Mengupas Rahasia Dakwah Berbasis Akhlak dan Peran RT/RW dalam Memakmurkan Masjid

Ustadz KH. M.Z. Fadlan Rabbani Al Garamatan
Ustadz KH. M.Z. Fadlan Rabbani Al Garamatan

Bagikan postingan :

KabarMasjid.id, Surabaya – Dakwah bukanlah sekadar menyampaikan lisan, melainkan sebuah seni menyentuh hati dengan kesabaran tanpa batas. Di tengah gempuran modernitas, semangat untuk mengajak kembali kepada jalan Allah memerlukan strategi yang arif dan keteguhan mental yang baja. Kajian Akbar yang diselenggarakan oleh Mualaf Center Falah (MCF) baru-baru ini memberikan perspektif baru tentang bagaimana menjadi “pegawai” Tuhan yang sesungguhnya di tengah masyarakat yang majemuk.

Kajian akbar bertajuk “Dakwah PNS Bergengsi” ini dilaksanakan pada Kamis, 25 Desember 2025, bertempat di Masjid Al Falah Surabaya. Acara ini menghadirkan narasumber utama, Ustadz KH. M.Z. Fadlan Rabbani Al Garamatan, seorang dai asal Papua yang dikenal luas dengan dedikasinya dalam mengislamkan ribuan warga di pedalaman Papua melalui pendekatan kemanusiaan yang menyentuh.

Dalam pembukaannya, Ustadz Fadlan memberikan definisi unik mengenai istilah “PNS” yang ia usung. Bukan Pegawai Negeri Sipil, melainkan “Pegawai Nabi SAW”. Ia menegaskan bahwa menjadi pendakwah adalah profesi paling bergengsi di muka bumi karena tugasnya adalah menyambung lidah kekasih Allah untuk menyelamatkan sesama manusia dari kegelapan menuju cahaya iman.

Beliau memaparkan realita kontradiktif umat Islam di Indonesia saat ini. Meskipun Indonesia memiliki jumlah masjid dan pesantren terbanyak di dunia, namun kualitas ketaatan secara kolektif masih menjadi tantangan besar. Berdasarkan data yang ia sampaikan, tingkat partisipasi salat Subuh berjamaah di masjid secara nasional baru mencapai angka yang sangat minim, yakni hanya sekitar 2% saja.

Ustadz Fadlan menekankan bahwa kunci keberhasilan dakwah bukanlah terletak pada tingginya ilmu semata, melainkan pada keluhuran akhlak atau karakter. Beliau mengingatkan bahwa Islam adalah agama yang harus masuk ke setiap rumah, baik yang terbuat dari kayu maupun batu, dengan cara yang bijaksana (al-hikmah) dan nasihat yang baik, bukan dengan kekerasan atau kata-kata kasar.

Salah satu kisah paling menggetarkan yang ia bagikan adalah saat ia berusaha mendekati seorang pendeta di Papua. Dengan penuh kesabaran, Ustadz Fadlan mendatangi rumah sang pendeta setiap pagi selama dua bulan berturut-turut meskipun selalu ditolak dan dimaki. Kegigihannya berbuah manis saat sang pendeta jatuh sakit; Ustadz Fadlan menjadi orang pertama yang menjenguk dengan membawa buah-buahan, yang akhirnya membukakan pintu hati keluarga tersebut untuk memeluk Islam.

Tak hanya melalui lisan, dakwah yang dilakukan Ustadz Fadlan juga menyentuh aspek kebutuhan sosial. Beliau menceritakan bagaimana pemberian sederhana seperti sandal ukuran besar atau kasur pompa bagi tokoh adat di pedalaman dapat menjadi jembatan hidayah. Baginya, memenuhi janji dan memahami kebutuhan masyarakat adalah bagian dari strategi dakwah yang efektif dan membumi.

Bagi Ustadz Fadlan, jeruji besi penjara pun tidak menjadi penghalang untuk menjalankan tugas sebagai “PNS”. Beliau menceritakan pengalamannya berkali-kali ditangkap dan dipenjara karena aktivitas dakwahnya. Namun, alih-alih menyerah, ia justru menjadikan penjara sebagai ladang dakwah baru dan berhasil mengislamkan ratusan narapidana di dalamnya sebelum akhirnya dibebaskan.

Dalam kajian ini, ia juga menyoroti pentingnya peran pengurus lingkungan seperti ketua RT dan RW dalam memperkuat basis dakwah. Ia mengusulkan gerakan untuk memantau warga yang salat Subuh ke masjid dan membantu mereka yang belum bisa membaca Al-Qur’an. Dakwah berbasis komunitas inilah yang menurutnya akan mampu membangkitkan kualitas umat secara signifikan.

Menyambut Hari Mualaf Dunia yang jatuh pada tanggal 25 Desember, Ustadz Fadlan memberikan pesan khusus bagi para mualaf di bawah binaan Masjid Al Falah. Ia berharap para mualaf tidak hanya berhenti pada status sebagai orang yang dibina, tetapi harus segera bertransformasi menjadi kader-kader pendakwah yang mampu mewarnai lingkungan mereka dengan nilai-nilai keislaman.

Kajian ini juga memberikan pencerahan mengenai dialog antarumat beragama. Ustadz Fadlan berbagi pengalaman saat berdiskusi dengan para pemuka agama lain mengenai sosok Bunda Maria dan Nabi Isa (Yesus) dari perspektif Al-Qur’an. Ia menekankan bahwa menjelaskan kebenaran dengan tenang dan cerdas jauh lebih efektif daripada menyalahkan keyakinan orang lain secara frontal.

Sebagai penutup, Ustadz Fadlan mengajak seluruh jamaah untuk tidak pernah bosan dalam mengajak kepada kebaikan. Meskipun dakwah seringkali dihadapi dengan cibiran atau kebencian, seorang “Pegawai Nabi” harus tetap istikamah dan membalasnya dengan doa. Kajian ini diakhiri dengan doa syahdu bagi kebaikan bangsa Indonesia dan kemakmuran masjid-masjid sebagai pusat peradaban umat.

Sumber: Kajian Akbar MCF Masjid Al Akbar Surabaya oleh Ustadz KH. M.Z. Fadlan Rabbani Al Garamatan dengan Tema “Dakwah PNS Bergengsi”

E-Buletin