Menjemput Cahaya di Hari Kiamat Melalui Konsistensi Shalat Berjamaah

Ustadz Isa Sholeh Kuddeh, M.Pd.I.
Ustadz Isa Sholeh Kuddeh, M.Pd.I.

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Surabaya –  Rutinitas kehidupan modern yang serba cepat sering kali membuat manusia terjebak dalam hitungan-hitungan materialistis, hingga tanpa sadar melalaikan investasi spiritual yang sesungguhnya. Salah satu amalan sederhana namun berbobot raksasa dalam timbangan akhirat adalah melangkahkan kaki menuju rumah Allah untuk melaksanakan salat berjamaah. Guna mengupas tuntas mutiara spiritual ini, sebuah kajian mendalam bertajuk pembahasan Kitab Shahih At-Targhib Wa At-Tarhib (Pertemuan ke-58) diselenggarakan di Masjid Al-Irsyad pada Kamis, 25 Juni 2026, dengan menghadirkan narasumber Ustadz. Isa Sholeh Kuddeh, M.Pd.I.

Kajian ini membuka mata jamaah mengenai betapa luasnya samudra kasih sayang Allah SWT bagi mereka yang memelihara salat berjamaah. Ustadz Isa menekankan bahwa ganjaran bagi seorang hamba tidak baru dimulai ketika ia takbiratulihram bersama imam, melainkan sejak titik awal ia mempersiapkan diri di rumah. Setiap tetesan air wudu yang dibasuh dan setiap jengkal langkah yang diayunkan menuju rumah Allah telah masuk dalam kalkulasi pahala yang mulia.

Istimewanya, catatan amal saleh ini tidak berhenti bergulir saat seseorang selesai menunaikan salat dan melangkah pulang. Berdasarkan hadis-hadis nabi, perjalanan kembali menuju rumah pasca-salat pun tetap dihitung sebagai ibadah yang bernilai tinggi. Keberkahan yang utuh dari pergi hingga pulang ini menunjukkan betapa Allah sangat menghargai setiap pengorbanan fisik yang dilakukan seorang hamba demi mendatangi rumah-Nya.

Lebih jauh, Ustadz Isa menjelaskan sebuah janji besar yang diabadikan dalam sabda Rasulullah ﷺ mengenai wafatnya seseorang dalam perjalanan ibadah. Apabila Allah menakdirkan ajal menjemput seorang mukmin saat ia sedang berjalan menuju masjid atau ketika melangkah pulang setelah salat berjamaah, maka kematian tersebut terhitung sebagai wafat yang husnul khatimah (akhir yang baik). Hal ini menjadi penghibur sekaligus motivasi besar bahwa akhir hayat yang mulia bisa dijemput melalui konsistensi menjaga salat berjamaah.

Salah satu pembahasan yang menjadi inti kajian malam itu adalah keutamaan luar biasa bagi mereka yang gemar menembus kegelapan malam demi memenuhi panggilan selawat, khususnya pada waktu Subuh dan Isya. Rasulullah ﷺ memerintahkan untuk menyampaikan kabar gembira kepada orang-orang yang terbiasa berjalan ke masjid di waktu-waktu gelap tersebut. Hadiah yang dipersiapkan Allah tidak main-main, yakni karunia berupa cahaya yang sempurna pada hari kiamat kelak.

Cahaya sempurna ini bukan sekadar kiasan, melainkan perlindungan nyata yang akan menerangi hamba tersebut saat melewati masa-masa menegangkan di hari kiamat, termasuk ketika menyeberangi jembatan shirat. Ustadz Isa menjelaskan bahwa balasan ini berbanding lurus dengan perjuangan di dunia: barang siapa yang rela memaksa dirinya keluar menembus kegelapan malam demi rumah Allah, maka Allah akan menghalau segala bentuk kegelapan dan kesusahan darinya, baik di alam barzakh maupun di mahsyar.

Sebaliknya, kajian ini juga memberikan peringatan keras mengenai bahaya laten yang mengintai orang-orang yang berat melangkahkan kaki ke masjid. Di zaman Rasulullah ﷺ, waktu Isya dan Subuh yang gelap menjadi ruang pembuktian iman, karena pada dua waktu inilah orang-orang munafik kerap absen dari salat berjamaah. Mereka enggan datang karena saat suasana gelap, kehadiran mereka tidak terpantau oleh pandangan manusia, yang membuktikan bahwa ibadah mereka selama ini hanyalah demi mencari pengakuan (riya).

Ustadz Isa menegaskan bahwa salah satu indikator paling valid bagi seseorang untuk memastikan dirinya bersih dari virus kemunafikan adalah dengan merutinkan salat lima waktu di masjid secara ikhlas. Orang munafik tidak akan pernah sanggup secara konsisten menjaga salat berjamaah, terutama Subuh dan Isya, karena ketiadaan iman di dalam dada mereka. Sebagaimana disabdakan nabi, andai mereka mengetahui besarnya keutamaan di dua waktu tersebut, niscaya mereka akan mendatangi masjid walau harus merangkak.

Di tengah-tengah penjelasan, narasumber melemparkan kritik sosial yang mendalam terhadap pola asuh orang tua di era kontemporer yang mulai terjangkit arus sekularisme dan materialisme. Banyak orang tua yang merasa sangat gelisah, cemas, bahkan marah jika anak-anak mereka gagal dalam nilai akademik atau sains seperti matematika dan fisika. Namun di sisi lain, mereka cenderung bersikap tenang dan abai saat melihat anak-anak mereka tidak memiliki kesadaran untuk mendirikan salat atau tidak bisa mengaji.

Fenomena pergeseran standar kesuksesan ini dinilai sebagai racun pemikiran yang berbahaya, di mana agama hanya dipandang sebagai aspek pinggiran yang murah dan remeh. Ustadz Isa mengingatkan agar para orang tua kembali merujuk pada kriteria kesuksesan anak yang diabadikan dalam Al-Qur’an melalui kisah Luqman Al-Hakim, yang menempatkan tauhid, akhlak, dan penegakan salat sebagai pondasi utama. Standar anak yang hebat bukanlah sekadar lulusan universitas luar negeri, melainkan mereka yang memiliki profil salih yang seimbang antara kapasitas duniawi dan ketakwaan ukhrawi.

Kembali pada bahasan keutamaan fiqih, kajian tersebut mengupas hadis riwayat Abu Umamah yang menyetarakan nilai ibadah harian ini dengan ibadah besar lainnya. Disebutkan bahwa seorang muslim yang bersuci secara sempurna dari rumahnya kemudian keluar untuk melaksanakan salat wajib secara berjamaah, maka ia berhak mendapatkan pahala yang setara dengan orang yang berhaji dalam keadaan ihram. Sementara itu, mereka yang melangkah demi salat Duha akan diganjar pahala layaknya orang yang menunaikan ibadah umrah.

Sebagai penutup, Ustadz Isa Sholeh Kuddeh memberikan petuah penting mengenai adab dalam menunggu waktu salat. Jamaah diimbau untuk mengisi jeda waktu antarsalat dengan memperbanyak zikir, membaca Al-Qur’an, atau amalan bermakna lainnya, serta menjauhi obrolan duniawi yang sia-sia, terlebih tindakan menggunjing (ghibah). Dengan menjaga lisan dan kesucian hati selama berada di dalam rumah-Nya, barulah pahala berlimpah yang telah dijanjikan Allah dari awal langkah kaki dapat diraih secara

sempurna dan utuh.

Sumber: Kajian Kitab Shahih At-Targhib Wa At-Tarhib (Pertemuan ke-58) bersama Ustadz Isa Sholeh Kuddeh, M.Pd.I di Masjid Al-Irsyad Surabaya pada Jum’at 25 Juni 2026.

E-Buletin