Kabarmasjid.id, Surabaya – Memahami pilar-pilar keimanan merupakan fondasi mendasar bagi setiap muslim dalam mengarungi kehidupan dunia dan mempersiapkan diri menghadapi kehidupan akhirat. Salah satu rukun yang memegang peranan krusial dalam mengarahkan tata cara beragama adalah kepercayaan penuh terhadap utusan-utusan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Melalui rekaman kajian yang diunggah pada Senin, 20 Juli 2026, Ustadz Fuad Baswedan, M.Pd.I. menyampaikan materi mengenai pilar keimanan ini dalam kajian rutin Kitab Aqidah Wasithiyah yang diselenggarakan secara luring di Masjid Syafi’i Surabaya serta disiarkan melalui saluran YouTube Masjid Syafi’i Surabaya Chanel.
Dalam pembukaan kajiannya, Ustadz Fuad menegaskan bahwa beriman kepada para rasul merupakan rukun iman keempat yang memiliki kedudukan sama pentingnya dengan rukun-rukun lainnya. Seseorang yang memisahkan keimanan kepada Allah dengan penolakan terhadap para utusan-Nya secara otomatis membatalkan keislamannya. Keyakinan ini menuntut pengakuan jujur tanpa ragu bahwa Allah telah memilih orang-orang terbaik untuk menyampaikan risalah langit kepada umat manusia.
Hal mendasar yang digarisbawahi dalam kajian tersebut adalah prinsip bahwa mendustakan satu nabi atau rasul sama halnya dengan mendustakan seluruh rasul yang pernah diutus ke muka bumi. Ustadz Fuad menyampaikan ayat-ayat Al-Qur’an sebagai bukti, seperti kisah kaum Nabi Nuh, kaum ‘Ad, kaum Tsamud, dan penduduk Madyan. Meskipun masyarakat pada zaman tersebut hanya menolak nabi yang diutus kepada kelompok mereka masing-masing, Al-Qur’an memvonis mereka telah mendustakan seluruh para utusan (al-mursalin).
Kesatuan hukum ini terjadi karena fondasi dan pokok ajaran yang dibawakan oleh seluruh nabi dan rasul adalah satu, yaitu dakwah tauhid. Sebagaimana termaktub dalam Surah An-Nahl ayat 36, setiap umat pada setiap zaman senantiasa dikirimkan utusan untuk mengajak manusia beribadah hanya kepada Allah dan menjauhi thaghut. Thaghut didefinisikan sebagai segala sesuatu selain Allah yang disembah atau dipertuhankan oleh manusia dengan kerelaan.
Kajian ini juga meluruskan anggapan umum terkait jumlah nabi dan rasul yang sering dianggap hanya berjumlah 25 orang. Berdasarkan riwayat hadits dari sahabat Abu Dzar Radhiyallahu ‘Anhu, jumlah nabi sebenarnya mencapai 124.000 orang, sementara jumlah rasul berkisar antara 313 hingga 315 orang. Angka 25 nabi yang populer merupakan mereka yang nama-namanya disebutkan secara eksplisit dalam Al-Qur’an dan hadits, sedangkan mayoritas utusan lainnya tidak diceritakan secara terperinci.
Pentingnya ajaran tauhid yang diusung para rasul tefleksikan dari beratnya perjuangan yang mereka hadapi di lapangan. Nabi Muhammad Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, yang sebelumnya sangat dicintai dan diberi julukan Al-Amin oleh masyarakat Quraisy, seketika dimusuhi dan dimusuhi secara masif begitu menyerukan kalimat Laa ilaaha illallah di Bukit Safa. Penolakan keras tersebut terjadi karena ajaran tauhid menuntut penghapusan segala bentuk penyembahan berhala dan tradisi kesyirikan.
Ketauhidan yang murni membawa konsekuensi keselamatan yang sangat besar bagi seorang hamba di hari pembalasan kelak. Dalam kesempatan tersebut, dipaparkan kisah mengenai Bithaqah atau kartu tauhid, di mana seorang hamba yang memiliki 99 lembar catatan dosa seluas mata memandang dapat terampuni dan diselamatkan dari siksa neraka hanya karena memiliki satu kartu berisikan persaksian tauhid yang ikhlas dan bersih dari perbuatan syirik.
Selain itu, dijelaskan pula mengenai keutamaan golongan istimewa yang dijamin masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab yang berjumlah 70.000 orang dari umat Nabi Muhammad. Kriteria utama dari golongan ini terletak pada tingkatan tawakal dan pemurnian tauhid mereka yang sangat tinggi. Mereka menghindari praktik-praktik yang dapat mengikis kepercayaan penuh kepada Allah, seperti meminta-minta untuk diruqyah, menggunakan pengobatan dengan besi panas (kai), serta terbebas dari sikap tatathayyur atau merasa sial atas pertanda musim dan hewan.
Guna memperjelas pemahaman jamaah, Ustadz Fuad juga membedakan makna etimologis dari kata Nabi dan Rasul. Kata Nabi berakar dari kata an-naba’, yang berarti membawa berita besar mengenai keagungan Allah dan urusan hari kiamat (yaumul hasrah). Sementara itu, kata Rasul berasal dari risalah, yang berarti utusan yang membawa surat atau amanah hukum syariat untuk disampaikan kepada suatu kaum.

Di akhir pemaparannya, Ustadz Fuad mengingatkan agar umat Islam tidak tertipu oleh pandangan-pandangan deviatif yang mencoba merusak hierarki keimanan. Dalam ajaran Islam yang lurus, tingkatan manusia tertinggi di sisi Allah diduduki oleh para Rasul, kemudian Nabi, dan selanjutnya para wali atau hamba-hamba yang saleh. Paham yang menempatkan derajat wali di atas nabi merupakan kekeliruan nyata yang menyelesihi petunjuk Al-Qur’an dan Sunnah.
Kajian kitab Aqidah Wasithiyah ini ditutup dengan ajakan untuk senantiasa meneladani jejak para nabi dalam mempertahankan tauhid di tengah berbagai fitnah zaman. Pemahaman yang benar terhadap rukun iman diharapkan tidak berhenti sebagai pengetahuan teori semata, melainkan tercermin dalam keteguhan sikap, kepasrahan tawakal, serta pembersihan diri dari segala bentuk syirik dan khurafat.
Sumber: Kajian Kitab Aqidah Wasithiyah bertajuk “Iman Kepada Rasul-Nya” oleh Ustadz Fuad Baswedan, M.Pd.I. yang dilaksanakan di Masjid Syafi’i Surabaya pada Senin 20 Juli 2026.