Kabarmasjid.id, Surabaya – Seringkali kita terjebak dalam rutinitas ibadah yang terasa hambar dan mekanis. Gerakan salat dilakukan, namun pikiran melayang entah ke mana, atau lisan berzikir tapi hati tak merasa. Untuk membedah persoalan ini, penting bagi kita menelaah kembali konsep tafakur sebagai mesin penggerak kualitas iman seseorang.
Penjelasan mendalam mengenai hal ini disampaikan oleh Ustadz H. Ahmad Muzakki Alhafidz dalam sesi pengajian Kitab Nashaihul Ibad edisi 9 Februari 2026 yang berlangsung di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya. Dalam maqalah ke-15 tersebut, narasumber menekankan bahwa ibadah tanpa landasan berpikir atau perenungan tidak akan memberikan dampak transformasi yang besar bagi jiwa seorang hamba.
Di awal pemaparannya, Ustadz Muzakki mengutip pesan mendalam dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib yang menyatakan bahwa tidak ada ibadah yang lebih utama daripada tafakur. Tafakur diposisikan sebagai fondasi utama karena melalui proses berpikirlah, seseorang bisa benar-benar mengenal siapa penciptanya dan apa hakikat dari setiap syariat yang ia jalankan.
Lebih lanjut, dijelaskan bahwa para arifin atau orang-orang bijak mengibaratkan tafakur sebagai cahaya atau lentera bagi hati. Tanpa tafakur, batin manusia akan berada dalam kegelapan total, di mana ia tidak mampu membedakan antara kebenaran dan kebatilan secara mendalam. Cahaya inilah yang menuntun seorang mukmin untuk melihat melampaui apa yang tampak oleh mata lahiriah.
Hal yang paling mengejutkan dalam kajian ini adalah penekanan pada nilai waktu tafakur yang sangat fantastis. Mengutip sebuah khabar, Ustadz Muzakki menyebutkan bahwa bertafakur selama satu jam saja jauh lebih baik daripada melakukan ibadah selama 60 tahun tanpa perenungan. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas pemahaman jauh lebih dihargai di sisi Allah daripada kuantitas ritual semata.
Ustadz Muzakki kemudian merinci objek apa saja yang harus kita tafakuri, dimulai dari hal terdekat yaitu doa-doa dalam salat kita sendiri. Beliau mengajak jemaah untuk mulai merenungi makna di balik bacaan subhana rabbiyal a’la atau doa ifititah agar salat tidak lagi sekadar menjadi gerak raga, melainkan menjadi dialog batin yang hidup antara hamba dan Tuhan.
Selain ibadah mahdhah, kita juga diminta untuk memperhatikan ayat-ayat kauniyah yang ada di alam semesta. Mulai dari penciptaan langit yang luas, pergantian siang dan malam, hingga mekanisme tumbuhnya biji-bijian di tanah. Semuanya adalah tanda-tanda kebesaran Allah yang sengaja disediakan untuk dianalisis oleh akal manusia yang sehat.
Tidak berhenti di alam makro, tafakur juga harus diarahkan ke dalam diri sendiri atau anfusikum. Narasumber memberikan contoh sederhana namun menyentuh tentang bagaimana Allah mendesain sendi-sendi jari manusia atau kelopak mata yang bekerja secara otomatis. Kesadaran akan detail-detail kecil pada tubuh ini seharusnya melahirkan rasa syukur yang luar biasa dan pengakuan akan kemahakuasaan-Nya.
Namun, Ustadz Muzakki ini juga memberikan rambu-rambu yang sangat ketat mengenai batasan dalam berpikir. Umat Islam dilarang keras bertafakur tentang zat Allah atau membayangkan bagaimana rupa Tuhan. Hal ini dikarenakan akal manusia memiliki keterbatasan, dan mencoba memvisualisasikan Zat Tuhan hanya akan berujung pada kesesatan karena Allah tidak serupa dengan makhluk apa pun.
Selain tentang kebesaran penciptaan, narasumber juga mengingatkan pentingnya bertafakur mengenai akhir perjalanan hidup, yakni kematian dan hari kiamat. Dengan merenungi dahsyatnya peristiwa kiamat dan kesunyian alam kubur, seseorang diharapkan akan tumbuh rasa takut yang positif (khauf) yang kemudian mendorongnya untuk memperbaiki kualitas hidup di dunia.
Kajian ini juga menyentuh aspek psikologis di mana tafakur dapat membantu menghadirkan hati (hudurul qolbi) dalam setiap zikir yang diucapkan. Zikir yang disertai tafakur akan terasa jauh lebih dalam dan bergetar di hati, berbeda dengan zikir yang hanya sekadar basah di bibir namun pikiran terdistraksi oleh urusan duniawi yang fana.
Sebagai penutup, Ustadz Muzakki mengingatkan bahwa saat ini kita berada di penghujung bulan Sya’ban menuju Ramadan. Momen ini adalah waktu yang paling tepat untuk memperbanyak tafakur dan membersihkan batin sebagai bentuk persiapan mental. Dengan hati yang terang oleh cahaya tafakur, diharapkan kita dapat memasuki bulan suci dengan kesadaran penuh dan meraih derajat ketakwaan yang hakiki.
Sumber: Kajian kitab Nashaihul Ibad (maqalah ke-15) yang disampaikan oleh Ustadz H. Ahmad Muzakki Alhafidz di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya