Menggapai Pahala Berlipat Ganda Melalui Amalan Utama di Hari Asyura

Habib Ahmad Yunus Al-Muhdhor
Habib Ahmad Yunus Al-Muhdhor

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Surabaya – Bulan Muharram selalu hadir membawa atmosfer spiritual yang kental bagi umat Islam di seluruh penjuru dunia. Sebagai momen pembuka dalam kalender Hijriah, bulan ini bukan sekadar pergantian angka tahun, melainkan momentum emas untuk merefleksikan diri sekaligus memanen pahala melalui berbagai amalan yang dianjurkan oleh Rasulullah ﷺ. Salah satu puncak keutamaan di bulan mulia ini terletak pada hari Asyura, sebuah hari yang menyimpan jejak sejarah keselamatan para nabi terdahulu dan dipenuhi dengan limpahan rahmat serta ampunan dari Allah SWT.

Untuk mengupas tuntas kemuliaan tersebut, Masjid Nur Syamsiah menggelar Pengajian Rutin pada hari Rabu, 17 Juni 2026, dengan menghadirkan narasumber utama, Habib Ahmad Yunus Al-Muhdhor. Dalam kajian yang berlangsung khidmat ini, beliau mengajak seluruh jemaah untuk tidak melewatkan kesempatan emas di awal tahun baru Islam dengan membuka lembaran hidup baru melalui aktivitas ibadah yang maksimal. Momentum pergantian tahun harus ditutup dan dibuka dengan kebaikan agar memutus rantai godaan iblis yang telah mengintai manusia sepanjang tahun.

Dalam pemaparannya, Habib Ahmad Yunus menekankan bahwa bulan Muharram merupakan salah satu Syahrullah atau bulannya Allah yang memiliki kedudukan sangat istimewa. Beliau mengutip anjuran para ulama terdahulu untuk memperbanyak ibadah puasa, bahkan jika mampu sejak tanggal satu hingga akhir bulan Muharram. Berpuasa di bulan ini menempati peringkat tertinggi sebagai puasa sunah terbaik setelah puasa wajib di bulan Ramadan, di mana ganjaran satu hari berpuasa di bulan Muharram setara dengan pahala tiga puluh hari berpuasa di waktu-waktu biasa.

Secara khusus, fokus kajian diarahkan pada pentingnya puasa pada hari Asyura yang jatuh pada tanggal 10 Muharram, yang memiliki fadhilah luar biasa yakni dapat menghapuskan dosa-dosa setahun yang lalu. Sejarah mencatat bahwa ketika Rasulullah ﷺ hijrah ke kota Madinah, beliau mendapati kaum Yahudi juga berpuasa pada hari tersebut sebagai bentuk syukur atas diselamatkannya Nabi Musa AS dari kejaran Firaun. Menanggapi hal itu, Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa umat Islam jauh lebih berhak untuk menghormati dan meneladani ajaran Nabi Musa AS dibandingkan kaum Yahudi.

Namun, demi membedakan tata cara ibadah umat Islam dengan kaum Yahudi, Rasulullah ﷺ kemudian memerintahkan para sahabat untuk tidak hanya berpuasa pada tanggal 10 Muharram saja. Umat Islam dianjurkan untuk menggandengnya dengan hari sebelum atau sesudahnya, yaitu pada tanggal 9 Muharram (hari Tasu’a) dan tanggal 11 Muharram. Habib Ahmad Yunus menjelaskan bahwa formasi ibadah yang paling sempurna dan paling afdal adalah melaksanakan puasa secara utuh selama tiga hari berturut-turut, yakni dari tanggal 9, 10, hingga 11 Muharram.

Lebih lanjut, beliau mengutip mutiara hikmah dari kitab Ruhul Bayan karya Imam Ismail Al-Haqqi mengenai tingkatan keutamaan waktu. Di dalam ajaran Islam, terdapat lima waktu utama di mana segala bentuk amal saleh nilainya akan dilipatgandakan secara masif melebihi waktu-waktu lainnya dalam setahun. Kelima waktu sakral tersebut adalah bulan Ramadan, hari Jumat, malam Lailatul Qadar, sepuluh hari pertama di bulan Zulhijah, dan hari Asyura itu sendiri. Oleh karena itu, beribadah pada momen-momen ini mendatangkan keuntungan pahala yang berlipat ganda bagi seorang mukmin.

Di samping ibadah puasa, salah satu amalan penting yang sangat ditekankan dalam kajian ini adalah pembacaan Doa Asyura secara berjamaah. Habib Ahmad Yunus menganjurkan agar doa ini dibaca setelah melaksanakan salat Asar pada tanggal 10 Muharram. Pada waktu tersebut, pintu langit terbuka lebar dan sinyal spiritual untuk pengabulan doa menjadi sangat kuat, sehingga menjadi kerugian yang amat besar bagi seorang hamba jika memalingkan diri dari berzikir dan memohon kepada Allah pada saat-saat mustajab tersebut.

Keutamaan hari Asyura juga tidak lepas dari anjuran untuk menghidupkan malamnya dengan penuh kekhusyukan ibadah. Beliau menjelaskan sebuah riwayat yang mengibaratkan bahwa pada malam Asyura, kebaikan dan keberkahan dicurahkan dari langit secara deras bagaikan air yang tumpah, serupa dengan malam Idul Fitri, Idul Adha, dan Nifsu Sya’ban. Jemaah diimbau untuk menjaga salat Isya dan Subuh secara berjamaah sebagai standar minimal, serta meluangkan waktu untuk bangun di sepertiga malam demi melaksanakan salat sunah dan bermunajat.

Selain hubungan vertikal dengan sang Pencipta (hablum minallah), hari Asyura juga menjadi momen penting untuk memperkuat hubungan horizontal sesama manusia (hablum minannas), khususnya melalui penyantunan anak yatim. Habib Ahmad Yunus mengingatkan bahwa hari Asyura sering kali diidentikkan dengan bulannya anak yatim karena besarnya pahala mengusap kepala dan memberi kebahagiaan kepada mereka. Setiap helai rambut anak yatim yang diusap dengan penuh kasih sayang akan menaikkan derajat seorang hamba di surga sekaligus menjadi pelebur dosa-dosanya.

Terkait pelaksanaan santunan anak yatim, sang narasumber memberikan catatan kritis yang sangat mendalam mengenai adab dan etika penyerahan bantuan. Beliau menegaskan agar jemaah memberikan penghormatan tertinggi kepada anak-anak yatim dengan menempatkan mereka di posisi paling depan, bukan justru menaruh mereka di barisan belakang dalam suatu acara. Santunan yang diberikan pun sebaiknya bersifat substansial untuk mendukung masa depan mereka, seperti pemenuhan biaya sekolah, dan sebisa mungkin menghindari publikasi kamera atau syuting demi menjaga ketulusan niat serta harga diri sang anak.

Amalan sosial lainnya yang mendatangkan ganjaran tidak kalah dahsyat adalah memberikan hidangan berbuka puasa (iftar) kepada sesama di hari Asyura. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa barang siapa yang memberikan makan kepada orang yang berpuasa atau bersedekah makanan pada hari Asyura, pahalanya dilipatgandakan seolah-olah ia telah memberi makan kepada seluruh umat Nabi Muhammad ﷺ hingga kenyang. Hal ini membuktikan betapa indahnya ajaran Islam yang selalu menyelaraskan kesalehan ritual individu dengan kepedulian sosial terhadap lingkungan sekitar.

Sebelum mengakhiri kajian, Habib Ahmad Yunus membuka sesi tanya jawab interaktif untuk merespons realitas kehidupan masyarakat sehari-hari, termasuk mengenai tradisi budaya lokal seperti pencucian benda pusaka atau keris yang kerap dilakukan pada bulan Suro atau Muharram. Beliau menjelaskan bahwa melakukan aktivitas budaya tersebut hukumnya diperbolehkan dalam Islam, asalkan murni sebagai bentuk perawatan barang dan sama sekali tidak dicampuri oleh unsur kesyirikan, seperti meyakini benda tersebut memiliki kekuatan gaib mandiri atau memelihara khodam jin, sehingga kemurnian akidah umat tetap terjaga seutuhnya.

Sumber: Pengajian Rutin Habib Ahmad Yunus Al-Muhdhor di Masjid Nur Syamsiah Surabaya pada, Rabu 17 Juni 2026.

E-Buletin