KabarMasjid.id, Surabaya – Memahami Al-Qur’an tidak cukup hanya dengan membacanya secara lisan, namun memerlukan pendalaman terhadap makna yang terkandung di dalamnya. Hal ini menjadi inti dari Kajian Sabtu Subuh yang diselenggarakan di Masjid Al Falah Surabaya, pada Sabtu 29 November 2025. Dalam suasana pagi yang khidmat, Ustadz Mukhtar Ismail, S.Ag. hadir sebagai narasumber yang membawakan tema penting mengenai “Tarjamah Al-Qur’an”, mengajak jamaah untuk tidak sekadar melafalkan, tetapi juga mengerti struktur bahasa dari kitab suci umat Islam ini.
Ustadz Mukhtar membuka kajian dengan menekankan pentingnya ilmu alat, yakni Bahasa Arab, yang sering kali dianggap sepi peminat dibandingkan materi kajian lainnya. Beliau menyoroti fenomena di mana kelas-kelas bahasa Arab sering kekurangan peserta, padahal bahasa adalah kunci utama untuk membuka gerbang tafsir Al-Qur’an. Tanpa memahami dasar bahasa, mustahil seseorang bisa menerjemahkan atau menafsirkan ayat dengan presisi, mengingat satu kata dalam Al-Qur’an bisa memiliki makna yang berbeda tergantung pada susunan kalimatnya.
Dalam pemaparannya, beliau memberikan kritik membangun kepada umat Islam yang sering kali terjebak dalam zona nyaman hafalan tanpa pemahaman. Banyak umat Muslim yang hafal surat-surat pendek seperti An-Nas atau Al-Falaq sejak kecil, namun gagap ketika ditanya arti kata spesifik seperti “Khannas” atau “Ghasikin”. Ketidaktahuan ini dinilai fatal karena menunjukkan bahwa interaksi dengan Al-Qur’an baru sebatas di lisan, belum meresap sebagai pedoman yang dipahami secara utuh.
Kajian kemudian mengerucut pada bedah Surah Al-Fatihah, dimulai dari kalimat Basmalah. Ustadz Mukhtar mengajak jamaah memperhatikan huruf Ba di awal kalimat yang berfungsi sebagai huruf jar. Satu huruf kecil ini memiliki kekuatan besar yang mempengaruhi harakat kata-kata setelahnya menjadi kasrah (baris bawah). Ini menunjukkan betapa detail dan sistematisnya tata bahasa Al-Qur’an, di mana satu huruf saja dapat menentukan bunyi dan kedudukan empat kata berikutnya.
Keunikan lain yang dibahas adalah struktur gramatikal pada empat ayat pertama Al-Fatihah. Ustadz Mukhtar menjelaskan bahwa dari Alhamdu hingga Maliki Yaumiddin, seluruh susunan kalimatnya terdiri dari kata benda (Isim), tanpa ada kata kerja (Fi’il) di dalamnya. Menyusun kalimat panjang yang indah, enak didengar, dan benar secara tata bahasa hanya dengan menggunakan kata benda adalah hal yang sangat sulit dilakukan manusia, dan ini menjadi salah satu bukti kemukjizatan Al-Qur’an.
Keindahan susunan bahasa inilah yang menurut beliau sering kali menjadi pintu hidayah bagi para ilmuwan bahasa atau sastrawan non-Muslim. Banyak dari mereka yang awalnya skeptis, namun ketika membedah struktur Basmalah dan Al-Fatihah, mereka dibuat terkagum-kagum oleh akurasi dan keindahan sastra yang tidak mungkin diciptakan oleh manusia biasa. Hal ini menegaskan bahwa Al-Qur’an adalah mukjizat yang menantang akal pikiran manusia.
Lebih jauh menyelami makna, kalimat “Dengan Nama Allah” (Bismillah) dikupas dari sisi filosofis. Beliau mengingatkan bahwa pemilik sejati sebuah “nama” hanyalah Allah. Manusia yang sibuk mencari nama, popularitas, atau pengakuan di hadapan manusia lain pasti akan menemui kekecewaan. Sebaliknya, siapa yang mencari nama di hadapan Allah, maka ia akan dimuliakan. Eksistensi manusia menjadi berharga hanya jika di dalam dirinya tertanam nama Allah dan kalimat tauhid.
Pembahasan berlanjut ke ayat Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin. Ustadz Mukhtar meluruskan konsep syukur, bahwa kita bisa beribadah (seperti salat Subuh) bukan karena kehebatan kita, melainkan karena Allah yang memampukan. Kata Rabb sendiri dimaknai sebagai pendidik, pengayom, dan pemelihara semesta alam. Penggunaan kata Rabb, bukan Ilah di ayat ini, menegaskan sifat Allah yang merawat dan memfasilitasi kebutuhan seluruh ciptaan-Nya di berbagai dimensi alam.
Masuk ke sifat Ar-Rahman dan Ar-Rahim, dijelaskan perbedaan mendasar keduanya. Ar-Rahman adalah kasih sayang Allah yang meliputi segala sesuatu di dunia, diberikan kepada siapa saja tanpa pandang bulu. Sementara Ar-Rahim adalah kasih sayang khusus yang bersifat abadi hingga akhirat, utamanya berupa iman. Beliau menekankan bahwa harapan terbesar seorang mukmin adalah mendapatkan Rahim-nya Allah, agar hati tetap terhubung dengan-Nya bahkan saat lisan tak lagi mampu berucap di akhir hayat.
Di sela-sela materi tafsir, Ustadz Mukhtar sempat menyelipkan kisah spiritual pribadinya melalui mimpi bertemu dengan almarhum gurunya, K.H. Khalid Abri. Pengalaman batin ini diceritakan sebagai refleksi tentang kedekatan hubungan antara murid dan guru, serta bagaimana ingatan akan kematian dan orang-orang saleh dapat menjadi pelembut hati dalam menuntut ilmu. Kisah ini menambah dimensi emosional dalam kajian yang sarat dengan muatan akademis tersebut.
Menutup pembahasan empat ayat pertama, Ustadz menyinggung ayat Maliki Yaumiddin. Beliau menjelaskan variasi bacaan (Qira’at) di mana ada riwayat yang membacanya dengan pendek (Maliki) dan ada yang panjang (Maaliki). Kedua bacaan tersebut benar dan memiliki dasar riwayat yang kuat (seperti riwayat Warsh dan Hafs). Hal ini sekaligus memberikan wawasan kepada jamaah tentang kekayaan variasi bacaan Al-Qur’an yang diakui oleh para ulama.
Kajian Sabtu Subuh ini berakhir pada ayat keempat dan direncanakan akan berlanjut ke ayat berikutnya pada pertemuan bulan Februari mendatang. Melalui kajian ini, Ustadz Mukhtar Ismail berharap jamaah tidak hanya berhenti pada kemampuan membaca, tetapi mulai berani “membongkar” dan mentadaburi Al-Qur’an. Dengan memahami arti kata per kata dan struktur bahasanya, diharapkan kualitas ibadah dan keimanan umat Islam akan semakin meningkat dan kokoh.
Sumber: Kajian Sabtu Subuh Masjid Al Falah Surabaya oleh Ustadz Mukhtar Ismail, S.Ag