Kabarmasjid.id, Surabaya – Setiap detik yang berlalu dalam kehidupan manusia sejatinya bukanlah sekadar pergantian angka pada jarum jam, melainkan berkurangnya jatah usia yang menandai semakin dekatnya gerbang kematian. Menyadari pentingnya penataan bekal spiritual sebelum ajal menjemput, Majelis Taklim Muslimah Ash-Shoobiriin menggelar Kajian Inspiratif Muslimah bertajuk “Perginya Waktu dan Datangnya Ajal” yang menghadirkan narasumber Ustadzah Evie Silfia Zubaedi di Masjid Ash-Shoobiriin, Selasa 28 Juli 2026.
Dalam pemaparannya, Bunda Evie menekankan bahwa pembahasan mengenai kematian dan alam setelahnya bukanlah topik menakutkan yang harus dihindari, melainkan sebuah pengetahuan mendasar (knowledge) tentang tempat tujuan akhir yang pasti akan dikunjungi oleh setiap manusia. Ia menganalogikan persiapan menuju akhirat seperti seseorang yang hendak melakukan perjalanan ke luar negeri, di mana segala perbekalan, perlengkapan, dan pengetahuan kondisi tempat tujuan harus dipersiapkan dengan matang sejak awal.
Perjalanan waktu hidup manusia di dunia pada hakikatnya merupakan sisa waktu yang terus menyusut dan tidak dapat diputar kembali. Sering kali manusia terjebak dalam kelalaian karena merasa usia masih muda atau tubuh masih dalam kondisi sehat, padahal datangnya ajal tidak pernah disyaratkan oleh faktor usia maupun riwayat penyakit.
Ketika sakaratul maut tiba dan ajal menjemput, seluruh kepemilikan duniawi yang selama ini diperjuangkan secara mati-matian akan terlepas seketika. Pasangan hidup, anak-anak tercinta, harta kekayaan, hingga jabatan serta status sosial yang membanggakan tidak ada satu pun yang dapat menyertai seseorang ke dalam liang kubur.
Oleh sebab itu, harta kekayaan yang dimiliki di dunia harus dikelola secara cerdas melalui infak dan sedekah selagi nyawa masih dikandung badan. Harta yang ditinggalkan tanpa dimanfaatkan untuk jalan kebaikan hanya akan menjadi warisan bagi orang lain, sementara pemilik aslinya kehilangan kesempatan untuk menjadikannya sebagai penyelamat di alam akhirat.
Alam kubur sendiri merupakan pintu gerbang pertama serta tempat transit utama menuju kehidupan akhirat yang penuh pertanggungjawaban. Keadaan di dalam kubur bisa menjadi salah satu dari dua pilihan yang sangat ekstrem, yakni menjadi bagian dari taman-taman surga yang menenteramkan atau justru menjadi lorong dari siksaan neraka yang sangat pedih.
Bunda Evie mengingatkan kenyataan adanya pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir serta siksa kubur bagi hamba-hamba yang lalai dalam menjalankan perintah agama. Keberadaan anak-anak shalih yang senantiasa mendoakan orang tuanya di sepertiga malam menjadi salah satu sebab datangnya ampunan Allah SWT yang mampu mengubah kondisi kubur dari siksaan menjadi kenikmatan.
Setelah fase alam kubur berakhir, manusia akan menghadapi tahapan hari kebangkitan (Yaumul Ba’ats) dan dihimpun di Padang Mahsyar dalam jangka waktu yang sangat panjang hingga puluhan ribu tahun. Pada fase ini, seluruh amal perbuatan manusia semasa hidup di dunia akan diperhitungkan melalui pembagian buku catatan amal, penimbangan Mizan, serta melintasi jembatan Sirat.
Untuk melintasi seluruh tahapan tersebut dengan selamat, Islam telah menyediakan panduan dan kerangka cara hidup yang komprehensif, yang berlandaskan pada tiga pilar utama: iman, syariah, dan akhlak. Pilar pertama, yaitu iman, berperan sebagai sumber motivasi dan fondasi pembentuk ketahanan jiwa agar seorang muslim tidak mudah berputus asa, baper, atau goyah saat menghadapi ujian hidup.
Pilar kedua adalah syariah, yakni kepatuhan terhadap aturan halal dan haram serta pelaksanaan perintah wajib maupun sunnah dalam kehidupan sehari-hari. Dalam poin ini, perhatian ekstra harus diberikan pada kehalalan rezeki yang dibawa pulang ke rumah, karena makanan dan pakaian yang bersumber dari harta haram dapat menjadi penghalang terkabulnya doa-doa keluarga.
Sementara itu, pilar ketiga adalah akhlak, di mana setiap muslim dituntut untuk meneladani perilaku dan sifat Rasulullah SAW dalam berinteraksi dengan Allah SWT, sesama manusia, maupun lingkungan sekitar. Meneladani Nabi Muhammad SAW tidak sekadar ucapan di bibir, melainkan diwujudkan melalui sifat pemaaf, ketulusan dalam memberi, serta pemanfaatan waktu secara bijak.

Kajian inspiratif ini diakhiri dengan pesan mendalam agar setiap jamaah tidak hanya menyerap ilmu tersebut untuk diri sendiri, tetapi juga membagikannya kepada keluarga di rumah. Dengan menjadikan iman, syariah, dan akhlak sebagai pedoman hidup harian, setiap muslim diharapkan mampu memanfaatkan sisa waktunya dengan optimal hingga meraih muara terbaik berupa kemuliaan husnul khatimah.
Sumber: Kajian Inspiratif Muslimah bertajuk “Perginya Waktu dan Datangnya Ajal” bersama Ustadzah Ustadzah Evie Silfia Zubaedi di Masjid Ash-Shoobiriin pada Selasa 28 Juli 2026.