Kabarmasjid.id, Surabaya – Pergantian tahun dalam kalender Hijriah selalu menjadi momentum yang sakral bagi umat Muslim untuk merenung, memperbanyak amalan, dan menata kembali orientasi spiritual kehidupan. Suasana penuh keberkahan inilah yang melandasi terselenggaranya Pengajian Rutin bersama narasumber terkemuka, Habib Ahmad Yunus Al-Muhdhor, yang dilaksanakan pada hari Jumat, 12 Juni 2026, bertempat di Masjid Nur Syamsiah. Dalam ceramahnya yang mendalam, beliau mengupas tuntas berbagai fadhilah bulan Muharram serta membekali para jemaah dengan panduan amalan praktis yang bersumber dari warisan para ulama salaf guna menyongsong tahun baru dengan lembaran yang suci.
Habib Ahmad Yunus Al-Muhdhor mengawali kajiannya dengan mengingatkan pentingnya memanfaatkan waktu-waktu krusial di penghujung dan awal tahun, khususnya pada hari Senin dan Selasa yang menandai transisi tersebut. Beliau sangat menganjurkan para jemaah untuk melaksanakan ibadah puasa sunah pada kedua hari tersebut agar transisi tahun dihiasi oleh ketaatan yang berkesinambungan. Menurut penuturan beliau, seseorang yang menutup tahun lamanya dengan berpuasa dan membuka tahun barunya juga dengan berpuasa, memiliki peluang yang sangat besar agar seluruh perbuatan di tahun tersebut diganti dengan pahala oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Selain berpuasa, amalan penting lainnya yang tidak boleh dilewatkan adalah pembacaan doa akhir tahun dan doa awal tahun. Doa akhir tahun sebaiknya dibaca sebelum memasuki waktu Magrib di hari terakhir kalender Hijriah, sementara doa awal tahun dilantunkan setelah melangsungkan salat Magrib saat hilal bulan Muharram mulai tampak. Habib Ahmad Yunus menjelaskan bahwa pembacaan doa-doa ini bukan sekadar ritual musiman, melainkan memiliki fadhilah yang luar biasa, yakni mampu menggugurkan dosa-dosa yang telah lalu selama lima puluh tahun sekaligus menjadi benteng yang meruntuhkan segala daya upaya iblis dalam menyesatkan manusia.
Memasuki hari pertama bulan Muharram, terdapat amalan khusus berupa pembacaan Ayat Kursi sebanyak 360 kali yang diawali dengan bacaan bismillahirrahmanirrahim pada setiap kali memulai. Habib Ahmad Yunus Al-Muhdhor menekankan bahwa pembacaan yang berulang sesuai jumlah hari dalam setahun ini berfungsi sebagai perisai spiritual yang kokoh. Jemaah yang mengamalkannya dengan penuh keikhlasan insyaallah akan mendapatkan perlindungan ketat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, baik dari godaan setan yang terkutuk maupun dari berbagai bentuk bencana dan malapetaka yang mengancam sepanjang tahun berjalan.
Tidak hanya amalan lisan, dalam pengajian tersebut Habib Ahmad Yunus juga membagikan metode amalan tulis yang bersumber dari kitab-kitab mujarab para ulama terdahulu. Beliau menginstruksikan para jemaah untuk menulis kalimat bismillahirrahmanirrahim sebanyak 113 kali serta asma Ar-Rahman sebanyak 50 kali pada hari Selasa yang merupakan hari pertama Muharram. Tulisan tangan tersebut kemudian disarankan untuk dilipat rapi atau dilaminating agar terjaga kebersihannya, lalu disimpan di dalam rumah atau dibawa bepergian sebagai wasilah tabarruk demi keselamatan diri serta seluruh anggota keluarga.
Namun, beliau memberikan catatan penting bahwa dalam memperlakukan tulisan ayat-ayat suci tersebut, jemaah harus menempatkannya di tempat yang terhormat dan layak. Habib Ahmad Yunus melarang keras jemaah menyimpan tulisan tersebut di dalam dompet karena berisiko besar terbawa ke dalam kamar mandi atau terduduki secara tidak sengaja, yang bisa mengurangi nilai takzim terhadap kalamullah. Selain itu, beliau juga menegaskan aturan fikih yang ketat bahwa proses penulisan ayat-ayat Al-Qur’an dan asmaul husna ini sama sekali tidak diperbolehkan bagi siapa saja, termasuk kaum wanita, yang sedang berada dalam keadaan hadas besar atau masa uzur syar’i.
Menukil pemaparan dari kitab Syekh Abdul Hamid Qudus, Habib Ahmad Yunus Al-Muhdhor menjelaskan bahwa doa awal tahun tidak semestinya dibaca sekali saja pada malam pertama pergantian tahun. Doa tersebut termasuk dalam kategori zikir harian yang dianjurkan untuk dibaca sebanyak tiga kali setiap hari secara berturut-turut, mulai dari tanggal 1 hingga tanggal 10 Muharram. Konsistensi dalam mengamalkan doa ini selama sepuluh hari pertama bulan suci tersebut diyakini para ulama salaf sebagai kunci utama untuk mengunci penjagaan dan ketenangan hati dari segala bentuk fitnah zaman.
Kajian kemudian beralih pada pembahasan fadhilah bulan Muharram secara makro, di mana bulan ini disebut secara eksplisit dalam hadis sahih sebagai “Syahrullah” atau bulannya Allah. Habib Ahmad Yunus menegaskan kembali sabda Rasulullah bahwa puasa sunah terbaik setelah puasa wajib di bulan Ramadan adalah puasa di bulan Muharram. Keistimewaan bulan ini begitu agung, bahkan para ulama mengalkulasi bahwa pahala melaksanakan ibadah puasa satu hari saja di bulan Muharram nilainya setara dan dilipatgandakan bagaikan berpuasa selama tiga puluh hari di bulan-bulan biasa lainnya.
Puncak kemuliaan dari bulan ini berada pada hari kesepuluh yang dikenal luas sebagai Hari Asyura, sebuah hari bersejarah di mana Allah menyelamatkan Nabi Musa Alaihis salam dari kejaran Firaun. Pengajian rutin ini menggarisbawahi bahwa berpuasa pada Hari Asyura memiliki ganjaran yang luar biasa berupa penghapusan dosa setahun yang lalu, namun pengerjaannya disunahkan untuk digandeng dengan hari sebelum (Tasu’a pada 9 Muharram) atau hari sesudahnya (11 Muharram) demi membedakan diri dari tradisi kaum Yahudi. Di samping berpuasa, Habib Ahmad Yunus menganjurkan jemaah untuk melapangkan belanja atau nafkah bagi keluarga serta memperbanyak sedekah menyantuni anak-anak yatim pada hari tersebut.
Di tengah antusiasme jemaah membahas berbagai amalan sunah, Habib Ahmad Yunus Al-Muhdhor memberikan nasihat mendalam dari bapak spiritual Islam, Al-Imam Al-Ghazali dalam kitab Minhajul ‘Abidin, mengenai urgensi taubat nasuha. Beliau mengingatkan bahwa fondasi dari seluruh amalan spiritual di bulan Muharram ini tidak akan memiliki arti apa-apa tanpa adanya pembersihan jiwa dari noda maksiat. Menurut Imam Al-Ghazali, menumpuknya dosa tanpa bertaubat akan menghitamkan hati dan mengeraskan jiwa, yang pada gilirannya membuat fisik seseorang terasa sangat berat dan enggan untuk diajak melakukan ketaatan serta ibadah malam.
Habib Ahmad Yunus mengibaratkan orang yang sibuk mengejar pahala sunah namun mengabaikan taubat dan kewajiban dasar bagaikan seseorang yang mengenakan pakaian seharga ratusan juta rupiah tetapi tidak pernah mandi dan mencuci pakaian tersebut selama belasan hari. Meskipun disemprot dengan wewangian yang mahal setiap saat, pakaian dan tubuh yang kotor tersebut akan tetap memancarkan aroma yang tidak sedap. Begitu pula dengan ibadah manusia; perhiasan amal-amal sunah yang agung tidak akan mampu bersinar indah di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala apabila diri manusia tersebut masih dipenuhi oleh najis dosa serta kemaksiatan yang belum dibasuh dengan air taubat.

Sebagai penutup kajian yang sarat hikmah ini, beliau menegaskan bahwa syarat mutlak agar ibadah sunah dan proposal doa kita di awal tahun ini diangkat serta diterima oleh Allah adalah dengan menyelesaikan urusan-urusan wajib, terutama yang berkaitan dengan hak sesama manusia (hablum minannas). Seseorang tidak sepatutnya sibuk bersedekah, umrah, atau mengejar amalan sunah lainnya sementara ia masih menzalimi orang lain atau menunda-nunda pembayaran utang yang sudah jatuh tempo tanpa uzur yang jelas. Dengan mendahulukan taubat, melunasi kewajiban, serta menghidupkan amalan-amalan utama Muharram yang telah diajarkan, umat Muslim diharapkan dapat memasuki lembaran tahun baru dengan jiwa yang bersih, berkah, dan senantiasa berada dalam ridho-Nya.
Sumber: Pengajian Rutin bersama Habib Ahmad Yunus Al-Muhdhor di Masjid Nur Syamsiah yang disiarkan pada Jum’at 12 Juni 2026