Kabarmasjid.id, Surabaya – Kehidupan setelah kematian merupakan salah satu fase paling misterius sekaligus krusial bagi setiap hamba yang beriman. Di antara sekian banyak peristiwa besar yang akan terjadi di hari kiamat, keberadaan shirath—sebuah jembatan misterius yang membentang di atas neraka Jahanam—menjadi salah satu ujian penentu yang wajib diyakini oleh setiap muslim. Kesadaran akan adanya jembatan penentu ini seharusnya mampu menggerakkan kesadaran spiritual manusia agar tidak lalai dalam memanfaatkan modal fisik dan waktu yang telah dikaruniakan di dunia.
Topik mendalam mengenai esensi dan urgensi mengimani jembatan akhirat ini dikupas tuntas dalam kajian tafsir Surah Maryam ayat 71–72 yang merujuk pada kurikulum Tafsir Al-Hafiz Ibnu Katsir. Kajian tersebut disampaikan secara lugas oleh Ustadz H. Khoirul Faizin, Lc., M.Ag. pada hari Sabtu, 20 Juni 2026, bertempat di Masjid Al-Hilal, Surabaya. Melalui pemaparannya, sang narasumber mengajak para jemaah untuk merefleksikan kembali kesiapan diri masing-masing sebelum benar-benar dihadapkan pada realitas hari pembalasan yang mendebarkan tersebut.
Sebagai pengantar, Ustadz Khoirul Faizin mengingatkan pentingnya mewujudkan rasa syukur atas karunia fisik yang sehat secara nyata melalui tindakan jasmani (bil jawarih). Beliau mengetuk hati para jemaah dengan mengisahkan keteladanan sahabat Nabi yang buta dan lemah fisik, Abdullah Ibnu Ummi Maktum, yang tetap diperintahkan oleh Rasulullah untuk mendatangi masjid selama ia masih mendengar lantunan suara azan. Kisah ini menjadi tamparan keras sekaligus pengingat bagi manusia modern yang dianugerahi fisik sempurna dan fasilitas kemudahan transportasi, namun masih sering kali berat melangkahkan kaki ke masjid untuk beribadah.
Memasuki inti kajian tafsir Surah Maryam ayat 71–72, beliau menjelaskan makna dari potongan ayat yang menyatakan bahwa tidak ada seorang pun melainkan akan mendatangi neraka. Berdasarkan penjelasan para ulama terkemuka seperti Ibnu Abbas dan Abdullah Ibnu Mas’ud, frasa “mendatangi neraka” tersebut berarti seluruh manusia—tanpa terkecuali, baik orang yang bertakwa maupun yang durhaka—pasti akan berjalan melintasi sebuah jembatan yang membentang tepat di atas neraka Jahanam setelah mereka melewati proses hisab dan penimbangan amal (mizan).
Keberadaan shirath ini sendiri dikelompokkan ke dalam apa yang disebut sebagai khabar sam’iyah, yaitu berita gaib yang tidak mungkin bisa dijangkau atau diukur oleh nalar dan logika murni manusia. Manusia tidak akan pernah mengetahui gambaran kehidupan setelah kematian, nikmat surga, maupun kengerian neraka, kecuali melalui petunjuk autentik dari Al-Qur’an dan sunah nabawi. Oleh sebab itu, tugas utama seorang mukmin terhadap khabar sam’iyah adalah mengimani dan membenarkannya secara mutlak tanpa keraguan.
Guna memperkuat pemahaman jemaah mengenai kebenaran informasi gaib dari Rasulullah, Ustadz Khoirul Faizin memaparkan beberapa bukti nubuwah (prediksi) akhir zaman yang disampaikan Nabi 14 abad lalu dan kini telah terbukti secara nyata. Di antaranya adalah fenomena bangsa Arab yang dahulu miskin, nomaden, dan tidak beralas kaki, namun kini berlomba-lomba mendirikan bangunan pencakar langit yang tingginya mendekati satu kilometer setelah ditemukannya minyak bumi. Selain itu, ramalan mengenai tanah Arab yang kembali subur serta gunung-gunung di Makkah dan Madinah yang berlubang—yang kini menjadi jaringan terowongan modern—menjadi bukti sahih bahwa apa yang disabdakan Nabi bukanlah bualan belaka.
Lebih lanjut, beliau juga menguraikan kondisi di alam barzakh sebagai bagian dari khabar sam’iyah yang wajib diyakini. Di alam kubur, amal perbuatan manusia di dunia akan diwujudkan secara fisik: amal saleh akan menjelma menjadi sosok rupawan, berpakaian indah, dan berbau harum yang setia menemani hingga hari kebangkitan. Sebaliknya, amal buruk akan mewujud menjadi sosok yang mengerikan, berpakaian compang-camping, dan berbau busuk yang akan menambah kesengsaraan manusia di dalam kubur.
Dalam sejarah pemikiran Islam, keberadaan shirath secara fisik sempat ditolak oleh kelompok Mu’tazilah dan Qadariyah yang cenderung mendewakan akal. Mereka menganggap deskripsi jembatan yang lebih tipis dari sehelai rambut dan lebih tajam dari pedang sebagai sesuatu yang tidak rasional, sehingga mereka memalingkan maknanya sekadar sebagai metafora atas kesulitan akhirat. Namun, Ustadz Khoirul Faizin menegaskan bahwa golongan Ahlussunnah wal Jama’ah tetap meyakini dan mengimani keberadaan jembatan tersebut secara hakiki sesuai dengan teks hadis sahih riwayat Imam Muslim.
Kondisi manusia saat menyeberangi jembatan tersebut digambarkan akan sangat beragam dan menegangkan, di mana keselamatan mereka sepenuhnya ditentukan oleh akumulasi amal saleh masing-masing selama hidup di dunia. Berdasarkan hadis, ada golongan manusia yang mampu melintas secepat kedipan mata, secepat kilat yang menyambar, secepat hembusan angin, hingga secepat kuda yang berlari kencang. Di sisi lain, ada pula kelompok manusia yang hanya mampu berjalan kaki, merangkak dengan kepayahan, tercabik-cabik oleh kait besi (kalalib) yang ada di sisi jembatan, hingga akhirnya tergelincir dan jatuh ke dalam dasar neraka Jahanam.
Demi menghindari kengerian di atas jembatan tersebut, Ustadz Khoirul Faizin merangkum tiga amalan utama yang dapat mempermudah dan mempercepat seorang hamba dalam melintasi shirath. Amalan pertama adalah konsistensi dalam menjaga kualitas amal saleh, terutama dengan memperbanyak ibadah sunah seperti salat rawatib, tahajud, atau duha. Amalan sunah yang dikerjakan secara istiqamah memiliki fungsi krusial untuk menambal dan menyempurnakan kekurangan pada ibadah wajib kita yang sering kali rusak akibat ketidakkhusyukan. Di samping itu, beliau juga menganjurkan jemaah untuk merutinkan zikir ringan yang berpahala berat di timbangan mizan, yaitu kalimat Subhanallah wabihamdihi subhanallahil adzim.
Amalan kedua yang menjadi kunci kemudahan di atas shirath adalah menunaikan amanah dengan sebaik-baiknya. Berdasarkan hadis riwayat Imam Muslim, amanah kelak akan diutus oleh Allah untuk berdiri memberikan kesaksian di sisi kanan dan kiri jembatan. Setiap tanggung jawab yang dipikul manusia di dunia, mulai dari lingkup terkecil seperti pengurus rumah tangga, tingkat rukun tetangga (RT), hingga pengurus masjid, harus dijalankan secara jujur karena semuanya akan dipertanggungjawabkan langsung di hadapan Allah.
Amalan ketiga yang tidak kalah penting adalah menyambung tali silaturahim secara benar. Narasumber meluruskan kaprah di masyarakat dengan menegaskan bahwa silaturahim yang hukumnya wajib adalah menyambung hubungan baik dengan keluarga yang memiliki ikatan mahram, baik karena hubungan nasab (darah), musharah (pernikahan seperti mertua), maupun radha’ah (persusuan). Dengan senantiasa menjaga keharmonisan keluarga, menunaikan amanah, serta memperbanyak investasi amal sunah, seorang muslim memiliki potensi besar untuk melewati jembatan shirath dengan selamat demi meraih rida dan surga-Nya.

Kajian ini mengingatkan umat Islam agar tidak terjebak dalam rutinitas duniawi yang melalaikan dari persiapan menuju kampung akhirat. Meniti shirath bukanlah sebuah simulasi atau sekadar cerita pengantar tidur, melainkan sebuah realitas mutlak yang akan dihadapi oleh setiap jiwa. Dengan mulai membenahi kualitas ibadah sunah, memperketat komitmen terhadap amanah, serta merajut kembali tali silaturahim yang sempat renggang, kita sedang membangun fondasi keselamatan yang kokoh. Pada akhirnya, semoga setiap langkah kaki yang saat ini kita ringankan menuju majelis ilmu dan masjid, menjadi saksi yang akan mempercepat langkah kita di atas shirath menuju rida dan surga-Nya.
Sumber: Kajian tafsir Surah Maryam ayat 71–72 oleh Ustadz H. Khoirul Faizin, Lc., M.Ag. yang diselenggarakan di Masjid Al-Hilal Surabaya pada Sabtu 20 Juni 2026.