Menghidupkan Kembali Dzikir dalam Setiap Detik Kehidupan

Kajian Ba'da Maghrib di Masjid Al Falah Surabaya oleh Ustadz Drs. H. M. Taufiq AB
Kajian Ba'da Maghrib di Masjid Al Falah Surabaya oleh Ustadz Drs. H. M. Taufiq AB

Bagikan postingan :

KabarMasjid.id, Surabaya – Di tengah derasnya arus modernisasi, hati manusia seringkali terombang-ambing antara tuntutan dunia dan kebutuhan spiritual yang mendasar. Kita mencari kedamaian di tempat yang salah, padahal kunci sejati ketenangan terletak pada dzikir, mengingat Allah. Fenomena tentang bagaimana spiritualitas—khususnya kesadaran akan Allah dalam setiap aktivitas—kian terlupakan, menjadi sorotan utama dalam Kajian Ba’da Maghrib disampaikan oleh Ustadz Drs. H. M. Taufiq AB pada Senin 6 Oktober 2025 di Masjid Al Falah Surabaya. Ustadz Taufiq menyerukan agar kita meninjau kembali prioritas spiritual dan menghidupkan kembali nafas zikir untuk menciptakan kehidupan yang benar-benar bernuansa ilahi.

Seruan tersebut menyiratkan sebuah realitas pahit: kita terlalu sibuk mengejar bayangan dunia hingga melupakan tujuan utama keberadaan kita. Akibatnya, dzikir, yang seharusnya menjadi fondasi, justru tergeser ke posisi amalan sisa-sisa waktu.

Seringkali, kita menyempitkan makna dzikir hanya pada pengucapan lisan, seperti tasbih (Subhanallah), tahmid (Alhamdulillah), dan tahlil (Laa ilaaha illallah), yang dilakukan dalam waktu-waktu tertentu. Tentu, amalan-amalan verbal ini sangat mulia dan dianjurkan, tetapi dzikir sejati jauh melampaui batas-batas tersebut.

Hakikat “dzikir” adalah kehadiran hati (hudhur al-qalb). Ia adalah kesadaran berkelanjutan bahwa Allah Maha Melihat dan Maha Mengetahui, sebuah kesadaran yang membentuk setiap keputusan, tindakan, dan bahkan pikiran kita. Dzikir adalah ketika seorang pedagang bersikap jujur karena ia ingat pengawasan Allah, atau ketika seorang pekerja profesional tekun karena tahu bahwa pekerjaannya adalah ibadah.

Mewujudkan hidup bernuansa dzikir berarti mengintegrasikannya ke dalam setiap sendi kehidupan, dari yang paling pribadi hingga yang paling publik. Dzikir harus menjadi panduan moral dan etika dalam berinteraksi dengan sesama, memastikan bahwa setiap langkah yang diambil tidak melanggar batasan syariat.

Integrasi ini dimulai dari rutinitas harian. Ketika bangun tidur, hendaknya lisan dan hati kita segera memuji Allah yang telah memberi kesempatan hidup kembali. Saat mulai bekerja atau menuntut ilmu, dzikir terwujud dalam bentuk ihsan—berbuat yang terbaik—sebab kita merasa diawasi dan dituntut profesionalitas sebagai bentuk ketaatan.

Ketika menghadapi kesulitan atau musibah, dzikir menjelma menjadi sabar dan keyakinan teguh bahwa Laa hawla wa laa quwwata illaa billah (Tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah). Keyakinan ini menghilangkan keputusasaan dan mengarahkan hati kembali pada Sumber segala kekuatan.

Lantas, mengapa kehidupan bernuansa dzikir ini banyak terabaikan? Salah satu penyebab utamanya adalah dominasi dunia materi. Obsesi terhadap pencapaian fisik, status, dan kebutuhan duniawi membuat kita menempatkan dzikir sebagai amalan sisa-sisa waktu, bukan sebagai prioritas utama yang harus selalu hadir.

Selain itu, distraksi media digital dan arus informasi yang tak henti juga berperan besar. Hati kita menjadi terlalu penuh dengan kebisingan dunia, sehingga sulit menemukan ruang hening untuk mengingat Allah. Keterlupaan (ghaflah) menjadi penyakit spiritual kronis yang merenggut ketenangan jiwa.

Padahal, buah dari kehidupan yang dihiasi dzikir adalah ketenangan jiwa yang abadi dan tak tergantikan oleh kekayaan duniawi manapun. Allah berfirman, “Hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” Dzikir adalah penawar paling ampuh bagi kegelisahan, stres, dan kecemasan yang melanda manusia modern.

Selain ketenangan batin, dzikir juga memperkuat koneksi kita dengan Allah, membuka pintu rezeki spiritual dan keberkahan yang tak terduga. Ketika kita mengingat-Nya dalam keadaan lapang, Dia akan mengingat kita dengan rahmat dan pertolongan-Nya dalam keadaan sempit, sebuah pertukaran ilahi yang menguntungkan di dunia dan akhirat.

Oleh karena itu, mari kita jadikan tema kajian ini sebagai momentum untuk bangkit. Mulailah hari ini dengan komitmen baru: bukan hanya menambah jumlah bacaan dzikir, tetapi mengubah nuansa hidup. Jadikan setiap gerak dan diam, setiap niat dan tindakan, sebagai manifestasi dzikir, agar hidup kita menjadi cermin dari kesadaran penuh akan kehadiran Allah, menghilangkan status “terabaikan” dari salah satu amalan paling mulia ini.

Sumber: Kajian Ba’da Maghrib oleh Ustadz Drs. H. M. Taufiq di Channel Youtube Masjid Al Falah Surabaya

E-Buletin