Menjaga Keteguhan Iman Saat Diuji: Belajar dari Solusi Rabbani dan Teladan Rasulullah

Ustadz Dr. Haris Hermawan, B.A., M.Ed.
Ustadz Dr. Haris Hermawan, B.A., M.Ed.

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Surabaya – Kehidupan di dunia ini tidak pernah lepas dari dinamika yang menguji ketahanan mental dan spiritual manusia. Setiap individu pasti akan melewati fase-fase sulit yang menguras emosi, mulai dari kehilangan orang tercinta, himpitan ekonomi, hingga menyaksikan penindasan global yang menyayat hati nurani. Bagi seorang muslim, menghadapi rangkaian peristiwa ini memerlukan cara pandang yang benar agar fondasi keyakinannya tidak goyah. Guna mengupas tuntas rahasia di balik keteguhan hati tersebut, sebuah kajian keagamaan mendalam bertajuk “Keteguhan Orang Beriman dalam Menghadapi Cobaan” telah diselenggarakan pada Senin, 1 Juni 2026, bertempat di Masjid Al-Hilal, Surabaya, dengan menghadirkan narasumber Ustadz Dr. Haris Hermawan, B.A., M.Ed,.

Dalam pemaparannya, Ustadz Haris menjelaskan bahwa materi kajian malam itu terinspirasi dari karya tulis salah satu ulama besar sekaligus guru besar di Kota Madinah, yakni Syekh Abdur Razzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr,. Melalui perspektif sosiologis dan spiritual, beliau mengawali kajian dengan berdialog bersama jemaah mengenai ragam cobaan nyata yang kerap menimpa umat, seperti wafatnya ibunda tercinta, kehadiran pemimpin yang zalim, hingga tragedi kemanusiaan yang melanda saudara-saudara muslim di Jalur Gaza, Palestina,. Rangkaian fakta objektif ini menjadi jembatan untuk memahami hakikat mendasar bahwa dunia ini diciptakan sebagai tempat ujian.

Lebih lanjut, beliau menegaskan bahwa Allah SWT sengaja menguji hamba-Nya dengan berbagai cobaan dan fitnah yang berat karena ada tujuan besar serta hikmah di balik itu semua. Merujuk pada Al-Qur’an Surah Al-Anfal ayat 37, salah satu hikmah terbesarnya adalah agar Allah memisahkan antara hamba yang buruk (al-khabits) dan hamba yang baik (at-thayyib). Melalui ujian pulalah, kualitas keimanan seseorang akan tersaring secara alami, sehingga terlihat jelas siapa yang benar-benar jujur dalam komitmen imannya dan siapa yang sekadar berdusta.

Ustadz Haris juga memberikan peringatan keras mengenai fenomena lemahnya iman sebagian manusia yang diistilahkan dalam Al-Qur’an sebagai “beribadah di tepian”,. Tipikal manusia seperti ini hanya akan merasa nyaman dan bahagia saat roda kehidupannya berada di atas atau ketika mendapatkan keberuntungan materi. Namun, begitu Allah menimpakan sedikit saja kesulitan atau fitnah, mereka langsung berbalik arah, berputus asa, bahkan ada yang sampai murtad dari agama Allah. Manusia jenis inilah yang digambarkan mengalami kerugian ganda, baik di dunia maupun di akhirat.

Beliau kemudian mengaitkan fenomena tersebut dengan realitas gerakan “hijrah” yang marak dalam satu dekade terakhir. Banyak orang yang dahulu hidup bergelimang harta dari jalur yang tidak berkah, lalu memutuskan berhijrah namun kemudian diuji dengan kesulitan finansial yang hebat hingga kesulitan menghidupi keluarga,. Bagi mereka yang tidak memiliki keteguhan, fase ini sering kali menjadi titik balik untuk kembali ke masa lalu yang kelam. Padahal, setiap mukmin harus menanamkan keyakinan bahwa Allah tidak pernah membebani seseorang melainkan sesuai dengan kadar kesanggupannya,.

Untuk membentuk jiwa yang tangguh, Ustadz Haris memaparkan empat solusi rabbani yang menjadi alasan mengapa seorang mukmin sejati bisa tetap tegar. Solusi pertama adalah pengetahuan yang yakin tanpa keraguan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah satu-satunya Pencipta dan Pengatur alam semesta. Dengan keyakinan ini, seorang muslim akan menyadari bahwa segala bentuk penindasan dan kezaliman yang terjadi di dunia saat ini berada di bawah pengawasan-Nya, dan semuanya berjalan berdasarkan hikmah-Nya yang mendalam,.

Solusi kedua terletak pada keyakinan yang kokoh terhadap janji pertolongan Allah bagi orang-orang yang membela agama-Nya,. Allah telah berjanji akan memberikan kejayaan dan keamanan di muka bumi bagi hamba-Nya yang beriman, beramal saleh, dan teguh menjaga tauhid tanpa menyekutukan-Nya (QS. An-Nur: 55),. Ustadz Haris menekankan bahwa kelemahan umat Islam saat ini dalam kancah global bukan disebabkan oleh ketertinggalan teknologi, melainkan karena lemahnya iman, rusaknya tauhid, serta maraknya kemaksiatan di tengah masyarakat,.

Faktor ketiga yang membuat orang beriman tidak mudah gentar adalah keyakinan bahwa ajal dan rezeki telah ditunaikan sepenuhnya oleh Allah. Beliau mencontohkan keteguhan luar biasa anak-anak di Gaza yang tetap mampu tersenyum di tengah puing-puing peperangan,. Dalam perspektif iman, seorang muslim tidak pernah mengenal kata kalah; jika mereka wafat karena dizalimi, maka tempat kembali mereka adalah surga dengan ganjaran pahala syahid yang mulia,. Cara pandang transendental inilah yang memotong akar rasa takut terhadap kematian.

Solusi keempat yang tidak kalah krusial adalah penerapan konsep tawakal yang benar dan utuh. Berdasarkan penjelasan Syekh Abdur Razzaq, tawakal yang sahih wajib mengandung dua unsur utama: menyandarkan hati sepenuhnya kepada Allah (imtiyadul qalbi) dan melakukan ikhtiar atau mengambil sebab yang dibolehkan syariat (itsbatul asbab),. Ustaz Haris mengingatkan bahwa tawakal bukanlah sikap pasrah tanpa tindakan, melainkan kombinasi antara kepatuhan spiritual dan kerja keras yang nyata.

Guna memperjelas konsep ikhtiar dalam tawakal, beliau mengisahkan bagaimana Rasulullah —manusia yang paling maksum dan dijamin masuk surga—tetap memakai dua lapis baju besi, pelindung kepala, serta membawa pedang saat maju ke medan Perang Uhud,. Rasulullah  tidak keluar begitu saja ke medan laga hanya dengan modal pasrah, bahkan beliau sendiri sempat mengalami luka-luka parah akibat serangan musuh,. Kisah ini menjadi teladan abadi bahwa syariat Islam sangat menjunjung tinggi hukum sebab-akibat dalam setiap perjuangan hidup.

Di akhir kajiannya, Ustadz Haris menggunakan analogi Perang Uhud tersebut untuk meluruskan salah kaprah di masyarakat mengenai fenomena “ilmu kebal”. Beliau menegaskan bahwa ilmu kebal yang marak diklaim oleh sebagian kalangan bukanlah berasal dari ajaran Islam. Praktik semacam itu umumnya diperoleh melalui bantuan jin kafir dengan mahar amalan syirik yang merusak akidah,. Beliau juga menceritakan pengalaman masa kecilnya saat sebuah pertunjukan debus atau ilmu kebal seketika macet dan gagal total hanya karena dibacakan Ayat Kursi dan surah-surah pendek oleh anak-anak di sekitar lokasi,.

Sumber: Kajian Ba’da Maghrib Masjid Al Hilal Surabaya pada Senin, 1 Juni 2026 bersama Ustadz Dr. Haris Hermawan, B.A., M.Ed. bertajuk “Keteguhan Orang Beriman dalam Menghadapi Cobaan”

E-Buletin