disampaikan agar kita tidak membawa beban “sampah” emosi ke tahun yang baru. Hindari 3M (Mengeluh, Malas, Medit/Pelit) dan gantilah dengan optimisme bahwa Allah adalah sebaik-baik tempat bersandar. Dengan kombinasi ikhtiar medis yang benar dan sandaran spiritual yang kokoh, Dr. Agus meyakinkan bahwa tahun 2026 dapat dilalui dengan sehat, sukses, dan penuh keberkahan.

Sumber: Ngaji Sehat Masjid Al Akbar Surabaya Episode 21 oleh Ustadz Dr. H. Agus Ali Fauzi (ahli paliatif) dengan tema “Refleksi Akhir Tahun”

E-Buletin