Menjemput Akhlak Karimah, Bekal Utama Para Pejuang Akhirat di Jalan yang Panjang

Ustadzah Evie Silfia Zubaedi
Ustadzah Evie Silfia Zubaedi

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Surabaya – Menjalani kehidupan di dunia sering kali membuat manusia terjebak dalam rutinitas mengejar sesuatu yang fana dan melupakan hakikat perjalanan yang sesungguhnya. Untuk membedah esensi perjuangan hidup yang sejati, Masjid Ash-Shoobiriin Surabaya menyelenggarakan Kajian Inspiratif Muslimah bertajuk “Akhlak Kharimah dan Jalan Panjang Para Pejuang” pada Selasa, 23 Juni 2026. Berlokasi di ruang utama Masjid Ash-Shoobiriin, kajian yang berlangsung khidmat ini menghadirkan narasumber utama, Ustadzah Evie Silfia Zubaedi atau yang akrab disapa Bunda Evi, yang mengupas tuntas bagaimana seorang muslimah harus memposisikan diri di tengah gemerlapnya ujian duniawi.

Pada awal paparannya, Bunda Evi menegaskan bahwa setiap manusia yang hidup di muka bumi ini pada hakikatnya adalah seorang pejuang. Namun, arah perjuangan tersebut sering kali keliru karena manusia lebih banyak menghabiskan energi untuk mencemaskan urusan rezeki yang takarannya sudah dijamin oleh Allah SWT. Menurutnya, perjuangan yang sesungguhnya adalah berjuang untuk taat secara totalitas, yakni dengan memahami secara persis apa yang dicintai dan dibenci oleh Allah, kemudian mengimplementasikannya dalam bentuk ibadah nyata di kehidupan sehari-hari.

Lebih lanjut, Bunda Evi menjelaskan bahwa tolok ukur utama dari nilai ibadah seorang hamba terletak pada dua keseimbangan, yaitu hubungan yang baik dengan Sang Pencipta (hablum minallah) dan hubungan yang harmonis dengan sesama manusia (hablum minannas). Ketika kedua dimensi ini mampu berjalan beriringan dengan selaras, maka di situlah akan lahir apa yang disebut dengan akhlak karimah. Akhlak mulia inilah yang menjadi modal utama sekaligus benteng bagi setiap muslim dalam menapaki jalan panjang menuju kehidupan yang abadi.

Dalam kajian tersebut, sebuah sudut pandang yang mendalam dibuka mengenai kekeliruan manusia yang sering kali mati-matian mempersiapkan hal yang sudah pasti, tetapi mengabaikan hal yang belum pasti. Urusan duniawi dan materi adalah sesuatu yang sudah dijamin batasannya, sedangkan kondisi akhir hayat manusia—apakah akan berakhir dalam keadaan husnul khatimah atau suul khatimah—merupakan sebuah ketidakpastian yang besar. Oleh karena itu, konsistensi dalam menjaga keistiqamahan beribadah tanpa dihinggapi rasa sombong (ujub) menjadi syarat mutlak yang harus diperjuangkan hingga napas terakhir.

Bunda Evi juga mengingatkan para jemaah untuk senantiasa melakukan tafakur mengenai fase-fase berat setelah kematian yang penuh dengan ketidakpastian. Mulai dari jeratan ujian di alam kubur saat menghadapi pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir, panjangnya waktu tunggu di Padang Mahsyar yang digambarkan mencapai puluhan ribu tahun, hingga momen mendebarkan saat buku catatan amal dibagikan. Semua fase tersebut menuntut persiapan bekal yang matang dari sekarang, karena tidak ada satu pun manusia yang mengetahui secara pasti bagaimana nasib mereka kelak di hadapan timbangan amal (mizan).

Salah satu momen yang paling disorot dalam kajian ini adalah peringatan mengenai dahsyatnya peristiwa di jembatan shirat. Digambarkan sebagai jembatan yang lebih tipis dari helai rambut dan lebih tajam dari bilah pedang dengan pengkait di sisi-sisinya, jalur ini menjadi fase paling horor yang wajib dilewati oleh setiap manusia tanpa terkecuali, baik rakyat jelata maupun pemimpin dunia. Kesadaran akan ngerinya fase ini seharusnya mampu mengubah cara pandang manusia dalam menjalani kehidupan, sehingga mereka tidak lagi berani berbuat zalim atau memakan hak orang lain.

Guna mempermudah jemaah dalam memperbaiki diri, Bunda Evie membedah implementasi akhlak karimah yang dimulai dari hubungan kepada Allah SWT melalui prinsip Lillah—yakni menyertakan Allah dalam setiap embusan napas dan aktivitas. Bunda Evi membagikan sebuah kisah sarat hikmah tentang seorang istri di Timur Tengah yang memiliki kebiasaan luhur selalu mengucapkan Bismillah dalam setiap pergantian aktivitasnya. Melalui konsistensi ucapan yang melibatkan nama Allah tersebut, sang istri tidak hanya mendatangkan keajaiban dan pertolongan yang nyata, tetapi juga berhasil mengetuk pintu tobat suaminya yang semula tidak menyukai kebiasaan tersebut.

Selain prinsip Lillah, akhlak kepada Allah juga harus diwujudkan melalui sifat qanaah, senantiasa bersyukur, dan selalu berprasangka baik (husnudzan) terhadap segala ketetapan-Nya. Jemaah diajak untuk menyadari bahwa setiap ujian yang hadir di dalam hidup—baik berupa sakit maupun kesulitan ekonomi—pasti dibarengi dengan sistem pendukung (support system) yang telah Allah sediakan. Tidak ada ujian yang murni buruk; yang ada hanyalah sudut pandang manusia yang sering kali tidak menyukai proses ujian tersebut karena kurangnya ilmu dan rasa syukur.

Pindah ke dimensi sosial, paparan kajian beralih pada pentingnya menjaga akhlak mulia kepada sesama manusia melalui sifat jujur, amanah, menepati janji, serta berbakti kepada orang tua dan mertua. Penekanan khusus diberikan pada sifat amanah bagi para ibu, di mana tugas utama orang tua bukanlah sekadar mencetak anak menjadi profesi yang mapan demi mengejar materi, melainkan mengantarkan anak-anak mereka menjadi hamba yang taat kepada Allah. Bunda Evi juga mengingatkan agar setiap muslim menjauhi sifat ingkar janji, termasuk dalam urusan waktu dan utang-piutang, karena dampaknya dapat menggugurkan nilai ibadah wajib maupun sunah.

Kisah keluhuran hati para sahabat nabi, seperti Salman al-Farisi dan Bilal bin Rabah, turut dihadirkan sebagai potret nyata dari penerapan akhlak karimah yang berbasis totalitas Lillah. Ketika Salman al-Farisi mendapati lamaran pernikahannya ditolak oleh seorang gadis yang justru memilih sahabat karibnya sendiri, Abu Darda, ia tidak menunjukkan rasa benci atau sakit hati. Sebaliknya, Salman dengan lapang dada memuji kebesaran Allah, menyerahkan seluruh harta yang telah dikumpulkannya untuk membantu pernikahan mereka, bahkan bersedia menjadi saksi pernikahan tersebut karena meyakini bahwa pilihan Allah tidak pernah meleset.

Tidak hanya mengatur hubungan antarmanusia, Islam sebagai agama yang paripurna juga menekankan pentingnya menjaga adab dan akhlak terhadap lingkungan sekitar. Bunda Evi menyayangkan masih banyaknya umat muslim yang belum mencerminkan nilai-nilai islami dalam kehidupan bertetangga dan pasilitas umum, seperti kebiasaan parkir sembarangan yang merugikan pengguna jalan lain atau mengabaikan kebersihan di area masjid. Beliau mengajak jemaah mencontoh kedisiplinan di negara maju terkait kebersihan fasilitas umum, dan menegaskan bahwa menjaga kebersihan lingkungan adalah bagian tidak terpisahkan dari cerminan keimanan seseorang.

Menutup kajian yang penuh inspirasi tersebut, Bunda Evi berbagi kisah menyentuh mengenai perjuangan panjangnya selama empat tahun demi mengurus izin Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) untuk mendirikan sebuah pesantren gratis bagi anak-anak dhuafa. Di tengah tantangan kenaikan harga bahan bangunan pasca-izin keluar, beliau membuka kesempatan emas bagi jemaah yang ingin menginvestasikan harta mereka melalui program wakaf produktif. Beliau juga berpesan agar para orang tua membiasakan diri mengajak anak-anak mereka ikut berwakaf sejak dini, demi menanamkan fondasi kebaikan permanen yang akan menjadi penyelamat di jalan panjang akhirat kelak.

Sumber: Kajian Inspiratif Muslimah bertajuk “Ahlaq Kharimah dan Jalan Panjang Para Pejuang” pada bersama Ustadzah Evie Silfia Zubaedi  yang diselenggarakan di Masjid Ash-Shoobiriin Surabaya pada Selasa 23 Juni 2026

E-Buletin