KabarMasjid.id, Surabaya – Salah satu kisah paling menakjubkan dalam Al-Qur’an adalah kisah Ashabul Kahfi, para pemuda yang ditidurkan selama tiga abad di dalam gua. Kisah penuh mukjizat ini kembali dibahas tuntas dalam Kajian Tafsir Jalalain yang diselenggarakan di ruang utama Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya pada malam Selasa, 21 Oktober 2025. Kajian yang disampaikan oleh Ustadz H. Ach. Nasich Hidayatullah Al Hafidz ini menyoroti detail ayat ke-18 dari Surah Al-Kahfi, mengungkap rahasia tidur panjang yang melampaui logika manusia biasa.
Ustadz Nasich memulai dengan menekankan bahwa Allah SWT memperlihatkan kekuasaan-Nya yang luar biasa melalui para pemuda Ashabul Kahfi. Mereka ditidurkan selama 309 tahun di dalam gua, sebuah periode waktu yang amat panjang, namun kondisi fisik mereka tetap terjaga dengan sempurna. Keajaiban inilah yang membuat kisah mereka menjadi pelajaran abadi tentang keimanan dan perlindungan Ilahi.
Ayat 18 Surah Al-Kahfi secara spesifik berbunyi, “watahsabuhum ayqaadha” yang bermakna “engkau mengira mereka bangun (atau melek)”. Hal ini menunjukkan adanya kondisi visual yang unik pada para pemuda tersebut saat mereka terlelap.
Menurut tafsir Jalalain, orang yang melihat Ashabul Kahfi akan menyangka mereka terjaga, padahal sejatinya mereka dalam keadaan tidur, sebagaimana ditegaskan dalam lanjutan ayat, “wahum ruqud” (padahal mereka tidur). Ilusi ini terjadi karena mata para pemuda itu tidak tertutup; mereka tidur dengan mata yang terbuka.
Dalam pembahasan qira’ah (cara baca Al-Qur’an), Ustaz juga menjelaskan bahwa kata watahsabuhum memiliki dua versi yang masyhur: watahsabu dan watahsibu. Meskipun keduanya memiliki riwayat yang benar dari Rasulullah SAW, mushaf standar yang umum digunakan di Indonesia, berdasarkan qira’ah Imam Hafs dari Ashim, menggunakan bacaan watahsabu.
Keajaiban fisik tidak berhenti pada mata yang terbuka. Untuk memastikan tubuh mereka tidak rusak selama ratusan tahun, Allah melakukan intervensi Ilahi dengan membolak-balikkan badan mereka, sesuai firman-Nya: “wa nuqallibuhum dzatal yamini wazatas syimal” (dan Kami bolak-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri).
Ustaz Nasich menjelaskan bahwa tujuan utama pembolak-balikan ini adalah sebagai perlindungan agar daging dan tubuh mereka tidak dimakan atau dirusak oleh tanah. Tindakan ini disamakan dengan seseorang yang membolak-balik masakan saat digoreng untuk memastikan kematangan dan mencegah gosong di satu sisi.
Mengenai frekuensinya, terdapat beberapa riwayat. Ada yang menyebut pembolak-balikan ini dilakukan setahun dua kali, yang jika dikalikan 309 tahun, berarti terjadi lebih dari 600 kali. Ada pula riwayat yang menyebut setahun sekali atau bahkan tujuh tahun sekali. Jumlah ini menunjukkan bahwa meskipun jarang, pembolak-balikan itu terjadi secara berkala atas kuasa mutlak Allah.
Kisah ini juga menyertakan tokoh pendamping yang tak kalah istimewa, yaitu anjing Ashabul Kahfi yang sangat setia. Walaupun namanya beragam, nama yang paling populer dan dikenal adalah Qitmir. Qitmir digambarkan memiliki warna yang berbeda-beda menurut riwayat, bahkan ada yang menyebut warnanya seperti warna langit.
Hewan ini pun mendapatkan perlakuan dan keajaiban yang sama. Ayat menjelaskan posisi anjing yang menjulurkan kedua lengannya di ambang gua (“basitun dzira’aihi bil wasiid”). Sama seperti para pemuda, Qitmir juga tidur dengan mata terbuka dan ikut serta dibolak-balikkan badannya ke kanan dan ke kiri.
Kondisi mereka yang mengerikan—tidur dengan mata terbuka di tengah gua—menghasilkan efek luar biasa bagi siapa saja yang berani mendekat. Ayat ini ditutup dengan peringatan, “lau wallaita minhum firara wa lamuli’ta minhum ru’ba” (tentulah kamu akan lari tunggang langgang dan dipenuhi dengan ketakutan).
Ustadz Nasich menutup kajian dengan hikmah, bahwa rasa takut (ru’ba) yang dipancarkan dari Ashabul Kahfi adalah benteng perlindungan dari Allah. Hal itu mencegah siapa pun, termasuk Raja zalim, untuk masuk ke gua. Kisah Ashabul Kahfi mengajarkan tentang perlindungan sempurna dari Tuhan bagi hamba-Nya yang memegang teguh keimanan, sebuah pelajaran berharga bagi umat Islam masa kini.
Sumber: Kajian Tafsir Jalalayn Ust. H. Ach. Nasich Hidayatullah Al Hafidz di Channel Youtube Masjid Al Akbar TV