Menjadi Pribadi Beruntung dengan Mengambil Hikmah dari Kesalahan Orang Lain

Ustadz H. M. Ikrom Rijal, Lc., MA.
Ustadz H. M. Ikrom Rijal, Lc., MA.

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Surabaya – Al-Qur’an bukan sekadar kitab suci yang berisi kumpulan aturan hukum, melainkan sebuah samudra hikmah yang menyimpan kunci jawaban atas segala persoalan hidup manusia. Salah satu cara terbaik untuk memahami pesan Tuhan adalah dengan menyelami kisah-kisah umat terdahulu yang tertuang di dalamnya. Melalui narasi masa lalu, kita diajak untuk berkaca dan menemukan solusi bagi tantangan di masa kini.

Kajian mendalam mengenai hal ini disampaikan oleh Ustadz H. M. Ikrom Rijal, Lc., MA. dalam sesi Mimbar Dhuhur yang berlangsung di Masjid Al Falah Surabaya pada 10 Februari 2026. Dalam Kajian tersebut, beliau menekankan pentingnya umat Islam untuk kembali mengakrabkan diri dengan Al-Qur’an, terutama dalam aspek pengambilan pelajaran atau ibrah dari setiap ayat yang dibaca.

Ustadz Ikrom memaparkan fakta menarik bahwa lebih dari sepertiga isi Al-Qur’an terdiri dari kisah dan cerita. Banyak orang keliru menganggap bahwa kisah-kisah tersebut hanyalah dongeng masa lalu yang tidak lagi relevan. Padahal, Allah SWT menjadikan Al-Qur’an sebagai kitab yang mencakup segala peristiwa, baik yang sudah terjadi maupun yang akan terjadi di masa depan.

Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa kisah-kisah umat terdahulu merupakan sarana bagi kita untuk berpikir dan merenung. Al-Qur’an seakan mengajak pembacanya untuk melihat pola kehidupan yang terus berulang. Dengan memahami sejarah, kita diharapkan tidak terjatuh ke dalam lubang kesalahan yang sama sebagaimana yang dilakukan oleh kaum-kaum sebelum kita.

Salah satu poin krusial yang disampaikan adalah bahwa semua masalah manusia, apa pun profesi dan latar belakangnya, sebenarnya sudah ada solusinya dalam kisah-kisah tersebut. Baik itu masalah kesombongan, rasa takut, kekhawatiran, hingga menghadapi jalan buntu dalam hidup, semuanya memiliki paralel dalam cerita para nabi seperti Nabi Musa AS saat menghadapi Firaun.

Ustadz Ikrom menyarankan agar kita tidak memahami kisah dalam Al-Qur’an secara sepotong-sepotong. Beliau menganjurkan untuk memahami alur cerita secara utuh dari awal hingga akhir. Dengan pemahaman yang komprehensif, kita akan menemukan titik di mana alur cerita tersebut bersinggungan langsung dengan realitas masalah yang sedang kita hadapi saat ini.

Kisah-kisah tersebut juga berfungsi sebagai penguat hati. Sebagaimana Allah menceritakan kisah para rasul terdahulu untuk meneguhkan hati Nabi Muhammad SAW, maka membaca dan merenungi kisah tersebut juga akan memberikan ketenangan bagi jiwa-jiwa yang sedang mengalami kegoncangan atau beratnya ujian hidup.

Beliau juga mengingatkan pentingnya kualitas dalam membaca Al-Qur’an. Meskipun membaca dengan cepat atau sekadar mengejar target hafalan memiliki keutamaan, namun bagi mereka yang sudah dewasa, fokus utama seharusnya bergeser pada penggalian nilai-nilai dari setiap ayat. Kita tidak boleh hanya terlena dengan kemahiran bacaan tanpa memahami esensi yang disampaikan oleh Allah.

Menjelang bulan suci Ramadan, Ustadz Ikrom mengajak jamaah untuk meningkatkan interaksi dengan Al-Qur’an. Beliau mencontohkan Imam Malik yang bahkan meninggalkan seluruh aktivitas keilmuan lainnya demi fokus sepenuhnya pada Al-Qur’an selama bulan Ramadan. Hal ini dilakukan agar nilai-nilai keimanan, tauhid, dan akhlak dalam Al-Qur’an dapat terakumulasi dengan sempurna dalam diri kita.

Kemampuan untuk mengambil pelajaran ini erat kaitannya dengan konsep Ulul Albab. Dalam kajiannya, beliau menjelaskan bahwa ibrah atau pelajaran hanya bisa diraih oleh mereka yang memiliki hati yang baik dan akal yang bersih. Ini menunjukkan bahwa kecerdasan intelektual saja tidak cukup untuk memahami pesan Tuhan jika tidak dibarengi dengan kebersihan hati.

Ustadz menegaskan bahwa orang yang cerdas bukan hanya mereka yang pintar secara teori, melainkan mereka yang mampu mengambil faedah dari kesalahan orang lain. Allah selalu memberikan tanda atau peringatan sebelum seseorang jatuh atau bangkrut, namun seringkali manusia mengabaikan tanda-tanda tersebut karena tertutup oleh syahwat dan ego.

Sebagai penutup, beliau mendoakan agar kita semua diberikan kesempatan untuk bertemu dengan bulan Ramadan dan menjadikannya momentum untuk menyelami Al-Qur’an lebih dalam. Dengan hati yang terbuka, setiap kisah yang kita baca akan menjadi lentera yang membimbing setiap keputusan kita agar selalu selaras dengan ridho Allah SWT.

Sumber: Mimbar Dhuhur di Masjid Al Falah Surabaya Bersama Ustadz H. M. Ikrom Rijal, Lc., MA. dengan tema “Mengambil Ibroh Dari Ayat Al-Qur’an”

E-Buletin