Kabarmasjid.id, Solo – Dunia dakwah sering kali dihadapkan pada tantangan yang tidak mudah, mulai dari penolakan hingga tuntutan yang tidak masuk akal dari mereka yang enggan menerima kebenaran. Melalui kajian mendalam terhadap ayat-ayat Al-Qur’an, kita dapat memetik hikmah tentang bagaimana Rasulullah SAW menghadapi berbagai tekanan mental dan sosial pada masa awal kenabian di Makkah. Tulisan ini merangkum sari pati nasihat yang disampaikan dalam sebuah majelis ilmu yang menyejukkan hati.
Majelis Salaf Rouhah Siang yang mengkaji Tafsir Kitab Sofwatuttafasir ini dilaksanakan pada Senin, 16 Maret 2026, bertempat di Masjid Riyadh, Solo. Kajian yang disiarkan secara langsung melalui kanal resmi Masjid Riyadh Solo ini menghadirkan Ustadz Ali bin Hasan Alhabsyi yang mengupas tuntas dinamika dakwah Nabi Muhammad SAW dalam menghadapi kaum musyrikin Quraisy.
Dalam pembukaannya, Ustadz Ali menekankan bahwa Al-Qur’an adalah mukjizat terbesar yang diturunkan untuk menantang umat manusia. Meskipun kaum Quraisy pada masanya memiliki kefasihan bahasa yang luar biasa, mereka tidak mampu mendatangkan satu surah pun yang semisal dengan Al-Qur’an. Kegagalan inilah yang kemudian memicu mereka untuk beralih meminta bukti-bukti fisik yang bersifat duniawi sebagai alasan untuk tetap menolak keimanan.
Beliau menjelaskan bahwa kisah-kisah para nabi terdahulu, seperti Nabi Musa AS saat menghadapi Firaun, sengaja diceritakan kembali oleh Allah dalam Al-Qur’an untuk menghibur hati Rasulullah SAW. Tekanan yang dialami Nabi bukanlah kejadian pertama, melainkan sebuah sunnatullah yang sudah menjadi garis perjuangan para utusan Allah. Hal ini memberikan ketenangan bagi beliau bahwa perlawanan dari kaumnya adalah bagian dari ujian besar dalam mengemban risalah.
Sebuah fragmen sejarah yang sangat menarik dibahas adalah ketika para pemimpin Quraisy berkumpul di dekat Ka’bah untuk menyusun strategi membungkam Nabi. Mereka mencoba melakukan “negosiasi” duniawi dengan menawarkan harta yang melimpah, kedudukan sebagai raja, hingga pengobatan terbaik jika Nabi dianggap sedang sakit. Penawaran ini menunjukkan betapa rendahnya cara pandang kaum musyrikin terhadap misi suci yang dibawa oleh Rasulullah SAW.
Namun, jawaban Rasulullah SAW sangatlah tegas dan tidak tergoyahkan oleh silau dunia. Beliau menyatakan bahwa kedatangannya bukan untuk mencari kekayaan atau kekuasaan, melainkan semata-mata menjalankan perintah Allah sebagai seorang rasul. Beliau tetap memilih bersabar atas segala cacian dan penolakan kaumnya, menyerahkan segala keputusan akhir kepada hukum Allah SWT yang Maha Adil.
Kajian ini juga membedah “permintaan-permintaan mustahil” yang diajukan kaum musyrikin sebagai syarat mereka beriman. Mereka meminta agar kota Makkah yang gersang diubah seketika menjadi tanah yang subur dengan sungai-sungai yang mengalir deras. Mereka juga menuntut Nabi memiliki kebun kurma dan anggur yang luas serta istana yang terbuat dari emas murni, seolah-olah mukjizat adalah sebuah pertunjukan yang bisa dipesan sesuai selera.
Lebih jauh lagi, tuntutan kaum musyrikin bahkan melampaui batas logika manusia, seperti meminta agar potongan langit dijatuhkan sebagai azab atau meminta Allah dan malaikat dihadirkan secara langsung di hadapan mereka. Ustadz Ali menjelaskan bahwa permintaan ini bukan lahir dari keinginan untuk mencari kebenaran, melainkan bentuk kesombongan untuk menjatuhkan mentalitas dakwah Nabi Muhammad SAW.
Salah satu poin penting yang menjadi refleksi bagi umat masa kini adalah tentang adab dalam menyampaikan kebenaran. Allah memerintahkan Rasulullah untuk mengatur volume bacaan Al-Qur’an agar tidak terlalu keras hingga memancing makian kaum musyrikin, namun juga tidak terlalu pelan agar tetap bisa didengar oleh para sahabat. Ini adalah pelajaran tentang pentingnya strategi dan kebijaksanaan dalam berdakwah.
Ustadz Ali mengingatkan bahwa menyampaikan kebenaran haruslah melihat situasi dan kondisi. Di zaman sekarang, sering kali terjadi gesekan karena kurangnya pemahaman dalam menempatkan suatu argumen di hadapan orang yang berbeda pandangan. Kita diajarkan untuk tetap menyampaikan yang hak, namun dengan cara yang tidak menimbulkan fitnah atau keributan yang lebih besar yang justru bisa merusak citra agama itu sendiri.
Pelajaran besar dari kajian ini adalah bagaimana menjaga lisan dan sikap agar kebenaran yang kita bawa tidak tertutup oleh cara penyampaian yang salah. Jika di masa lalu Al-Qur’an saja bisa dicaci karena salah posisi dalam mendengarkannya, maka di era digital saat ini, kita harus lebih berhati-hati dalam menyebarkan konten keagamaan agar tidak menjadi bahan olokan pihak yang tidak suka.

Kajian ditutup dengan doa dan harapan agar umat Islam dapat meneladani sifat haris atau rasa cinta kasih Rasulullah yang sangat menginginkan hidayah bagi umatnya. Dengan memahami isi Kitab Sofwatuttafasir, diharapkan jamaah semakin teguh memegang nilai-nilai Al-Qur’an dan tetap mengedepankan adab serta akhlak mulia dalam berinteraksi di tengah masyarakat yang majemuk.
Sumber: Majelis Salaf Rouhah Siang Kajian Tafsir Kitab Sofwatuttafasir 16 Maret 2026 di Masjid Riyadh Solo oleh Ustadz Ali bin Hasan Alhabsyi