Kabarmasjid.id, Surabaya – Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern yang penuh dengan dinamika dan kelelahan mengejar materi, setiap Muslim senantiasa membutuhkan jeda untuk menyegarkan kembali jiwanya. Keindahan hidup sejati bukanlah diukur dari seberapa banyak harta yang berhasil dikumpulkan, melainkan dari seberapa dalam keterikatan hati seseorang kepada Sang Maha Pencipta dalam setiap tarikan napasnya.
Suasana penuh kedamaian dan keheningan spiritual tersebut sangat terasa pada jamaah yang menghadiri majelis ilmu seusai salat Magrib berjamaah pada Senin, 13 Juli 2026, bertempat di Ruang Utama Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya, saat narasumber Ustadz H. Ahmad Muzakki Alhafidz menyampaikan uraian mendalam dalam babak lanjutan pengajian rutin Kitab Nashaihul Ibad karya Syekh Nawawi Banten.
Mengawali materi kajian pada babak maqalah ke-27, Ustadz H. Ahmad Muzakki Alhafidz mengutip bait munajat yang sangat indah dari ulama sufi ternama, Yahya bin Mu’adh ar-Razi. Dalam untaian kalimat hikmahnya, Yahya bin Mu’adh menegaskan bahwa tidak ada keindahan dan kesenangan hakiki pada siang hari kecuali jika diisi dengan ketaatan penuh kepada Allah SWT serta keselarasan dalam menjalankan seluruh aturan-Nya.
Ketaatan dan ibadah kepada Allah—seperti mendirikan salat, bertasbih, hingga menuntut ilmu—seharusnya tidak dipandang sebagai beban kewajiban yang memberatkan, melainkan sebagai bentuk kenikmatan tertinggi yang dianugerahkan kepada hamba. Ketika seseorang mampu merasakan manisnya ketaatan pada siang hari, segala aktivitas kehidupannya akan diselimuti kedamaian dan keberkahan yang tak tertandingi oleh materi duniawi.
Lebih lanjut, penceramah memaparkan sebuah hadits riwayat Imam an-Nasai dan Ibnu Majah yang menggarisbawahi bahwa seluruh isi dunia pada dasarnya terlaknat dan hampa dari nilai di sisi Allah SWT. Satu-satunya hal yang mampu menyelamatkan dunia dan seisinya dari kerugian adalah keberadaan dzikir kepada Allah, hal-hal yang berkaitan dengannya, orang yang berilmu (‘alim), serta penuntut ilmu (muta’allim).
Pentingnya menghadirkan dzikir ini ditegaskan pula dalam rutinitas aktivitas fisik harian manusia, seperti makan, tidur, hingga hubungan suami istri. Ustadz Ahmad Muzakki mengingatkan bahwa tanpa disertai doa dan niat mengingat Allah, aktivitas biologis harian tersebut hanyalah pemenuhan nafsu jasmani biasa, namun dengan doa, setiap jengkal rutinitas itu bertransformasi menjadi nilai ibadah yang mulia.
Uraian kajian menjadi semakin segar ketika penceramah menyelipkan fenomena kehidupan sehari-hari, salah satunya saat beraktivitas di pasar tradisional. Beliau mengingatkan betapa mudahnya manusia hilang kendali dan terjebak khilaf di pusat perbelanjaan, sehingga membiasakan doa saat masuk pasar menjadi benteng spiritual agar terhindar dari perilaku konsumtif, lupa diri, maupun menyakiti perasaan sesama.
Menjelang pembahasan babak akhirat, kajian menekankan bahwa keselamatan dan kebahagiaan di alam baqa sangat bergantung pada satu hal utama, yaitu pengampunan (‘afwu) dari Allah SWT. Para ulama salafus saleh senantiasa mendahulukan permohonan ampunan di atas segala hajat lainnya, sebab ketika Allah telah mengampuni dosa seorang hamba, seluruh urusan akhiratnya dipastikan akan menjadi mudah dan penuh kedamaian.
Puncak kenikmatan hakiki yang paling didambakan oleh setiap insan beriman di dalam surga kelak bukanlah sekadar fasilitas taman dan sungainya, melainkan kesempatan untuk memandang wujud Allah SWT (Rukyatullah). Kenikmatan spiritual memandang Sang Pencipta ini begitu luar biasa hingga mampu membuat seluruh penghuni surga melupakan sejenak kenikmatan fisik yang ada di sekeliling mereka.
Untuk menguatkan pesan ketaatan, penceramah menyampaikan riwayat dari Imam Ad-Dailami mengenai kisah diturunkannya Nabi Adam AS dari surga ke bumi akibat melanggar larangan Allah. Pada peristiwa memilukan tersebut, seluruh makhluk dan tetangga surga turut merasakan duka mendalam, kecuali dua jenis benda, yaitu emas dan perak yang memilih tetap patuh sepenuhnya pada ketetapan Allah tanpa keraguan.
Atas ketaatan dan ketundukan mutlak emas dan perak terhadap perintah Sang Pencipta, Allah SWT mewahyukan kemuliaan khusus bagi keduanya hingga menjadikannya sebagai tolok ukur nilai harta yang paling stabil dan berharga sepanjang sejarah peradaban manusia di muka bumi.

Kajian yang berlangsung penuh khidmat ini diakhiri dengan sesi tanya jawab interaktif mengenai perbedaan antara jin, iblis, dan setan, serta penegasan pentingnya membentengi diri dengan bacaan ta’awwudz. Melalui majelis ini, seluruh jamaah diajak untuk terus memperbaiki kualitas ibadah, melapangkan hati dengan dzikir harian, serta senantiasa mengharapkan ridha dan ampunan Allah SWT dalam mengarungi kehidupan.
Sumber: Kajian rutin Kitab Nashaihul Ibad yang disampaikan oleh Ustadz H. Ahmad Muzakki Alhafidz di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya pada Rabu 13 Juli 2026