KabarMasijd.id, Surabaya – Fenomena toleransi seringkali menjadi isu yang hangat diperbincangkan di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk. Namun, bagi seorang Muslim, toleransi memiliki batasan yang jelas, terutama jika sudah bersentuhan dengan wilayah aqidah. Salah satu tantangan besar yang muncul setiap akhir tahun adalah godaan untuk ikut serta dalam tradisi atau perayaan kaum lain, sebuah fenomena yang dalam Islam dikenal dengan istilah tasyabbuh.
Kajian mendalam mengenai persoalan ini disampaikan oleh Ustadz Ir. H. Bangun Samudra dalam sesi Kajian Maghrib yang berlangsung pada hari Selasa, 23 Desember 2025, bertempat di Masjid Al Falah, Surabaya. Dalam ceramah bertajuk “Amanah dan Bahayanya Tasyabbuh” tersebut, beliau membedah secara kritis bagaimana seorang Muslim seharusnya bersikap terhadap perayaan lintas agama dan tradisi budaya yang berakar dari keyakinan non-Islam.
Ustadz Bangun Samudra mengawali kajian dengan mengingatkan jamaah mengenai pentingnya bersyukur di bulan Rajab, yang merupakan salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan Allah. Beliau menekankan bahwa di bulan-bulan mulia ini, umat Islam dilarang keras menzalimi diri sendiri, termasuk dengan mencampuradukkan keyakinan atau mengikuti tradisi yang dapat merusak kemurnian tauhid.
Inti dari bahasan ini adalah peringatan Rasulullah SAW mengenai bahaya tasyabbuh. Beliau mengutip hadis yang menyatakan bahwa barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari kaum tersebut. Hal ini menjadi peringatan keras agar umat Islam tidak kehilangan identitasnya hanya karena ingin dianggap modern atau toleran terhadap budaya global yang tidak sejalan dengan syariat.
Beliau kemudian menyoroti fenomena ucapan selamat hari raya agama lain yang kerap dianggap sepele. Secara etimologi dan dogma, kata “selamat” mengandung pengakuan atas keberkahan dan kebenaran sesuatu. Jika disandingkan dengan kelahiran “anak Tuhan”, maka ucapan tersebut secara tidak langsung menabrak prinsip utama dalam Surat Al-Ikhlas yang menegaskan bahwa Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan.
Dalam kajiannya, Ustadz Bangun Samudra merujuk pada Surat Al-Maidah ayat 72, di mana Allah menghukumi kafir bagi mereka yang mengucapkan atau meyakini bahwa Allah adalah Al-Masih putra Maryam. Beliau menegaskan bahwa sekadar ucapan lisan pun memiliki konsekuensi hukum yang berat di sisi Allah jika substansinya bertentangan dengan prinsip ketuhanan yang esa.
Menariknya, beliau membagikan pengalaman pribadi sebagai seorang mualaf yang pernah berada “di sisi lain”. Beliau menceritakan bagaimana dahulu kaumnya justru sangat konsisten menjaga aqidah mereka dengan tidak mau mengucapkan selamat Idul Adha hanya karena perbedaan narasi mengenai siapa putra nabi yang dikurbankan. Hal ini menjadi refleksi bagi umat Islam agar lebih “berani” dan tegas dalam menjaga batas-batas aqidahnya sendiri.
Sebagai solusi praktis bagi para pekerja atau mereka yang hidup di lingkungan beragam, beliau memberikan tips diplomatis yang tetap menjaga silaturahmi tanpa mengorbankan iman. Beliau menyarankan untuk mengganti ucapan selamat hari raya dengan kalimat “Selamat Hari Libur”. Kalimat ini dianggap aman karena secara faktual tanggal tersebut memang merah di kalender dan tidak mengandung pengakuan dogma agama.
Lebih lanjut, beliau membedah kekeliruan sejarah mengenai tanggal 25 Desember melalui kacamata Al-Qur’an. Berdasarkan Surat Maryam, Nabi Isa AS lahir saat pohon kurma berbuah matang, yang secara alami terjadi pada musim panas (Juni-Agustus). Fakta ini mematahkan narasi kelahiran di musim dingin bersalju, yang menurutnya lebih dipengaruhi oleh budaya Eropa daripada fakta geografis Palestina.
Ustadz Bangun Samudra juga mengulas asal-usul penanggalan masehi yang sarat dengan nama-nama dewa kaum pagan dan Kaisar Romawi. Mulai dari Januari yang diambil dari Dewa Janus hingga Agustus dari Kaisar Augustus. Pengetahuan ini diberikan agar umat Islam menyadari bahwa banyak tradisi yang mereka ikuti sebenarnya berakar dari penyembahan dewa-dewa yang jauh dari nilai tauhid.
Beliau mengingatkan sebuah nubuwat Rasulullah bahwa kelak umat Islam akan mengikuti jejak kaum sebelumnya setapak demi setapak, bahkan jika mereka masuk ke lubang biawak sekalipun. Peringatan ini nyata terlihat saat ini, di mana banyak umat Islam merasa bangga mengikuti gaya hidup dan perayaan kaum lain tanpa memikirkan dampak jangka panjang bagi iman mereka.
Sebagai penutup, Ustadz Bangun Samudra menekankan bahwa Islam telah memberikan jalan yang sempurna dengan menetapkan tiga hari raya utama: Jumat, Idul Fitri, dan Idul Adha. Dengan mencukupkan diri pada apa yang telah ditetapkan Allah, seorang hamba akan terjaga dari perilaku tasyabbuh dan tetap berada di jalan yang lurus demi meraih rida Allah di dunia maupun di akhirat.
Sumber: Kajian Maghrib oleh Ustadz Ir. H. Bangun Samudra di Masjid Al Falah Surabaya dengan tema “Amanah dan Bahayanya Tasyabbuh”