Kabarmasjid.id, Surabaya – Bulan suci Ramadhan sering kali menjadi momentum puncak spiritualitas bagi umat Muslim di seluruh dunia. Masjid-masjid dipenuhi jamaah, lantunan ayat suci menggema di setiap sudut, dan semangat berbagi antarsesama meningkat tajam. Namun, tantangan sesungguhnya bagi setiap mukmin adalah bagaimana menjaga bara konsistensi tersebut agar tidak padam seiring berlalunya bulan suci. Momentum refleksi inilah yang mengemuka dalam khutbah Jumat bertajuk “Menjaga Spirit Ramadhan Pasca Ramadhan” yang disampaikan oleh Dr. Habib Abdurrahman Ahmad Agil, Lc. di Masjid Al Akbar Surabaya pada tanggal 20 Maret 2026.
Dalam tausiyahnya, Habib Abdurrahman menekankan bahwa esensi utama dari ibadah puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan untuk mencapai derajat ketakwaan. Merujuk pada Surat Al-Baqarah ayat 183, beliau menjelaskan bahwa puasa adalah madrasah ruhani yang dirancang agar hambanya menjadi pribadi yang mulia dan istimewa di sisi Allah SWT. Ketakwaan inilah yang menjadi indikator keberhasilan seseorang dalam menjalani ritual ibadah selama satu bulan penuh.
Beliau memberikan peringatan keras agar umat Islam tidak terjebak dalam fenomena “takwa musiman”. Sang khatib menyayangkan jika ketaatan dan kedekatan kepada Allah hanya muncul saat Ramadhan tiba, namun menghilang saat bulan tersebut pergi. Sejatinya, spirit, semangat, dan motivasi beribadah yang telah dipupuk selama Ramadhan harus tetap terpatri dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari di bulan-bulan lainnya.
Lebih lanjut, Habib Abdurrahman memaparkan rahasia amalan yang dapat membuat seorang hamba menjadi sangat istimewa, bahkan hingga dirindukan oleh surga. Mengutip hadis yang diriwayatkan oleh Imam Thabrani, beliau menyebutkan ada empat golongan manusia yang kedatangannya sangat dinanti-nantikan oleh jannah. Keempat golongan ini merupakan representasi dari kualitas ibadah yang idealnya terjaga secara istiqamah pasca-Ramadhan.
Golongan pertama adalah Taliul Quran atau orang-orang yang senantiasa istiqamah membaca dan berinteraksi dengan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Habib mengingatkan agar Al-Qur’an tidak hanya menjadi pajangan atau dibaca saat tadarus Ramadan saja. Sebagai pedoman hidup, kedekatan dengan Al-Qur’an akan memberikan syafaat tidak hanya di hari kiamat, tetapi juga memberikan keselamatan dalam menghadapi berbagai urusan di dunia.
Golongan kedua yang dirindukan surga adalah Hafizul Lisan, yakni mereka yang mampu menjaga lidahnya dengan baik. Selama Ramadhan, umat dilatih untuk tidak berdusta dan tidak mengucapkan kata-kata kotor agar puasanya tidak sia-sia. Kualitas ini harus diteruskan dengan cara selalu mengedepankan kejujuran dan ucapan yang benar, karena lisan yang terjaga merupakan cerminan nyata dari ketakwaan seseorang di hadapan Allah.
Selanjutnya, golongan ketiga adalah Mut’imul Ji’an atau orang-orang yang memiliki kepedulian sosial dengan memberi makan kepada mereka yang lapar dan membutuhkan. Ibadah sosial ini sangat ditekankan karena Allah menjanjikan keberkahan yang luar biasa bagi para dermawan. Habib menegaskan bahwa harta yang disedekahkan tidak akan pernah berkurang, melainkan akan dilipatgandakan langsung oleh Allah SWT melalui berbagai pintu rezeki.
Adapun golongan keempat adalah Saimu Ramadhan, yaitu orang-orang yang menjalankan ibadah puasa Ramadhan dengan penuh keimanan. Namun, Habib menggarisbawahi bahwa puasa yang dilakukan tidak boleh hanya sebatas aspek zahir atau fisik semata. Ketakwaan dalam berpuasa harus menyentuh aspek batiniah agar dapat melahirkan transformasi perilaku yang lebih baik dan bertahan lama setelah bulan puasa usai.
Dalam bagian akhir khutbahnya, Habib Abdurrahman Ahmad Agil mengajak jamaah untuk memperhatikan kondisi hati masing-masing. Beliau menjelaskan pentingnya memiliki Qalbun Salim atau hati yang selamat dan bersih. Hati yang selamat adalah hati yang dipenuhi cahaya iman dan jauh dari sifat munafik, karena pada hari kiamat nanti, harta dan keturunan tidak akan berguna kecuali bagi mereka yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.
Beliau juga mengingatkan agar umat tidak membiarkan hatinya menjadi Qalbun Mayit (hati yang mati) atau Qalbun Marid (hati yang sakit). Hati yang sakit biasanya dialami oleh golongan orang-orang munafik yang tidak memiliki ketulusan dalam beribadah. Melalui bekal yang didapat selama Ramadhan, setiap Muslim diharapkan mampu menghidupkan kembali hatinya agar selalu terhubung dengan sang pencipta.
Harapan besar disematkan agar setiap amal ibadah yang dilakukan selama sebulan penuh mendapatkan curahan rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka. Habib mendorong jamaah untuk tetap memelihara motivasi beribadah agar kualitas spiritual tetap stabil meskipun tantangan setelah Ramadhan mungkin akan lebih berat. Konsistensi inilah yang akan membedakan antara hamba yang benar-benar bertakwa dengan mereka yang hanya beribadah karena tuntutan rutinitas tahunan.

Khutbah ini ditutup dengan doa bersama, memohon kepada Allah SWT agar senantiasa memberikan taufik, hidayah, dan inayah kepada seluruh umat. Dengan penjagaan spirit yang berkelanjutan, diharapkan nilai-nilai luhur Ramadhan dapat mewarnai sebelas bulan berikutnya hingga bertemu kembali dengan Ramadan di tahun mendatang. Menjaga konsistensi kebaikan adalah tugas sepanjang hayat bagi setiap mukmin yang mengharapkan rida Ilahi.
Sumber: Khutbah Jum’at Masjid Al Akbar Surabaya 20 Maret 2026 oleh Dr. Habib Abdurrahman Ahmad Agil, Lc di dengan tajuk “Menjaga Spirit Ramadhan Pasca Ramadhan”