Mengupas Tafsir Surah Asy-Syu’ara: Memahami Bedanya Mukjizat, Karamah, dan Sihir

Ustadz Muhammad Ikrom, Lc.
Ustadz Muhammad Ikrom, Lc.

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Surabaya – Kisah-kisah dalam Al-Qur’an senantiasa menyajikan pelajaran yang relevan sepanjang zaman, terutama ketika membahas perbenturan antara kebenaran dan kebatilan. Salah satu narasi paling dramatis adalah saat Nabi Musa ‘Alaihissalam berhadapan langsung dengan kekuasaan Firaun dan para ahli sihirnya. Melalui dialog dan pembuktian mukjizat, Al-Qur’an memberikan tuntunan jernih mengenai mana ajaran yang murni dari Allah dan mana yang sekadar ilusi buatan manusia.

Pelajaran mendalam mengenai topik ini disampaikan oleh Ustadz Muhammad Ikrom, Lc. dalam pengajian rutin Tafsir Al-Qur’an Kitab Tafsir Ibnu Katsir yang membahas Surah Asy-Syu’ara ayat 32 dan seterusnya pada Minggu subuh 12 Juli 2026 di Masjid Arroyan. Dalam ceramah yang berlangsung khidmat tersebut, beliau mengupas tuntas bagaimana mukjizat Nabi Musa bekerja sekaligus membedakannya secara tegas dari konsep karamah, ma’unah, hingga sihir.

Mengawali pembahasannya, Ustadz Muhammad Ikrom meluruskan persepsi masyarakat yang kerap keliru dalam memahami hal-hal di luar nalar. Beliau menegaskan bahwa mukjizat adalah keistimewaan mutlak yang hanya diberikan Allah kepada para Nabi dan Rasul untuk melemahkan musuh-musuh agama (takjiz). Mukjizat hadir sebagai bukti kenabian yang tidak bisa dipelajari, dilatih, ataupun ditandingi oleh manusia mana pun.

Sementara itu, terdapat pula istilah karamah yang dianugerahkan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang saleh tanpa pernah diharapkan atau dicari oleh hamba tersebut. Karamah bertujuan untuk menjaga orang saleh atau menguatkan dakwah, bukan untuk diperjualbelikan apalagi dijadikan klaim legitimasi bahwa seseorang memiliki kesaktian. Di sisi lain, ma’unah diberikan kepada orang awam yang beriman, sedangkan sihir adalah kemampuan akibat latihan atau bantuan setan yang justru bisa dikuasai siapa saja tanpa memandang keimanan.

Pentingnya pemahaman ini terlihat saat memasuki pembahasan ayat ke-32 dari Surah Asy-Syu’ara. Ketika Firaun menantang bukti kenabian, Nabi Musa melemparkan tongkatnya dan seketika tongkat tersebut berubah menjadi ular besar yang sangat nyata (thu’banun mubin). Perubahan tersebut bukanlah ilusi optik atau hipnotis massal, melainkan wujud ular asli yang benar-benar ada.

Menariknya, Nabi Musa sendiri awalnya tidak pernah tahu bahwa tongkat kayu yang biasa digunakannya sehari-hari untuk bersandar dan menggembala kambing akan berubah menjadi ular raksasa. Hal ini makin menegaskan bahwa mukjizat sepenuhnya berada di bawah kehendak Allah, bukan hasil dari jurus atau mantra yang dihafalkan. Berbeda dengan ularnya para penyihir yang hanya trik ilusi pandangan mata, ular Nabi Musa adalah kebenaran mutlak.

Tidak berhenti di situ, pembuktian dilanjutkan pada ayat ke-33 dengan mukjizat kedua, di mana Nabi Musa mengeluarkan tangannya dari dalam jubah dan seketika tangan tersebut memancarkan cahaya putih yang menyilaukan bagi semua orang yang melihatnya. Cahaya terang ini menjadi tanda kekuasaan Ilahi yang tak terbantahkan dan membuat siapa pun yang menyaksikan terperangah.

Melihat dua mukjizat dahsyat yang tak sanggup ditandingi, Firaun merasa terdesak dan cemas kekuasaannya runtuh. Bukannya tunduk pada kebenaran, Firaun justru merancang narasi propaganda dengan menyebut Nabi Musa sebagai pesihir pandai yang berniat mengusir rakyat Mesir dari tanah air mereka. Firaun sengaja memainkan isu kedaerahan dan sentimen kelompok agar masyarakat takut dan mengabaikan pesan dakwah.

Pola manipulasi Firaun ini digambarkan sebagai bentuk rasisme dan fanatisme golongan yang sering kali membutakan manusia dari kebenaran. Orang yang terjebak dalam sikap ini tidak lagi peduli apakah suatu hal itu benar atau salah, melainkan hanya peduli apakah hal tersebut datang dari kelompoknya atau tidak. Fenomena ini memperlihatkan betapa bahayanya propaganda yang mengatasnamakan identitas untuk menutupi kebatilan.

Atas saran para penasihat kerajaannya, Firaun akhirnya memutuskan untuk menunda tindakan fisik terhadap Nabi Musa dan saudaranya, Nabi Harun. Firaun memilih mengumpulkan seluruh ahli sihir terbaik dari berbagai pelosok negeri guna menantang Nabi Musa dalam sebuah peragaan terbuka. Mereka berharap dapat membalas dan mengalahkan mukjizat tersebut di depan rakyat banyak.

Peristiwa ini mengajarkan kepada kita bahwa kebatilan senantiasa mengerahkan segala daya upaya dan propaganda untuk meragukan kebenaran. Namun, sebagaimana yang dicatat dalam sejarah Al-Qur’an, kepalsuan sihir dan ilusi Firaun pada akhirnya hancur tak berbekas saat berhadapan dengan mukjizat Allah yang nyata. Kebatilan mungkin terlihat berkilau di awal, tetapi akan selalu berujung pada kekalahan.

Melalui kajian Tafsir Surah Asy-Syu’ara ini, Ustadz Muhammad Ikrom mengingatkan seluruh umat Islam agar senantiasa menjaga kebersihan hati dan istikamah dalam menjalankan perintah agama. Beliau berpesan agar masyarakat tidak mudah tergiur atau silau oleh hal-hal ajaib dan keilmuan yang tidak jelas sumbernya, melainkan tetap teguh berpegang pada Al-Qur’an dan Sunnah.

Sumber: Kaian Tafsir Al-Qur’an Surat As-Syu’ara Ayat 32″ yang disampaikan oleh Ustadz Muhammad Ikrom, Lc. di Masjid Arroyan Surabaya pada Mingggu 12 Juli 2026

E-Buletin