Menjaga Ketenangan Jiwa: Lima Resep Obat Hati dalam Kajian Kitab Nashoihul Ibad

Ustadz H. Ahmad Muzakki Alhafidz
Ustadz H. Ahmad Muzakki Alhafidz

Bagikan postingan :

KabarMasjid.id, Surabaya – Menjalani kehidupan di era modern yang serba cepat seringkali membuat hati merasa tidak tenang, stres, hingga kehilangan arah. Dalam menghadapi kondisi batin yang demikian, bimbingan spiritual dari para ulama menjadi oase yang menyejukkan untuk menuntun kita kembali pada hakikat ketenangan sejati. Salah satu panduan yang sangat relevan adalah kajian Kitab Nashoihul Ibad yang disampaikan oleh Ustad H. Ahmad Muzakki Alhafidz pada tanggal 26 Januari 2026 di Masjid Nasional Al Akbar Surabaya.

Pada awal pemaparannya, Ustadz Muzakki menekankan pentingnya menyadari kondisi hati yang mulai mengeras atau menjauh dari cahaya ilahi. Beliau mengutip maqalah ke-14 dari Syekh Abdullah al-Antoqi yang bersumber dari ulama besar Ibrahim al-Khawas mengenai lima perkara yang menjadi obat bagi hati. Kelima resep spiritual ini dianggap sebagai fondasi utama bagi siapa saja yang ingin memperbaiki kualitas batin dan memperkuat hubungan dengan Sang Pencipta.

Resep pertama yang diulas adalah pentingnya Majalisatus Shalihin atau duduk bersama orang-orang saleh. Ustadz Muzakki menjelaskan bahwa berada dalam satu majelis dengan orang-orang yang gemar berbuat kebaikan secara otomatis akan memberikan pengaruh positif bagi kejiwaan seseorang. Dengan berkumpul di majelis ilmu, penyakit-penyakit hati seperti sombong dan iri hati akan perlahan luntur karena atmosfer kebaikan yang melingkupinya.

Poin kedua adalah rutin membaca Al-Qur’an dengan tadabur atau mencoba memahami maknanya. Ustadz Muzakki menganalogikan Al-Qur’an sebagai “surat cinta” dari Allah kepada hamba-Nya yang mengandung petunjuk keselamatan. Beliau mengingatkan bahwa membaca satu huruf Al-Qur’an saja sudah bernilai sepuluh kebaikan, apalagi jika dilakukan dengan penghayatan mendalam yang mampu mendinginkan hati yang sedang panas.

Selanjutnya, Ustadz Muzakki membahas mengenai pentingnya menjaga perut dari makanan yang tidak halal dan berlebihan. Makanan halal merupakan pangkal dari segala kebaikan karena ia menyinari mata batin dan memberikan energi positif untuk beribadah. Sebaliknya, gaya hidup yang terlalu memanjakan nafsu makan dan kemalasan hanya akan membuat hati menjadi keras dan sulit menerima hidayah.

Obat hati yang keempat adalah menghidupkan malam dengan Qiyamullail atau salat sunah di sepertiga malam. Meski hanya dilakukan dua rakaat, salat malam memiliki kekuatan besar dalam mengangkat derajat seseorang dan memberikan ketenangan saat menghadapi masalah hidup yang berat. Salat malam berfungsi sebagai sistem kontrol agar mental kita tidak mudah jatuh atau terpuruk saat tertimpa ujian.

Resep terakhir adalah Tadarru’ atau merendahkan diri kepada Allah di waktu subuh atau sahur. Waktu-waktu ini adalah saat di mana rahmat Allah turun ke bumi dan doa-doa dikabulkan secara luar biasa. Ustaz Muzakki mengajak jamaah untuk tidak menyia-nyiakan waktu mustajabah ini dengan memperbanyak istigfar, mengingat kematian, dan memohon kelancaran segala urusan dunia maupun akhirat.

Memasuki sesi tanya jawab, kajian ini juga menyentuh momentum penting bulan Sya’ban yang saat ini sedang dijalani umat Islam. Ustadz Muzakki menjelaskan bahwa bulan Sya’ban adalah masa di mana amal ibadah manusia selama setahun dilaporkan atau diangkat ke langit. Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan untuk meningkatkan kualitas ibadahnya sebagai bekal sebelum memasuki gerbang bulan suci Ramadan.

Terkait tradisi Nisfu Sya’ban, Ustadz Muzakki memaparkan praktik yang umum di kalangan ulama dengan membaca surat Yasin sebanyak tiga kali. Pembacaan pertama diniatkan untuk memohon panjang umur dalam ketaatan, kedua untuk wafat dalam keadaan husnul khatimah, dan ketiga untuk memohon keberkahan rezeki. Praktik ini merupakan bentuk ikhtiar spiritual agar laporan amal kita diakhiri dengan catatan yang baik.

Keistimewaan bulan Sya’ban lainnya adalah adanya peristiwa sejarah perpindahan arah kiblat dari Masjidil Aqsa ke Masjidil Haram. Selain itu, pada bulan inilah turun ayat yang memerintahkan umat Islam untuk senantiasa bersalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Hal ini menjadikan Sya’ban sebagai bulan yang penuh kemuliaan bagi siapa saja yang ingin meningkatkan kecintaan mereka kepada Rasulullah.

Ustadz Muzakki juga sempat memberikan tafsir mendalam mengenai permohonan hidayah dalam surat Al-Fatihah, khususnya ayat “Ihdinas sirathal mustaqim”. Beliau menjelaskan bahwa jalan lurus yang dimaksud adalah jalan orang-orang yang memiliki tauhid yang benar. Menjaga ketauhidan agar tidak melenceng memerlukan ilmu yang memadai, sehingga belajar agama secara rutin menjadi kewajiban agar tidak tersesat dalam pemahaman yang keliru.

Sumber: Kajian Kitab Nashoihul Ibad di Masjid Nasional Al Akbar Surabaya yang disampaikan oleh Ustadz H. Ahmad Muzakki Alhafidz

E-Buletin