Kabarmasjid.id, Surabaya – Ibadah puasa di bulan Ramadan bukan sekadar menahan haus dan lapar, melainkan sebuah madrasah spiritual yang kurikulumnya telah disusun rapi oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an. Melalui untaian ayat-ayat suci, tersimpan motivasi mendalam yang mengajak setiap Muslim untuk mengenali jati dirinya di hadapan Sang Khalik. Kajian Subuh yang berlangsung pada Sabtu, 28 Februari 2026, di Masjid Al Falah Surabaya menghadirkan Ustadz M. Junaidi Sahal, M.Ag. sebagai narasumber untuk membedah rahasia di balik ayat-ayat puasa tersebut.
Ustadz Junaidi mengawali pembahasannya dengan memaparkan keunikan struktur ayat puasa dalam Al-Qur’an dibandingkan dengan ayat ibadah lainnya. Jika ayat tentang salat, zakat, atau haji cenderung tersebar di berbagai surat, maka ayat mengenai puasa Ramadan terkumpul secara sistematis dalam satu klaster yang berurutan. Klaster ini terletak pada Surah Al-Baqarah ayat 183 hingga 187, yang memberikan gambaran utuh mengenai syariat puasa dalam satu tempat.
Dari sisi sejarah atau tarikh nuzul, lima ayat tersebut ternyata tidak diturunkan secara sekaligus, melainkan bertahap sesuai dengan kondisi umat saat itu. Ayat 183 hingga 185 yang memuat kewajiban puasa diturunkan pada awal bulan Sya’ban tahun kedua Hijriah. Penurunan ini bertepatan dengan momen pengalihan arah kiblat, menandakan bahwa puasa adalah bagian dari fondasi baru identitas umat Islam yang sedang dibangun di Madinah.
Menariknya, ayat 186 tentang kedekatan Allah justru turun saat suasana mencekam di tengah berkecamuknya Perang Badar pada bulan Ramadan. Saat itu, para sahabat berada dalam kondisi fisik yang lemah akibat puasa pertama mereka di tengah musim panas yang menyengat, namun harus menghadapi musuh yang berjumlah jauh lebih besar. Di momen ujian terberat itulah, Allah memberikan motivasi tentang kekuatan doa dan kehadiran-Nya yang sangat dekat.
Ustadz Junaidi menyoroti gaya bahasa unik pada ayat 186, di mana Allah tidak menggunakan kata perintah “Qul” atau “Katakanlah” kepada Nabi Muhammad. Biasanya, jika sahabat bertanya tentang hukum atau fenomena alam, Allah memerintahkan Nabi untuk menjawabnya. Namun, ketika para sahabat bertanya tentang di mana Allah, Allah langsung menjawab sendiri dengan kalimat “Sesungguhnya Aku dekat,” tanpa melalui perantara Nabi sekalipun.
Hal ini menjadi isyarat bahwa dalam urusan doa dan penghambaan, tidak ada sekat atau protokol yang rumit antara manusia dengan Tuhannya. Doa adalah jalur komunikasi informal namun sangat sakral yang bisa ditembus oleh siapa saja, kapan saja, terutama di bulan Ramadan. Kedekatan yang digambarkan dalam ayat ini menjadi suntikan semangat bagi mereka yang merasa berat menjalankan ibadah, bahwa Allah menyimak setiap rintihan hamba-Nya.
Lebih lanjut, kajian ini membahas ayat 187 yang berkaitan dengan keringanan dan batasan selama malam hari di bulan puasa. Pada awal syariat, para sahabat mengira bahwa setelah tidur di malam hari, mereka sudah tidak boleh lagi makan atau berhubungan suami istri hingga waktu berbuka esoknya. Hal ini menyebabkan beberapa sahabat merasa sangat terbebani dan bahkan merasa berdosa karena tidak sengaja melanggar anggapan tersebut.
Ustadz Junaidi menjelaskan bahwa perasaan berdosa yang dialami sahabat seperti Sayyidina Umar bin Khattab lahir dari keyakinan pikiran mereka sendiri. Allah kemudian menurunkan ayat 187 untuk meluruskan pemahaman tersebut dan menyatakan bahwa kegiatan tersebut halal dilakukan di malam hari. Kalimat “Allah menerima taubatmu” dalam ayat tersebut menunjukkan betapa Allah menghargai niat tulus hamba-Nya yang ingin patuh meski dilandasi ketidaktahuan.
Penafsiran ini membawa kita pada sebuah kaidah penting bahwa pikiran dan keyakinan memiliki pengaruh besar terhadap status hukum seorang hamba di mata Allah. Jika seseorang melakukan sesuatu yang ia yakini haram padahal aslinya halal, maka ia tetap mendapatkan nilai dosa karena keberaniannya melanggar batas yang ia yakini. Sebaliknya, Allah memberikan maaf bagi mereka yang melakukan kesalahan karena benar-benar tidak mengetahui syariatnya.

Oleh karena itu, Ustadz Junaidi menekankan pentingnya proses tabayyun atau meneliti kebenaran hukum sebelum bertindak. Umat Islam diajarkan untuk tidak asal mengikuti prasangka, melainkan harus berlandaskan ilmu agar ibadah yang dijalankan sesuai dengan tuntunan. Rasa ragu harus dijawab dengan bertanya kepada ahli ilmu, sehingga pikiran kita selaras dengan syariat yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.
Kajian ini ditutup dengan motivasi agar setiap Muslim membangun husnuzan atau prasangka baik kepada Allah melalui kekuatan pikiran yang positif. Dengan meyakini bahwa Allah selalu dekat dan maha mendengar, setiap kesulitan dalam menjalankan ibadah puasa akan terasa lebih ringan. Keikhlasan dalam beribadah pun akan tumbuh seiring dengan pemahaman kita yang mendalam terhadap hikmah di balik setiap ayat-ayat-Nya.
Sumber: Kajian Subuh di Masjid Al Falah Surabaya bersama Ustadz M. Junaidi Sahal, M.Ag. Materi kajian berfokus pada motivasi di balik ayat-ayat puasa yang terdapat dalam Al-Qur’an.