Menjaga Kemurnian Aqidah: Mengenal Esensi dan Tantangan Tauhid di Tengah Zaman

Ustadz Drs. H. Nadjih Ihsan
Ustadz Drs. H. Nadjih Ihsan

Bagikan postingan :

KabarMasjid.id, Surabaya – Kesadaran akan pentingnya menjaga kemurnian iman menjadi fondasi utama bagi setiap Muslim dalam mengarungi kehidupan yang penuh tantangan. Memahami tauhid bukan sekadar menghafal definisi, melainkan menginternalisasi nilai-nilai ketauhidan agar tidak goyah oleh berbagai bentuk penyimpangan akidah yang kian beragam.

Kajian mendalam mengenai hal ini dikupas tuntas dalam Kajian Khusus Muslimah yang diselenggarakan di Masjid Al Falah Surabaya pada Sabtu, 10 Januari 2026. Menghadirkan narasumber Ustadz Drs. H. Nadjih Ihsan, kajian ini mengangkat tema sentral “Musuh-Musuh Tauhid” yang merujuk pada literatur klasik yang dikaji secara rutin oleh jamaah di masjid tersebut.

Dalam pembukaannya, Ustadz Nadjih menekankan bahwa pelajaran tauhid adalah materi yang harus terus diulang agar manusia benar-benar memahami maknanya. Allah menggunakan berbagai variasi bahasa dalam Al-Qur’an untuk menjelaskan pentingnya menyembah Allah semata. Hal ini menunjukkan betapa krusialnya masalah akidah bagi keselamatan seorang hamba.

Salah satu poin penting yang digarisbawahi adalah misi tunggal para Nabi dan Rasul sejak zaman pertama hingga akhir zaman. Setiap rasul diutus dengan pesan yang sama, yaitu mengajak umatnya untuk menyembah Allah dan menjauhi thaghut. Tidak ada satu pun masa dalam sejarah manusia yang terlewatkan dari pesan ketauhidan ini.

Lebih lanjut, Ustadz Nadjih menjelaskan perbedaan halus namun mendasar antara “menyembah Allah” dengan “mentauhidkan Allah”. Menyembah Allah saja belum tentu menjamin kemurnian iman jika seseorang masih menduakan-Nya dengan yang lain. Tauhid berarti menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan sembah tanpa sedikit pun celah bagi kesyirikan.

Analisis linguistik juga dipaparkan untuk memperkuat pemahaman, khususnya mengenai penggunaan kata syaian dalam larangan berbuat syirik. Dalam kaidah bahasa Arab, kata tersebut merupakan isim nakirah yang bermakna umum. Artinya, dilarang keras menyekutukan Allah dengan apa pun dan siapa pun, termasuk dengan makhluk mulia seperti malaikat atau nabi.

Ustadz Nadjih mengingatkan bahwa Allah tidak rida jika disekutukan. Oleh karena itu, umat Islam pun seharusnya memiliki sikap yang sama, yakni tidak rida terhadap segala bentuk kesyirikan di muka bumi. Memerangi kesyirikan bukan dilakukan dengan kekerasan, melainkan melalui jalur pendidikan dan dakwah yang mencerahkan masyarakat.

Edukasi tauhid di era digital ini bisa dilakukan dengan cara-cara kreatif, seperti pembuatan video pendek atau infografis yang menjelaskan perbedaan antara tauhid dan syirik. Dengan cara ini, masyarakat diharapkan memiliki kompas yang jelas dalam bersikap dan menjalankan ibadah sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan Sunnah.

Memasuki inti materi tentang “Musuh-Musuh Tauhid”, dijelaskan bahwa tantangan dalam berdakwah adalah sebuah keniscayaan sejarah. Nabi Muhammad SAW dimusuhi oleh kaumnya bukan karena beliau tidak jujur, melainkan karena kebenaran tauhid yang beliau bawa dianggap mengusik tatanan kepercayaan lama yang menyimpang.

Pesan tauhid sering kali disalahpahami sebagai gerakan yang memecah belah, padahal pada hakikatnya tauhid adalah pemersatu umat. Dengan meniadakan berbagai macam sesembahan dan hanya fokus pada satu Tuhan, manusia dibebaskan dari perbudakan antar sesama makhluk menuju penghambaan yang murni kepada Sang Pencipta.

Implementasi tauhid juga mencakup seluruh dimensi kehidupan, mulai dari lisan melalui zikir dan tilawah, fisik melalui ibadah di masjid, hingga harta melalui infak dan sedekah. Bahkan, hati yang sabar dalam menuntut ilmu juga merupakan bagian dari pengabdian kepada Allah yang harus terus dijaga konsistensinya.

Sebagai penutup, jamaah diajak untuk memiliki target spiritual yang jelas sepanjang tahun 2026 ini. Konsistensi dalam menghadiri majelis ilmu diharapkan dapat membentuk pemahaman yang utuh, sehingga di akhir tahun nanti, setiap individu memiliki catatan amal dan pemahaman agama yang jauh lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya.

Sumber: Kajian Khusus Muslimah di Masjid Al Falah Surabaya oleh Ustadz Drs. H. Nadjih Ihsan dengan tema “Musuh-Musuh Tauhid”.

E-Buletin