KabarMasjid.id, Malang – Memasuki bulan-bulan mulia dalam kalender Hijriah, umat Islam diingatkan kembali untuk menata hati dan mempersiapkan diri. Sebagaimana tanaman yang membutuhkan perawatan sebelum masa panen tiba, begitu pula jiwa manusia yang memerlukan asupan zikir dan tobat sebelum menyambut bulan suci Ramadhan. Dalam sebuah kajian mendalam, KH. Nur Hasanudin membedah bagaimana seharusnya seorang mukmin memanfaatkan momentum bulan Rajab dan Sya’ban sebagai jembatan menuju kemuliaan.
Kajian rutin Ahad Ba’da Maghrib ini dilaksanakan pada 28 Desember 2025 di Masjid Agung Jami Malang dengan narasumber KH. Nur Hasanudin yang membedah Kitab Mafahim Yaa Jibu Antushahah. Dalam suasana yang khidmat, beliau membuka ceramah dengan mengingatkan jamaah akan pentingnya manajemen spiritual sejak dini. Beliau menekankan bahwa persiapan yang matang di bulan Rajab akan menentukan kualitas ibadah seseorang saat memasuki bulan Ramadhan nanti.
KH. Nur Hasanudin menjelaskan sebuah tamsil yang sangat indah mengenai urutan bulan-bulan mulia ini. Beliau menyebutkan bahwa bulan Rajab adalah waktunya kita menanam benih kebaikan, sementara bulan Sya’ban adalah saatnya kita menyiram dan merawat tanaman tersebut agar tidak layu. Jika proses menanam dan menyiram ini dilakukan dengan konsisten, maka bulan Ramadhan akan menjadi bulan panen raya bagi segala amal ibadah yang telah dipupuk sejak awal.
Dalam kajian tersebut, beliau juga mengutip pesan Al-Habib Umar bin Hafidz tentang kesinambungan persiapan diri. Seseorang yang sudah mempersiapkan jiwanya di bulan Rajab secara otomatis akan jauh lebih siap ketika memasuki Sya’ban. Tingkat kesiapan yang terus meningkat ini menjadi modal utama bagi seorang muslim untuk benar-benar merasakan manisnya ibadah dan kedekatan dengan Allah SWT saat bulan suci Ramadhan tiba.
Mengutip doa yang direkam oleh sahabat Anas bin Malik, KH. Nur Hasanudin mengajak jamaah untuk senantiasa melangitkan doa keberkahan. Doa tersebut adalah permohonan agar Allah memberkahi kita di bulan Rajab dan Sya’ban, serta menyampaikan umur kita hingga ke bulan Ramadhan. Keberkahan yang diharapkan bukan hanya soal umur, melainkan juga keberkahan rezeki, keluarga, dan keturunan agar semuanya senantiasa dalam rida-Nya.
Lebih lanjut, beliau memaparkan pandangan Imam Qatadah mengenai Al-Qur’an sebagai solusi hidup yang lengkap. Al-Qur’an bukan hanya sekadar petunjuk bagi orang bertakwa, tetapi juga berfungsi sebagai alat diagnosa penyakit sekaligus obatnya. KH. Nur Hasanudin menekankan bahwa penyakit yang paling berbahaya bagi manusia bukanlah penyakit fisik, melainkan penyakit hati yang seringkali tidak disadari oleh pengidapnya.
Beliau menjelaskan bahwa penyakit fisik hanyalah ujian sementara yang akan berakhir ketika seseorang meninggal dunia. Namun, penyakit rohani seperti hasud, sombong, ujub, dan merasa lebih baik dari orang lain adalah “bala” yang paling berat. Penyakit-penyakit hati inilah yang harus segera diobati agar tidak merusak amal ibadah yang sedang dibangun, terutama saat berada di bulan-bulan mulia ini.
Lantas, apa obat bagi penyakit-penyakit hati tersebut? KH. Nur Hasanudin menegaskan bahwa istighfar adalah obat paling mujarab. Sebagaimana pesan Sayyidina Ali KW, sangat mengherankan jika ada orang yang celaka padahal ia memegang kunci keselamatan, yaitu istighfar. Memperbanyak memohon ampun kepada Allah adalah cara terbaik untuk membersihkan noda hitam di hati akibat dosa-dosa yang telah lalu.
Ada hal menarik yang disampaikan beliau mengenai ilham untuk beristighfar. Beliau menyebutkan bahwa ketika terlintas dalam hati keinginan untuk membaca istighfar, itu adalah tanda cinta dari Allah. Allah tidak akan mengilhamkan hambanya untuk beristighfar jika Dia berniat untuk mengazabnya. Maka, setiap bisikan hati untuk memohon ampun harus segera diikuti dan dilaksanakan karena itu adalah bentuk bimbingan malaikat.
Salah satu amalan praktis yang disarankan adalah membaca istighfar sebanyak 70 hingga 100 kali setiap duduk, meniru kebiasaan Rasulullah SAW. Beliau mengingatkan bahwa jika Rasulullah yang maksum saja beristighfar sebanyak itu, apalagi kita yang bergelimang dosa. Zikir seperti “Rabbighfirli warhamni watub alaiya” sangat dianjurkan untuk dibaca secara rutin, terutama di waktu pagi dan malam hari.
Beliau juga memberikan tips sederhana namun bermakna agar umat Islam selalu terhubung dengan zikir, yaitu dengan selalu membawa tasbih, baik tasbih digital maupun konvensional, di dalam saku. Kehadiran benda tersebut dapat menjadi pengingat (tamsil) bagi kita untuk terus memutar zikir di tengah kesibukan dunia. Dengan begitu, setiap waktu luang yang kita miliki tidak akan terbuang sia-sia tanpa mengingat Allah.
Kajian ini ditutup dengan doa agar seluruh jamaah diberikan istiqomah dalam menjalankan ibadah dan dijauhkan dari segala bala musibah. KH. Nur Hasanudin berharap agar di akhir hayat nanti, lisan setiap muslim dimudahkan untuk mengucapkan kalimat tauhid. Dengan persiapan spiritual yang dimulai dari bulan Rajab ini, diharapkan umat Islam dapat meraih derajat takwa yang sesungguhnya dan kembali suci di hari kemenangan nanti.
Sumber: Kajian rutin Ahad Ba’da Maghrib Masjid Jami’ Malang oleh KH. Nur Hasanudin yang membedah Kitab Mafahim Yaa Jibu Antushahah