KabarMasjid.id, Surabaya – Di tengah gempuran arus modernisasi dan disrupsi teknologi, menjaga keteguhan iman menjadi tantangan yang kian kompleks bagi umat Muslim. Seringkali kita terjebak dalam dilema antara mempertahankan tradisi lama atau mengikuti perubahan zaman yang begitu cepat tanpa filter spiritual yang kuat.
Kajian mendalam mengenai persoalan ini dilaksanakan pada Jum’at, 2 Januari 2026, bertempat di Masjid Diponegoro, Surabaya. Dengan menghadirkan narasumber Ustadz Nurul Huda, kajian ini mengangkat tema utama “Keimanan yang Kokoh” sebagai kompas navigasi umat dalam menghadapi dinamika kehidupan modern yang penuh dengan fitnah dan perubahan.
Dalam pembukaannya, Ustadz Nurul Huda menekankan bahwa bertambahnya tahun sejatinya adalah berkurangnya kontrak hidup manusia di dunia. Oleh karena itu, penting bagi setiap individu untuk terus meningkatkan kualitas iman dan takwa agar sisa umur yang dimiliki tidak terbuang sia-sia dalam kesia-siaan atau kebodohan yang berulang.
Beliau menyoroti fenomena masyarakat yang seringkali terbelenggu oleh adat istiadat atau kebiasaan lama yang sebenarnya menghambat kemajuan. Mengutip pemikiran Ibnu Taimiyah, Ustadz menjelaskan bahwa seseorang yang hanya bersandar pada kata “pokoknya” tanpa mau membuka diri pada ilmu baru akan mengalami kemandegan berpikir dan tertinggal oleh peradaban.
Perubahan zaman adalah sebuah keniscayaan atau sunatullah yang tidak bisa dihindari. Ustadz mencontohkan bagaimana transformasi alat belajar dari papan sabak di masa lalu menjadi laptop dan internet di masa sekarang harus diterima sebagai bagian dari perkembangan ilmu pengetahuan yang harus dikuasai oleh umat Islam agar tidak tergilas oleh zaman.
Namun, di balik keterbukaan terhadap teknologi, Ustadz Nurul Huda memperingatkan bahaya Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan jika tidak dibarengi dengan iman yang kokoh. Tanpa pondasi spiritual, teknologi canggih tersebut justru bisa menjadi alat penyebar fitnah dan kebohongan yang merusak tatanan sosial dan moral masyarakat.
Lebih lanjut, kajian ini membedah makna Surat Al-Baqarah ayat 218 yang mengandung tiga pilar keselamatan: Iman, Hijrah, dan Jihad. Ketiganya merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan jika seorang hamba mengharapkan rahmat dan ampunan dari Allah SWT dalam setiap langkah kehidupannya.
Konsep hijrah yang ditekankan bukan sekadar perpindahan fisik, melainkan “hijrah spiritual” yaitu meninggalkan segala bentuk maksiat dan belenggu kegelapan menuju ketaatan yang sempurna. Ustadz mengajak jemaah untuk berani meninggalkan zona nyaman yang buruk demi menggapai rida Allah yang lebih besar.
Terkait jihad, Ustadz meluruskan pandangan dengan menekankan pentingnya “jihad ilmu”. Berjuang melawan kebodohan dengan terus menuntut ilmu adalah bentuk jihad yang sangat relevan saat ini. Beliau menegaskan bahwa hanya dengan ilmulah umat Islam dapat memberikan solusi atas berbagai problematika sosial yang terjadi di tengah masyarakat.
Ustadz juga mengingatkan bahwa keberkahan hidup dan kelancaran rezeki sangat bergantung pada ampunan Allah. Beliau menyarankan agar setiap Muslim memperbanyak istigfar, karena dosa-dosa yang tidak disadari seringkali menjadi penghalang datangnya rahmat dan ketenangan dalam rumah tangga maupun pekerjaan.
Di akhir kajian, beliau menekankan bahwa harta dan fasilitas yang mewah bukanlah jaminan kebahagiaan sejati. Kunci utama kebahagiaan adalah rasa syukur dan hati yang tenang (mutmainnah). Tanpa syukur, kenikmatan yang melimpah justru bisa berubah menjadi bencana sebagaimana sejarah kaum-kaum terdahulu yang kufur nikmat.
Kajian ini ditutup dengan untaian doa yang khusyuk untuk kesehatan para jemaah, kelancaran urusan, serta permohonan agar bangsa Indonesia selalu dilindungi dari berbagai bencana kemanusiaan. Ustadz Nurul Huda berharap jemaah pulang dengan semangat baru untuk menjadi pribadi yang lebih adaptif namun tetap teguh memegang prinsip syariat.
Sumber: Kajian Masjid Diponegoro Surabaya oleh Ustadz Nurul Huda dengan tema “Keimanan yang Kokoh”