Kabarmasjid.id, Surabaya – Kehidupan modern sering kali menjebak manusia dalam rasa lelah yang tiada habisnya. Di tengah impitan ekonomi, tuntutan karier, dan dinamika sosial yang kian pelik, manusia kerap merasa bahwa segala jerih payah mereka menguap begitu saja tanpa ada yang menghargai. Rasa jenuh, kecewa, hingga hampa sering kali datang menyergap tatkala kebaikan-kebaikan yang telah ditebar secara tulus justru dibalas dengan kepedihan atau ketidakpedulian oleh sesama makhluk. Guna membasuh dahaga spiritual dan mengurai benang kusut dalam jiwa tersebut, Masjid Al-Irsyad Surabaya menyelenggarakan kajian rutin Jumat pekan ketiga yang berlangsung secara daring maupun luring di ruang utama masjid pada Jumat pagi, 19 Juni 2026. Dengan menghadirkan narasumber Ustadz Ali Markasan, Lc., pendiri Pondok Pesantren Mahdaroh Bogor, kajian subuh ini mengupas tuntas salah satu nama indah Allah, yaitu Asy-Syaakir (Maha Mensyukuri atau Maha Membalas Kebaikan), merujuk pada kitab Mausu’atu Asmaillahil Husna karya Syekh Muhammad Ratib An-Nabulsi.
Membuka pemaparannya, Ustadz Ali Markasan menjelaskan bahwa nama Asy-Syaakir memiliki tempat yang sangat istimewa di dalam mushaf Al-Qur’an. Nama agung ini hanya muncul sebanyak dua kali, yakni pada Surah Al-Baqarah ayat 158 dan Surah An-Nisa ayat 147. Menariknya, dalam kedua kemunculan tersebut, Allah SWT selalu menyandingkan nama Asy-Syaakir dengan nama-Nya yang lain, yaitu Al-‘Alim (Maha Mengetahui). Korelasi yang sangat kuat antara kedua nama ini memberikan penegasan kepada setiap hamba bahwa ketika Allah membalas satu kebaikan, Dia melakukannya dengan basis pengetahuan yang maha luas. Allah Maha Mengetahui apa yang terbersit di dalam dada, mengetahui seberapa besar pengorbanan yang dilakukan, dan dengan ketelitian-Nya, Dia akan memberikan balasan yang paling adil serta setimpal sesuai kadar keikhlasan amalan tersebut.
Konsep Allah Maha Mensyukuri esensinya memiliki cakupan yang sangat luas melampaui sekat-sekat prasangka manusia. Ustadz Ali menekankan, berdasarkan penjelasan Syekh An-Nabulsi, tidak ada satu pun bentuk ihsan atau kebaikan yang dipersembahkan kepada makhluk di bumi ini—baik makhluk yang berakal maupun yang tidak berakal—kecuali Allah pasti akan memberikan balasan bagi pelakunya. Sifat Asy-Syaakir ini mencerminkan keadilan absolut; siapa pun yang menebar manfaat tidak akan pernah berujung pada kesia-siaan. Bahkan, kemustahilan yang teramat besar jika ada seorang hamba yang melakukan amalan baik di muka bumi ini, lalu ia sama sekali tidak mendapati apresiasi atau ganjaran dari Sang Pencipta, baik disegerakan di dunia maupun disimpan sebagai tabungan di akhirat kelak.
Lebih jauh, luasnya sifat Maha Mensyukuri milik Allah ini bahkan menyentuh seluruh manusia tanpa memandang latar belakang keimanannya. Bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, janji balasan atas kebaikan mereka akan mewujud secara sempurna di dunia sekaligus di akhirat. Sementara itu, bagi mereka yang belum beriman atau kalangan non-muslim yang orientasi hidupnya murni untuk perkara duniawi, Allah Asy-Syaakir tetap tidak akan menutup mata terhadap nilai kemanusiaan dan kebaikan yang mereka lakukan. Sebagai wujud keadilan-Nya, Allah akan mensegerakan balasan kebaikan tersebut di dunia, seperti dalam bentuk kelancaran usaha, kesehatan, maupun karier yang kian menanjak, meskipun di akhirat kelak mereka tidak memiliki bagian karena tiadanya dasar keimanan.
Guna memperjelas pemahaman jemaah, Ustadz Ali Markasan memberikan analogi menarik tentang seorang raja atau pemimpin yang saleh di dunia. Andaikan anak dari raja tersebut berada dalam situasi yang sangat berbahaya, lalu ada seorang asing yang tidak dikenal—dan dari kalangan apa pun—datang menolong anak itu hingga selamat, maka sang raja pasti akan mencari orang tersebut untuk dimuliakan dan diberi hadiah terbaik sebagai wujud terima kasih. Jika manusia yang penuh keterbatasan dan bukan pencipta asli dari anaknya saja memiliki naluri untuk membalas budi sedemikian rupa, maka tentu nalar kita akan dengan mudah memahami bagaimana Allah SWT memperlakukan hamba-Nya. Allah adalah Sang Khaliq, pemilik mutlak atas seluruh alam semesta; ketika ada seorang manusia yang berbuat baik kepada makhluk ciptaan-Nya, maka mustahil bagi Rabbnya makhluk tersebut untuk tidak berterima kasih dan membalas amalan mulia itu.
Bukti nyata dari apresiasi Allah terhadap kebaikan kepada sesama makhluk ini terekam kuat dalam lembaran hadis-hadis sahih Nabi Muhammad SAW. Ustadz Ali mengingatkan kembali kisah ikonik tentang seorang lelaki yang rela turun kembali ke dalam sumur yang dalam demi mengambilkan air menggunakan sandalnya untuk diberikan kepada seekor anjing yang tengah sekarat karena kehausan. Berkat tindakan yang tampak sepele itu, Rasulullah SAW bersabda, “Fasyakarallahu faghofaro lah”—maka Allah menerima amalannya, mensyukuri perbuatannya, dan mengampuni seluruh dosa-dosanya. Hal yang sama juga terjadi pada kisah seorang wanita pezina yang diampuni dan dituntun menuju hidayah hanya karena seteguk air yang ia berikan kepada makhluk tak berakal. Prinsip ini dipertegas oleh Rasulullah bahwa pada setiap urat yang basah (makhluk hidup) yang kita tolong, di situlah terdapat ladang pahala yang besar.
Manifestasi dari sifat Asy-Syaakir ini juga tertuang dalam ketetapan-Nya untuk selalu melipatgandakan nikmat melalui jalan syukur, sebagaimana termaktub dalam ayat “Lain syakartum laazidannakum”. Menariknya, bentuk tambahan kebaikan yang Allah berikan bisa berwujud sejenis dengan amalan yang dikerjakan oleh manusia. Ustadz Ali mencontohkan, bagi mereka yang sanggup melawan ego keduniawiannya dengan menginfakkan sebagian harta di jalan Allah, maka Allah berjanji akan mengganti dan melipatgandakannya laksana satu butir benih yang menumbuhkan tujuh tangkai, di mana setiap tangkai menghasilkan seratus bulir baru. Begitupun ketika seorang hamba memberikan waktu terbaiknya untuk mendirikan salat di awal waktu, maka Allah akan membalasnya dengan menjadikan sisa waktu yang ia miliki di dunia penuh dengan keberkahan dan produktivitas yang tinggi.
Namun, balasan dari Allah yang Maha Mensyukuri tidak melulu bersumber dari angka-angka matematis yang bersifat material. Di sinilah Ustadz Ali menceritakan kisah yang menyentuh hati tentang seorang dokter gigi yang merawat seorang pasien miskin. Mengetahui bahwa sang pasien membutuhkan tindakan operasi besar tetapi tidak memiliki biaya, sang dokter tergerak hatinya untuk melakukan operasi tersebut secara gratis sebagai hadiah. Dokter tersebut kemudian mengakui bahwa meskipun ia kehilangan potensi pendapatan materi, sepanjang satu bulan penuh setelah kejadian itu ia dianugerahi rasa kebahagiaan dan ketenangan batin yang teramat luar biasa, yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Kebahagiaan dan kelapangan dada sejati inilah bentuk balasan berharga dari Allah Asy-Syaakir yang tidak bisa dibeli dengan tumpukan harta sekadar materi duniawi.
Melalui pemahaman yang mendalam terhadap nama Asy-Syaakir, seorang muslim akan mengalami transformasi orientasi hidup yang luar biasa, di mana dampak pertamanya adalah lahirnya kesadaran untuk menjadi pribadi yang sangat menghargai waktu. Ketika seseorang meyakini dengan seyogianya bahwa setiap amalan sekecil apa pun akan berbuah ganjaran di sisi Allah, ia tidak akan lagi terjebak dalam rasa bosan atau kebingungan dalam menjalani hidup. Detik-detik yang dilaluinya akan dipenuhi dengan aktivitas yang produktif dan bernilai ibadah. Hal ini selaras dengan jeritan penyesalan orang-orang yang telah berada di alam kubur sebagaimana digambarkan dalam Al-Qur’an, di mana keinginan terbesar mereka tidak lain adalah ingin dikembalikan ke dunia meski sejenak, hanya untuk mengejar peluang beramal saleh yang dulu sempat mereka sia-siakan.
Dampak positif berikutnya dari penguatan iman terhadap sifat Maha Mensyukuri ini adalah hilangnya kecenderungan untuk meremehkan amalan-amalan kecil. Kita tidak pernah tahu dari pintu mana rida Allah akan turun dan mengubah garis takdir kehidupan kita secara drastis. Ustadz Ali mengaitkan hal ini dengan ulasan para ulama mengenai kisah para penyihir Firaun yang bertanding melawan Nabi Musa AS. Di pagi hari, mereka adalah sekelompok orang yang berada di puncak kekufuran karena kesyirikan sihirnya, namun di sore hari mereka bertransformasi menjadi syuhada terbaik yang teguh memegang iman. Ulama menyebutkan, salah satu wasilah mereka meraih hidayah yang agung tersebut adalah karena adab dan penghormatan kecil yang mereka tunjukkan di awal laga saat menyilakan Nabi Musa untuk melempar tongkatnya terlebih dahulu; sebuah sikap santun yang diapresiasi tinggi oleh Allah yang Maha Mensyukuri.
Lebih dari itu, mengimani Allah sebagai zat yang Maha Membalas Kebaikan akan menjadi perisai kokoh yang melindungi jiwa manusia dari penyakit riya’ (ingin dipuji) dan ujub. Ketika fokus utama seorang hamba adalah mencari penilaian dari Allah Asy-Syaakir, ia tidak akan lagi merasa haus akan pujian, tepuk tangan, atau pengakuan dari sesama manusia. Dampak psikologisnya sangat dahsyat: hamba tersebut tidak akan pernah merasa kecewa, patah hati, atau mogok berbuat baik tatkala sumbangsih, pengorbanan, dan kerja kerasnya diabaikan atau tidak diapresiasi oleh lingkungan sekitarnya. Jiwanya akan tetap stabil, tenang, dan konsisten menebar kemaslahatan karena ia sepenuhnya sadar bahwa catatan kebaikannya telah rapi tersimpan di sisi Dzat yang tidak pernah alpa dalam membalas budi.

Sebagai penutup kajian yang penuh keteduhan tersebut, Ustadz Ali Markasan mengajak seluruh jemaah untuk mendaki ke puncak tingkatan beragama yang paling tinggi, yaitu tingkatan ihsan dan syukur yang tidak bertepi. Syukur bukan lagi sekadar ucapan lisan, melainkan penggerak utama dan motivasi terbesar di dalam beribadah, sebagaimana teladan agung dari Nabi Muhammad SAW yang tetap mendirikan salat malam hingga kakinya bengkak semata-mata demi mengejar predikat menjadi hamba yang banyak bersyukur (abdan syakuura). Dengan menginternalisasi sifat Asy-Syaakir, manusia akan lebih mudah menangkap getaran kasih sayang dan ihsan-nya Allah dalam kehidupan sehari-hari. Kesadaran inilah yang pada akhirnya mendorong manusia untuk membalasnya dengan berbuat baik kepada seluruh makhluk hidup di bumi—manusia, hewan, hingga tumbuhan—sehingga kehadirannya di dunia mampu menjadi simfoni kedamaian yang memakmurkan alam semesta.
Sumber: Kajian subuh online di kanal YouTube Masjid Al-Irsyad TV yang disampaikan oleh Ustaz Ali Markasan, Lc. pada Jum’at 19 Juni 2026.